KETIK, MALANG – Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggelar International Seminar on Language, Education, and Culture (ISoLEC) 2026 secara virtual pada 10–11 September 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-10, seminar internasional ini mengangkat tema “Sustainable Innovation in Language, Education, and the Arts: Pathways to Inclusive Global Futures” dengan menekankan pentingnya inovasi yang inklusif dalam pengembangan bahasa, pendidikan, dan seni.
ISoLEC 2026 menjadi forum akademik yang mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan mahasiswa untuk bertukar gagasan mengenai perkembangan bahasa, pendidikan, budaya, dan seni, sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik lintas institusi dan negara.
Ketua Pelaksana ISoLEC 2026, Dr. Dewi Ariani, S.S., S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa seminar internasional ini merupakan agenda tahunan Fakultas Sastra UM yang secara konsisten memberikan ruang diskusi terkait isu bahasa, pendidikan, budaya, dan seni. Pada penyelenggaraan tahun ini, aspek inklusivitas menjadi salah satu penekanan utama dalam pembahasan.
“Tema tahun ini adalah Sustainable Innovation in Language, Education and the Arts: Pathways to Inclusive Global Futures. Kalau tahun-tahun sebelumnya tetap berbicara tentang bahasa, pendidikan, dan seni karena memang kami dari Fakultas Sastra, tetapi tahun ini kami lebih menekankan pada aspek inklusif,” jelas Dewi.
Menurutnya, penguatan perspektif inklusif penting untuk memastikan bahasa, pendidikan, dan seni dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi berbagai kelompok masyarakat.
Baca Juga:
Jadi Tuan Rumah OMI Jenjang MI/SD, MTsN 1 Kota Malang Beri Fasilitas Terbaik dalam Kelancaran dan Kejujuran KompetisiKarena itu, ISoLEC 2026 tidak hanya menjadi forum seminar, tetapi juga wadah untuk mempertemukan gagasan sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat mendorong riset, kolaborasi, serta publikasi terhadap ide dan hasil penelitian yang dimiliki oleh mahasiswa, dosen, kolega, maupun peneliti,” tutur Dewi.
Dalam forum ini, antusiasme akademisi terhadap isu yang diangkat terlihat dari jumlah naskah yang diterima panitia.
Hingga tahap penerimaan naskah, ISoLEC 2026 menerima 89 abstrak, dengan sekitar 60 peserta telah mengonfirmasi pengiriman full paper. Peserta tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri, termasuk Kazakhstan.
Baca Juga:
RUU Perampasan Aset Jadi Sorotan Akademisi, UM Dorong Kajian Komprehensif“Pesertanya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga ada dari luar negeri. Kami menerima partisipasi dari berbagai provinsi, mulai dari Medan, Jakarta, beberapa wilayah di Jawa Timur, dan ada juga peserta dari Kazakhstan,” ungkap Dewi.
Dalam penyelenggaraan seminar internasional ke-10 ini, Dewi berharap ISoLEC dapat terus berkembang dengan menghadirkan pembahasan yang relevan dengan perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital menjadi salah satu isu yang dinilai semakin penting untuk diintegrasikan dalam penyelenggaraan ISoLEC pada masa mendatang.
“Harapannya kegiatan ini terus berlanjut sampai ISoLEC berikutnya, selalu menghadirkan informasi dan perspektif baru, serta semakin relevan dengan dunia digital yang tidak bisa dipungkiri perkembangannya,” pungkasnya.
Melalui ISoLEC 2026, Fakultas Sastra UM terus berkomitmen memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pertukaran pengetahuan serta pengembangan inovasi yang terbuka dan inklusif.
Forum ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan pengetahuan, inovasi pembelajaran, literasi, dan pendidikan yang inklusif.
Sementara itu, kolaborasi akademik lintas negara dan institusi yang dibangun melalui forum tersebut juga mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat kontribusi UM dalam mendorong inovasi pendidikan dan seni untuk membangun masa depan global yang inklusif dan berkelanjutan. (*)