KETIK, MALANG – Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito menyampaikan pria di wilayah setempat belum banyak yang memilih kontrasepsi berupa vasektomi belum banyak dilirik.

"Mungkin karena masih ada yang takut. Kontrasepsi jenis ini tidak terlalu populer dibanding kontrasepsi yang instan," ujarnya di Kota Malang, Senin, 21 April 2025.

Ia menjelaskan setiap tahun ada jatah vasektomi dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, namun metode tersebut tidak sepopuler kontrasepsi instan.

Sedangkan, vasektomi atau metode operasi pria (MOP) memang prosesnya lebih panjang dan kebanyakan aseptor KB lebih senang yang lebih praktis.

Pada tahun 2025 ini, kata dia, Kota Malang mendapatkan jatah 3 vasektomi dari Pemprov Jatim, namun saat ini baru 2 orang yang memanfaatkan fasilitas tersebut. 

Baca Juga:
Cari Kuliner Baru di Malang? Wajib Cobain Ayam Panggang Rempah Afrika di Punu

"Tetapi, kami juga membuka peluang bagi masyarakat barangkali mau divasektomi, kami bisa mengajukan," lanjutnya.

Donny menjelaskan minimnya partisipasi pria untuk vasektomi menjadi alasan terbatasnya kuota yang diberikan. Di tahun 2024, Kota Malang hanya mendapatkan 2 kuota vasektomi. 

"Kami berkaca dari tahun sebelumnya. Nanti terlanjur dianggarkan, tapi gak ada yang memanfaatkan," tuturnya.

Menurut Donny, vasektomi cenderung dilakukan ketika masyarakat merasa bahwa usia untuk berkembang biak sudah cukup. 

Baca Juga:
Kota Malang Jadi Pilot Project Digitalisasi Perlindungan Sosial, Dispendukcapil Akselerasi IKD

"Kebanyakan masyarakat masih ada yang menganggap kalau divasektomi berarti umurnya sudah cukup untuk berkembang biak," terangnya. 

Perlu diketahui bahwa vasektomi merupakan metode kontrasepsi permanen bagi pria. Dalam prosedurnya, dilakukan pemotongan dan penyumbatan saluran sperma sehingga dapat mencegah kehamilan. 

Meskipun melakukan vasektomi, pria tetap dapat mengeluarkan air mani dan berejakulasi tanpa sperma. Dengan demikian vasektomi tidak berpengaruh pada aktivitas seksual pria. (*)