KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melepas ekspor 405 ton produk ikan kaleng berupa sarden, makarel, dan tuna produksi PT Pacific Harvest Indonesia di Banyuwangi, pada Senin, 6 Juli 2026.
Pelepasan ekspor tersebut menjadi bukti semakin tingginya daya saing produk olahan perikanan Jawa Timur di pasar internasional, sekaligus menunjukkan kepercayaan pasar global yang terus terjaga. Momen ini juga dinilai memperkuat hilirisasi industri yang memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat pesisir.
Prosesi pelepasan ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol pemberangkatan 15 Full Container Load (FCL), dengan muatan masing-masing sekitar 27 ton.
Dari total 15 kontainer itu, enam unit dikirim ke Tanzania, dua unit ke Uni Emirat Arab, satu unit ke Albania, tiga unit ke Pelabuhan Dar es Salaam Tanzania, masing-masing satu unit ke Beirut (Lebanon) dan Sihanoukville (Kamboja), serta dua unit lainnya sesuai tujuan ekspor perusahaan.
Gubernur Khofifah menyampaikan, di tengah dinamika geopolitik dunia, kebutuhan terhadap produk pangan siap saji justru menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini dinilai membuka peluang lebih besar bagi industri pengolahan hasil perikanan Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.
Baca Juga:
Bukan Sekadar KKN! 1.000 Mahasiswa UB Siap Bangun 'Living Laboratory' di 76 Desa"Ternyata ketika berbagai negara mengalami konflik, kebutuhan ikan siap saji semakin tinggi. Tantangan itu justru menjadi peluang besar bagi Pacific Harvest Indonesia," ujar Khofifah.
Ia berharap pasar ekspor perusahaan dapat terus meluas, volume produksi meningkat, industri tumbuh berkelanjutan, dan manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat Banyuwangi.
Pelepasan ekspor ini berlangsung tak lama setelah peresmian PT Sunrise Masami International. Menurut Khofifah, hal ini menjadi bukti nyata penguatan hilirisasi industri perikanan sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
"Alhamdulillah, kita bersyukur, tadi kita meresmikan Sunrise Masami International yang bergerak di industri kaleng. Saya juga baru tahu ternyata banyak sekali produk yang kemasannya menggunakan kaleng, dan kalengnya masih harus diimpor, termasuk yang digunakan Pacific Harvest ini," tutur Khofifah.
Baca Juga:
Inilah 5 Gunung Tertinggi di Jawa Timur yang Wajib Masuk Daftar Pendakianmu"Sekarang industri substitusi impor itu mulai beroperasi. Ini menjadi harapan baru dan berita baik bagi kita semua, karena setiap investasi pasti mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja," lanjutnya.
Menurutnya, produksi kaleng di Banyuwangi akan memperbesar peluang ekspor sekaligus memperkuat perekonomian dan daya saing global. Terlebih dengan nilai tambah yang dilakukan lewat proses petik, olah, kemas, dan jual yang biasa digaungkan Gubernur Khofifah.
"Manfaat yang sangat signifikan adalah produk yang sebelumnya diimpor kini sudah diproduksi di Banyuwangi. Harapan kita produksinya terus meningkat sehingga kebutuhan industri lain yang selama ini masih mengimpor kaleng juga bisa dipenuhi dari sini," ujarnya. (*)