KETIK, JAKARTA – Pemerintah Inggris mengimbau setiap warga menyiapkan persediaan darurat berupa air minum dan makanan yang cukup untuk bertahan selama tiga hari atau 72 jam. Imbauan ini menjadi bagian dari kampanye “Be Ready” yang dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai keadaan darurat, mulai dari cuaca ekstrem hingga serangan siber.

Melalui kampanye yang dikoordinasikan Kantor Kabinet Inggris tersebut, masyarakat didorong menyimpan sedikitnya sembilan liter air minum per orang serta makanan yang cukup untuk tiga hari. Pemerintah menilai persiapan sederhana di tingkat rumah tangga dapat membantu masyarakat menghadapi gangguan layanan penting sebelum bantuan atau kondisi normal kembali tersedia.

Menteri Keamanan Inggris, Dan Jarvis, mengatakan warga yang mampu mengikuti anjuran tersebut sebaiknya mulai mempersiapkan diri. Menurut dia, langkah-langkah sederhana untuk menghadapi keadaan darurat sehari-hari merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

"Siapa pun yang bisa mengikuti arahan ini diharapkan menjalankannya," ujar Jarvis, dilansir dari The Guardian. 

Selain air dan makanan, masyarakat disarankan menyimpan selimut, uang tunai, kotak pertolongan pertama atau P3K, serta senter lengkap dengan baterai cadangan. Radio FM yang dapat diisi daya menggunakan engkol tangan juga dianjurkan untuk membantu warga memperoleh informasi ketika akses listrik dan internet terganggu.

Baca Juga:
Kereta Renfe Melaju 200 Km/Jam sebelum Tabrak Kereta Iryo di Spanyol

Panduan tersebut menyebut kebutuhan air minum sekitar tiga liter per orang per hari. Jumlah itu belum mencakup air tambahan untuk memasak dan mencuci.


Daftar persediaan darurat yang diminta untuk disiapkan oleh Pemerintah Inggris. (Foto: The Guardian)

Antisipasi Cuaca Ekstrem hingga Ancaman Siber

Kampanye Be Ready diluncurkan di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap risiko yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Ancaman tersebut mencakup badai ekstrem, dampak perubahan iklim, gangguan teknologi, hingga tindakan negara musuh yang menyasar infrastruktur penting.

Baca Juga:
Terpilih Jadi Wali Kota Mississauga, Ini Pesan Alvin Tedjo Untuk Warganya

Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, turut menyoroti ancaman yang disebutnya sebagai “terorisme yang didukung negara”, termasuk kemungkinan serangan terhadap infrastruktur oleh Rusia atau kekuatan musuh lainnya.

Streeting menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar kemungkinan hipotetis. Karena itu, rumah tangga dan pelaku usaha perlu mengevaluasi kesiapan mereka menghadapi berbagai gangguan.

Pemerintah juga menyoroti ketergantungan masyarakat terhadap internet dan sistem teknologi kritis. Sebagai langkah pencegahan setelah ditemukan kerentanan keamanan pada bahasa pemrograman PHP, sebanyak 32 situs web pemerintah Inggris dinonaktifkan sementara. Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) dilaporkan mengirimkan 50.000 peringatan kepada organisasi yang terdampak.

Risiko cuaca ekstrem turut menjadi pertimbangan. Badai Goretti pada Januari menyebabkan puluhan ribu rumah tangga di sejumlah wilayah Inggris dan Wales kehilangan pasokan listrik, dengan kecepatan angin mencapai hampir 100 mil per jam.

Imbauan menyiapkan persediaan untuk 72 jam dinilai realistis dan praktis. Inggris juga mengikuti pendekatan serupa yang diterapkan sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Republik Irlandia, dan Belanda.

Melalui kampanye iklan di media sosial dan radio, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan bantuan dari pihak berwenang, tetapi juga memiliki persediaan dasar untuk menghadapi keadaan darurat secara mandiri. (*)