KETIK, LAMONGAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, Jumat, 18 September 2026.
Sebanyak 105 keluarga atau 590 jiwa di Dusun Bulu terdampak kekeringan. Pemprov Jawa Timur menyalurkan empat truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, tiga tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.
"Kita ingin memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pemerintah provinsi terus membersamai pemerintah kabupaten untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, penyediaan sarana penampungan diperlukan agar warga dapat menyimpan air yang didistribusikan untuk kebutuhan rumah tangga.
"Jadi bukan hanya dropping airnya, tetapi juga kita siapkan tempat penampungannya. Dengan begitu, ketika air datang, masyarakat bisa menyimpan dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan," ungkapnya.
Baca Juga:
Hadapi Kemarau Panjang, Gubernur Khofifah Gelar Sholat Istiqa' untuk Berdoa Memohon HujanKekeringan di Lamongan saat ini berdampak pada 7.339 keluarga atau 26.551 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Sarirejo, Bluluk, Pucuk, Karangbinangun, Glagah, Deket, Modo, Sambeng, Kembangbahu, dan Mantup.
Pemprov Jawa Timur telah mengalokasikan Rp61.419.700 untuk distribusi air bersih sebanyak 126 rit di Lamongan. Pemerintah provinsi juga menyalurkan 70 tandon dan 150 jeriken.
Khofifah mengatakan, hingga 17 September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status darurat kekeringan.
"Jadi ada 24 kabupaten/kota yang sudah mengeluarkan SK kedaruratan karena kekeringan ini. Maka sebetulnya kehadiran Pemprov itu mensubstitusi, melapisi apa yang sudah dilakukan oleh para bupati dan wali kota. Jadi yang sudah dilakukan Pak Bupati Lamongan, kita memberikan pelapisan," jelasnya.
Baca Juga:
Gubernur Khofifah Bersama Bupati Turun Langsung ke Pasar Murah Desa Lengkong MojokertoSelain distribusi air, Pemprov Jawa Timur menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 3 September 2026. Operasi tersebut dilakukan ketika terdapat pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Namun, Khofifah menyebut penanganan kekeringan tidak cukup mengandalkan distribusi air dan OMC. Pemerintah perlu memetakan sumber air terdekat yang dapat dimanfaatkan, termasuk melalui sumur bor dan sistem pengaliran air.
"Bahwa ada yang sesungguhnya bisa kita lakukan secara lebih strategis ketika kita menemukan sumber-sumber air terdekat yang dimungkinkan untuk bisa diakses," ujarnya.
Salah satu potensi sumber air yang berjarak sekitar lima kilometer dari Dusun Bulu akan dikaji untuk melihat kemungkinan dialirkan ke wilayah terdampak. Pemprov juga mempertimbangkan kondisi sosial dan teknis di sekitar sumber air.
Selain itu, pengeboran sumur menjadi opsi lain. Namun, kondisi geologis setiap wilayah membuat hasil pengeboran berbeda-beda.
"Ada titik yang saya baru kunjungi kira-kira dua minggu lalu, tapi tiga tahun lalu saya sudah ke situ. Jadi sudah dibor sampai 200 meter, ketemunya batu, sudah sampai 19 mata bor itu putus. Artinya ada kesulitan-kesulitan tertentu. Tapi juga ada yang 90 meter ketemu air," tuturnya.
Hingga kini, 22 kabupaten di Jawa Timur telah melakukan distribusi air bersih. Daerah tersebut antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Ngawi, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, dan Sampang.
Khofifah menilai penanganan kekeringan membutuhkan kerja sama pemerintah provinsi, kabupaten, desa, dan masyarakat. Distribusi air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga saat ini, sementara pemetaan sumber air menjadi bagian dari upaya penanganan jangka panjang. (*)