KETIK, MALANG – Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Namun, di balik berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Gunung Kawi kerap dikaitkan dengan praktik pesugihan. Padahal, Gunung Kawi merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat.

Di kawasan ini terdapat Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Eyang Jugo atau Kiai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono.

Kedua tokoh tersebut dihormati masyarakat karena keteladanan, perjuangan, serta ajaran kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam akun Instagram @gunungkawistory dijelaskan bahwa sebelum internet mengenalnya, Gunung Kawi telah lebih dulu dikenal sebagai tempat ziarah, wisata ritual, dan ruang perjumpaan berbagai budaya.

Baca Juga:
Kisah Bentoel dan Gunung Kawi, dari Ziarah yang Melahirkan Nama Salah Satu Merek Rokok Terbesar di Indonesia

Ribuan orang datang dengan langkah yang tenang, membawa doa, harapan, dan rasa syukur kepada Sang Agung.

Seiring datangnya ribuan peziarah, para pedagang bunga, penjual suvenir, pengelola penginapan, dan pelaku usaha lainnya ikut merasakan manfaat ekonomi. Mereka menggantungkan harapan pada setiap langkah peziarah yang menuju pesarean.

Lebih lanjut dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa, bagi masyarakat setempat, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah.

Namun, waktu berubah. Di era ketika video dari seorang kreator konten mampu membentuk opini jutaan orang, wajah Gunung Kawi perlahan bergeser.

Baca Juga:
Pesarean Gunung Kawi Tegaskan Bukan Tempat Pesugihan, Sebut Isu Negatif Rugikan Warga Sekitar

Konten yang mengejar sensasi lebih mudah menarik perhatian dibandingkan sejarah yang panjang.

Cerita yang menakutkan lebih cepat viral daripada kisah tentang budaya, toleransi, dan penghormatan kepada leluhur.

Lalu muncul anggapan yang terus diulang bahwa "Gunung Kawi adalah tempat pesugihan". Bahkan, mitos tentang Pohon Dewandaru kembali mencuat ke permukaan, yakni kepercayaan bahwa peziarah yang kejatuhan daun atau buahnya akan memperoleh keberuntungan dan rezeki yang melimpah.

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang lahir dan besar di sana, anggapan tersebut selalu terasa berat. Sudah saatnya kisah tentang Gunung Kawi ditulis kembali, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran.

Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak semua orang melihat Gunung Kawi dari sudut pandang yang lebih utuh. Sebab, citra sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh orang yang datang, tetapi juga oleh masyarakat yang menjaganya setiap hari. (*)