KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu terus memantapkan langkah menuju Kota Kreatif Kuliner melalui program Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) 2026.
Berbekal kekuatan sektor pertanian, kuliner lokal, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif, Kota Batu kini mengusung visi Batu Agrokreatif-Road to City of Gastronomy sebagai pijakan menuju pengakuan sebagai kota gastronomi dunia.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Pemerintah Kota Batu mengajak pelaku UMKM, insan ekonomi kreatif, komunitas, akademisi, hingga masyarakat untuk berpartisipasi mengisi survei PMK3I.
Hasil survei tersebut akan menjadi salah satu instrumen pemetaan potensi ekonomi kreatif sekaligus memperkuat posisi Kota Batu dalam pengembangan ekosistem kota kreatif berbasis gastronomi.
Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Tubagus Fiki Chikara Satari, menilai Kota Batu memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang sebagai kota gastronomi.
Baca Juga:
Sebaya Diluncurkan! Wali Kota Batu Cak Nur Dorong Gerakan Ayah Antar Anak di Hari Pertama SekolahMenurutnya, identitas tersebut sejatinya telah tumbuh dari aktivitas masyarakat tanpa harus menunggu pengakuan dari lembaga internasional.
“Sebenarnya Batu tidak perlu menunggu pengakuan dari siapa pun untuk menjadi kota gastronomi. Potensinya sudah nyata. Pelaku kreatif dan masyarakatnya telah membangun ekosistem yang kuat,” ujarnya saat menghadiri Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 di Kota Batu.
Fiki menjelaskan, apabila Kota Batu ingin memperoleh pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network, daerah tersebut harus lebih dahulu melewati proses seleksi nasional yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Komite Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU).
Ia mengungkapkan, Unesco memiliki tujuh kategori kota kreatif, salah satunya bidang gastronomi. Namun, setiap negara hanya dapat mengusulkan dua kota dalam kurun waktu dua tahun.
Baca Juga:
Siang Terik Malam Menggigil, Kota Batu Dilanda Fenomena Mbediding hingga September 2026“Pada tahun 2025 Indonesia sudah menetapkan Kota Malang sebagai City of Media Arts dan Ponorogo sebagai City of Craft and Folk Arts. Kesempatan berikutnya baru dibuka pada 2027, sehingga Batu harus bersaing lebih dahulu di tingkat nasional,” jelasnya.
Menurut Fiki, persaingan menuju predikat kota gastronomi tidak mudah karena sejumlah daerah lain, seperti Padang dan Surabaya, juga tengah menyiapkan diri sebagai kandidat.
Karena itu, Kota Batu perlu menyusun proposal dan dossier yang komprehensif, tidak hanya berisi data pendukung, tetapi juga narasi yang mampu menunjukkan bagaimana gastronomi menjadi solusi bagi pembangunan daerah.
“Yang paling penting bukan hanya evidensi, tetapi bagaimana gastronomi ini mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan budaya di Kota Batu,” katanya.
Ia menilai Kota Batu telah memiliki banyak contoh praktik ekonomi kreatif berbasis gastronomi yang berkembang dari masyarakat.
Mulai dari wisata petik apel yang dikelola koperasi, sentra olahan pangan lokal, hingga Kampung Tempe yang kini didorong menjadi warisan budaya tak benda dunia oleh Kementerian Kebudayaan.
“Seluruh potensi itu perlu dirangkai menjadi satu narasi besar menuju Batu sebagai kota gastronomi dunia. Yang terpenting, seluruh pihak harus bergerak bersama, optimistis, dan menjadikan kolaborasi sebagai jalan menuju kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fiki menekankan bahwa gastronomi tidak hanya identik dengan makanan dan minuman, tetapi juga mampu terhubung dengan berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya, seperti film, seni pertunjukan, desain, hingga pariwisata.
“Gastronomi bukan sekadar kuliner. Nilainya bisa direpresentasikan melalui berbagai subsektor kreatif lainnya. Saya melihat Batu sudah berada di jalur yang tepat untuk menuju kota kreatif berbasis gastronomi,” pungkasnya. (*)