KETIK, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menghadapi tantangan khusus ketika api menjalar ke lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Meski petugas berhasil memadamkan nyala api yang terlihat, bara di dalam gambut masih bisa bertahan dan memicu kebakaran kembali.
Pakar kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa perilaku api pada lahan gambut berbeda dengan kebakaran di ekosistem non-gambut. Pada kawasan non-gambut, api umumnya membakar permukaan dan dapat menjalar hingga tajuk tanaman. Sementara itu, kebakaran gambut dapat merambat ke lapisan bawah tanah.
“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” ungkapnya, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurut Fiqri, karakteristik tersebut membuat proses identifikasi dan pemadaman kebakaran gambut lebih kompleks. Petugas tidak selalu bisa melihat sumber bara secara langsung karena api dapat bertahan di bawah permukaan, meskipun nyala api di atas tanah telah padam.
Jika penyiraman air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah masih berpotensi bertahan. Kondisi ini dapat memunculkan kembali titik api atau membuat kebakaran merambat ke area lain.
Baca Juga:
Jangan Cuma Hukum Pembakar, WALHI Desak Pemerintah Berani Usut Korporasi dan Kelalaian Pengawas“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” tuturnya.
Karena itu, Fiqri menekankan pentingnya identifikasi lokasi dan kedalaman kebakaran sebelum petugas menyatakan pemadaman selesai. Petugas perlu memastikan bahwa bara yang berada di bawah permukaan juga telah ditangani, bukan hanya memadamkan nyala api yang terlihat.
Ia menjelaskan, sejumlah pendekatan untuk menangani kebakaran bawah permukaan telah dikembangkan, termasuk penyuntikan air ke dalam gambut serta penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api.
“Tantangan berikutnya adalah meningkatkan efektivitas teknologi dan metode pemadaman, terutama untuk menangani kebakaran di bawah permukaan gambut. Sejumlah pendekatan, seperti penyuntikan air ke dalam gambut dan penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api, telah dikembangkan,” katanya.
Baca Juga:
Berbagi Masker, Wujud Aksi Nyata Bonek Suporter Persebaya Bantu Korban KarhutlaMeski demikian, metode tersebut masih membutuhkan pengembangan agar pemadaman dapat menjangkau sumber api secara efektif. Keterbatasan air dan akses menuju lokasi kebakaran juga dapat menghambat upaya petugas, terutama ketika api telah meluas.
Risiko kebakaran gambut semakin meningkat ketika musim kemarau berlangsung panjang dan curah hujan menurun. Kondisi kering membuat bahan bakar semakin rentan terbakar, sehingga pencegahan dan pengawasan kawasan rawan tetap diperlukan untuk menekan kemungkinan munculnya api.
Selain mengancam ekosistem, karhutla juga dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Karena itu, penanganannya membutuhkan dukungan berbagai instansi dan penentuan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko kebakaran. (*)