KETIK, LABUHAN BATU – Sebuah video berdurasi sekitar 50-an detik yang tayang pada Sabtu, 11Juli 2026 malam sontak membuat jagat maya heboh dan menimbulkan beragam reaksi kecaman.

Pasalnya, dalam tayangan tersebut, seseorang melakukan perekaman di salahsatu ruang perawatan RSUD Rantauprapat, Labuhanbatu terkait dugaan lemahnya kinerja tenaga kesehatan.

Narasi dalam video tersebut berisikan ucapan minimnya pelayanan oleh tenaga medis, sementara pasien sudah dalam kondisi kritis.

Sehingga menyebabkan seorang warga Kecamatan Panai Hilir, SU yang awalnya berobat karena sesak nafas, akhirnya meninggal dunia.

Terkait hebohnya video yang kini telah tersebar luas tersebut, Direktur RSUD Rantauprapat, Adi Subrata, Selasa, 14 Juli 2026 menyampaikan berbagai keterangan.

Baca Juga:
BPN Gandeng PWI Labuhanbatu Dongkrak Pemahaman Warga Cerdas Data Elektronik

Sesuai hasil evaluasi internal dan rekam pelayanan medis, maka pihaknya mengaku perlu memaparkan secara utuh kronologi penanganan pasien.

"Berdasarkan kronologi pelayanan dan evaluasi, kami sampaikan tidak ada penelantaran. Seluruh tindakan sesuai kondisi pasien dan prosedur pelayanan," ujarnya.

Dijelaskan Adi, pasien masuk ke ruang perawatan pada Sabtu,11 Juli 2026 sore serta mendapatkan penanganan awal berupa pemeriksaan dan bantuan oksigen.

Setelah evaluasi dokter, kondisi pasien memerlukan tindakan cuci darah darurat. Lalu, dipersiapkan di ruang perawatan hingga ruang hemodialisa siap menerima pasien. 

Baca Juga:
Ketua TP PKK Asahan Tinjau Posyandu, Dorong Peningkatan Layanan Terpadu bagi Masyarakat

Sesampainya di ruang tersebut, kondisi pasien kembali diperiksa dan diketahui tekanan darah pasien masih sangat tinggi sehingga proses cuci darah belum bisa langsung dimulai. 

"Tim medis terlebih dahulu memberikan terapi agar tekanan darah turun ke batas yang dianggap aman. Setelah membaik cuci darah dilaksanakan sesuai prosedur," terang Adi.

Terkait video menyebutkan pasien ditinggalkan selama menjalani cuci darah, Adi mengatakan bahwa petugas berpindah sementara memberikan pelayanan kepada pasien lain yang juga membutuhkan tindakan.

Tidak sebatas itu, sebelum berpindah, kondisi pasien juga sudah diperiksa dan proses cuci darah masih berjalan sebagaimana mestinya.

Terlebih, pada malam itu terdapat beberapa pasien yang sedang menjalani pelayanan di ruang hemodialisa. Begitu seluruh tindakan selesai, petugas kembali memantau pasien SU.

Namun saat pemeriksaan kembali, kondisi pasien mengalami penurunan tiba-tiba. Saat itu petugas langsung melapor kepada dokter dan segera melakukan tindakan penyelamatan sesuai prosedur.

"Tim menghentikan cuci darah dan melakukan tindakan penyelamatan di ruang hemodialisa. Kemudian pasien dipindahkan ke ruang perawatan intensif," papar Adi lagi.

Berbagai upaya penyelamatan dilakukan, seperti memasang alat pemantauan, bantuan pernapasan serta tindakan resusitasi ketika kondisi jantung pasien beberapa kali berhenti.

Walau berbagai upaya telah dilakukan, kondisi pasien akhirnya tidak dapat dipertahankan hingga dinyatakan meninggal dunia.

"Kami turut berdukacita dan evaluasi tetap kami lakukan agar pelayanan semakin baik. Setiap masukan menjadi bahan untukperbaikan rumah sakit," tutur Adi mengakhiri.(*)