KETIK, BATU – Kota Batu masih relatif aman dari ancaman kekeringan meski sejumlah wilayah di Jawa Timur mulai mengalami kesulitan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memastikan kondisi kebutuhan air selama musim kemarau masih terkendali, meski daerah termasuk wilayah yang menetapkan status siaga darurat kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Doddy Faturrachman, mengatakan kondisi Kota Batu relatif aman karena karakter geografis dan sumber daya airnya berbeda dengan sejumlah daerah lain di Jawa Timur yang mulai menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.
“Untuk musim kemarau saat ini, Kota Batu masih aman dari ancaman kekeringan,” katanya, pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Pada awal September 2026, tercatat 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan kekeringan.
Baca Juga:
Sudah Periksa 6 Saksi, Polisi Terus Usut Dugaan Jual Beli Lapak PKL Alun-Alun Kota BatuRinciannya, enam daerah berada dalam status tanggap darurat, sedangkan 18 daerah lainnya menetapkan status siaga darurat. Kota Batu termasuk salah satu daerah yang masuk dalam status siaga tersebut.
Meski demikian, BPBD Kota Batu memastikan kondisi di wilayahnya masih dapat dikendalikan. Keberadaan sejumlah sumber mata air menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
“Meski masuk dalam daftar daerah yang menetapkan status siaga, kami pastikan kondisi Kota Batu masih terkendali,” ujarnya.
Doddy menjelaskan posisi Kota Batu sebagai daerah penyangga juga membuat keberadaan sumber air di wilayah tersebut memiliki arti penting bagi kawasan di sekitarnya. Bahkan, apabila kekeringan terjadi di Kota Batu, dampaknya dinilai tidak hanya dirasakan masyarakat setempat.
Baca Juga:
35 Tahun Menanti! Wawali Kota Batu Puji Mental Skuad Garuda di Final ASEAN Cup“Kota Batu ini daerah penyangga. Kalau sampai terjadi kekeringan, dampaknya tidak hanya dirasakan Kota Batu, tetapi bisa sampai Kota Malang, karena banyak sumber mata air di Kota Malang berasal dari wilayah Kota Batu,” jelasnya.
Situasi di Kota Batu tersebut berbeda dengan sejumlah daerah lain di Jawa Timur yang telah merasakan dampak kekeringan. Ketika sumber air masyarakat mulai mengering, sebagian wilayah harus mengandalkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.
Data BPBD Jawa Timur per 28 September 2026 mencatat kekeringan telah berdampak pada 25 kabupaten/kota. Kondisi tersebut tersebar di 198 kecamatan, 458 desa dan 442 dusun yang membutuhkan pasokan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, distribusi air bersih telah mencapai 23,07 juta liter. Bantuan tersebut diberikan kepada 36.009 kepala keluarga atau sekitar 395.438 jiwa.
Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur sebelumnya memprakirakan September 2026 masih menjadi periode puncak musim kemarau. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi relatif rendah.
Meski musim kemarau masih berlangsung, prediksi indeks kekeringan meteorologis untuk periode Juli hingga September menunjukkan sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Batu, berada dalam kategori normal.(*)