KETIK, PACITAN – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan dalam beberapa hari terakhir belum mengubah kondisi kekeringan secara signifikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menyebut kondisi krisis air bersih masih sama seperti sebelumnya karena intensitas hujan dinilai belum cukup untuk mengatasi dampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Dwi Atmoko, mengatakan turunnya hujan belum bisa menjadi patokan bahwa wilayah terdampak kekeringan mulai pulih.
Kondisi tersebut masih perlu dipantau seiring perkembangan cuaca dalam beberapa waktu ke depan.
"Tapi dengan intensitas hujan yang baru sekian harusnya belum merubah kondisi," ujarnya kepada Ketik.com, Selasa, 27 Oktober 2026.
Baca Juga:
Lawan Kotak Kosong, Dua Calon Kades di Pacitan Tetap Bisa Gagal Jadi PemimpinSebelumnya, BPBD Pacitan mencatat sebanyak 21.112 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 246 dusun berada dalam kondisi darurat air bersih.
Data tersebut menjadi salah satu dasar penentuan kebutuhan dan prioritas distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Pada awal Oktober 2026, BPBD juga menyebut terdapat 73 desa yang belum mendapatkan distribusi air bersih, meskipun tidak semua dusun di setiap desa mengalami kekeringan.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, distribusi air bersih dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah penduduk dan kebutuhan air di setiap wilayah.
Baca Juga:
Keluhan Bau Kandang di Sumberharjo, DLH Pacitan Buka Peluang Sanksi bagi PeternakanPerhitungan tersebut menentukan frekuensi pengiriman, mulai dari setiap hari hingga dua hari sekali.
Potensi Hujan Diprakirakan Meningkat
Di sisi lain, potensi hujan diprakirakan meningkat dalam sepekan ke depan dan berpeluang bertahan hingga awal November 2026.
Kondisi ini berkaitan dengan perubahan dinamika atmosfer yang menjadi salah satu indikasi peralihan musim kemarau menuju musim hujan atau masa pancaroba.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro, menjelaskan angin timuran yang selama ini mendominasi wilayah Indonesia mulai melemah.
Pada saat yang sama, aliran angin dari arah timur laut hingga barat Pasifik mulai masuk dan berpotensi membawa massa udara yang lebih lembap.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kandungan uap air di atmosfer dan mendukung pertumbuhan awan hujan.
"Tapi untuk intensitas serta sebaran hujan diperkirakan berbeda di setiap wilayah," ungkapnya mengacu rilis BMKG Nganjuk.
Masyarakat pun diimbau mewaspadai perubahan cuaca selama masa pancaroba, termasuk potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang.(*)