KETIK, MALANG – Dosen Universitas Terbuka (UT) Malang memberikan pelatihan membuat batik tulis organik kepada ibu-ibu Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Pelatihan tersebut turut menggeliatkan ekonomi hijau bagi warga desa setempat.
Dosen D4 Kearsipan, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka (UT) Malang, Lulus Sugeng Triandika, menjelaskan bahan-bahan ramah lingkungan digunakan untuk membuat batik tulis.
"Jadi ini sebenarnya bagian dari implementasi ekonomi hijau. Bagaimana memanfaatkan bahan-bahan alam untuk dijadikan pewarna batik tulis dan juga ramah lingkungan," ujarnya, Sabtu, 12 September 2026.
Sebelumnya, warga telah mendapatkan teori tentang membatik dan pelatihan mencanting. Pelatihan tersebut juga lahir dari permintaan masyarakat sebagai bekal untuk menciptakan motif batik khas Desa Tambakasri.
"Menurut pengalaman mereka sendiri di desa Kabupaten Malang sangat jarang yang punya usaha membatik. Mereka maunya batik ini menjadi keahlian masyarakat secara umum. Jadi mereka usul kalau ada pelatihan membatik," lanjutnya.
Baca Juga:
Ikut UT Malang Fun Run 2026, Wawali Mas Heli Pastikan Izin Event Sport Tourism Kota Batu DipermudahSetelah mendapat pembekalan materi dan praktik membatik, Lulus menilai masyarakat cukup mahir dalam menghasilkan corak dan motif batik. Pelatihan tersebut juga diharapkan menjadi bekal bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
"Jadi memang tujuannya adalah untuk ibu-ibu rumah tangga, baik yang sudah punya usaha ataupun yang punya usaha kecil untuk ada diversifikasi usaha juga. Bagaimana masyarakat ada income generate, tidak perlu keluar biaya, memanfaatkan bahan-bahan di sekitar," katanya.
Lulus menyebut peluang untuk memanfaatkan teknik pewarnaan lain dengan menggunakan bahan alami, seperti ecoprint. Agar hasil yang diharapkan dapat terwujud, pendampingan secara berkelanjutan akan dilakukan oleh dosen UT Malang.
Baca Juga:
Dukung Keberlanjutan Ekonomi Keluarga, Dosen UT Malang Bekali Kapabilitas Keuangan IRT Desa TambakasriUT Malang sendiri telah dua tahun melakukan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tambakasri. Tak hanya memberikan pelatihan terkait keterampilan, warga juga mendapat pelatihan manajerial.
"Jika masyarakat butuh pendampingan lebih intensif, kita dari UT Malang, dosen-dosennya, juga tetap mendampingi sampai masyarakat itu sudah cukup paham dengan baik. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan segala bentuk usaha di sekitarnya," ungkapnya.
Sementara itu, Dewi Setiawati, Ketua TP PKK Desa Tambakasri, menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan desa. Selama ini, banyak pelatihan yang diberikan UT Malang selaras dengan kebutuhan warga.
"Kalau untuk batik ini ke depannya, kami itu berupaya ada ee khas khususnya untuk batik Desa Tambakasri. Di situ kita akan memunculkan kreasi, kreativitasnya, dan melihat potensi sekarang ini mata pencaharian kan banyak tanaman padi sama tebu. Kita mengolaborasikan itu menjadi ciri khasnya Desa Tambakasri, dipadupadankan dengan batik Garudeya," jelasnya.
Saat ini, banyak produk buah karya warga yang ikut serta dalam pameran. Meskipun tidak terjual 100 persen, kegiatan tersebut mampu mengisi waktu dan menambah pendapatan ibu-ibu Desa Tambakasri.
"Dengan adanya pelatihan yang diberikan dari UT, karena pelatihannya beragam, itu bisa mengkreasikan, menambah pendapatan usaha dari Ibu-ibu, khususnya di pemberdayaan kita mengolaborasikan dengan program Pokja 2 dan Pokja 3," pungkasnya.