KETIK, BATU – Di tengah penyidikan dugaan korupsi jual beli kios dan los Pasar Induk Among Tani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu, kondisi fisik pasar tersebut turut menjadi sorotan.

Sejumlah bagian kawasan pasar tradisional terbesar di Indonesia ini dikeluhkan pedagang karena dinilai kurang terawat, berantakan, dan terlihat kumuh.

Salah satu pedagang, Damir, mengaku kecewa melihat kondisi pasar yang menurutnya belum mendapat perawatan sebagaimana yang diharapkan. Keluhan tersebut ia sampaikan di tengah proses hukum yang sedang berjalan terkait dugaan korupsi jual beli kios dan los.

“Selain persoalan hukum yang sedang berjalan di Kejari Batu, saya selaku warga sekaligus pedagang merasa kecewa sekali. Pasar ini tidak tersentuh perawatan, berantakan, dan terlihat kumuh,” ujarnya, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan harapan ketika Pasar Induk Among Tani dibangun. Ia menilai pasar tersebut semestinya dapat menjadi salah satu ikon wisata sekaligus pusat perekonomian di Kota Batu.

Baca Juga:
Sertijab Kabag Ops dan Kapolsek Ngantang, Kapolres Batu Minta Pejabat Baru Segera Adaptasi

“Padahal dibangun dengan harapan besar bisa menjadi ikon wisata sekaligus jantung perekonomian Kota Batu,” katanya.

Damir juga menyoroti sejumlah kondisi fisik di area pasar. Ia menyebut sisa puing paving dan tumpukan batu koral yang tidak terpakai masih terlihat menumpuk di sejumlah sudut bangunan.

Selain itu, meja-meja pedagang Pasar Pagi disebut ditumpuk secara sembarangan hingga menutupi area parkir.

Kondisi lainnya terlihat di sisi kanan pintu masuk gerbang pasar, di mana sebuah tenda yang disebut sudah mengalami kerusakan parah masih berdiri dan belum dibenahi.

Baca Juga:
Kebakaran Hutan Melanda Tahura Raden Soerjo, Seluruh Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup

“Wajah pasar yang disebut sebagai pasar kiblat terbaik di Jawa Timur itu tidak seindah namanya. Sisa puing paving dan tumpukan batu koral yang tidak terpakai menumpuk di sudut-sudut bangunan. Meja-meja pedagang Pasar Pagi ditumpuk sembarangan hingga menutupi lahan parkir,” ungkapnya.

“Belum lagi di sisi kanan pintu masuk gerbang, masih berdiri sebuah tenda yang sudah rusak parah, seolah menjadi penghias yang tidak kunjung dibenahi. Dibilang pasar terbaik, tetapi lihatlah kondisinya begini,” lanjut Damir.

Keluhan mengenai kondisi pasar tersebut muncul ketika proses penyidikan dugaan korupsi jual beli kios dan los Pasar Induk Among Tani tengah berjalan di Kejari Batu.

Pasar Induk Among Tani sendiri dibangun dengan dana APBN mencapai Rp166,7 miliar selama 2021-2023. Pasar tersebut kemudian diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Bangunan pasar memiliki luas sekitar 3,4 hektare dengan kapasitas mencapai 2.700 kios dan los. Kompleks tersebut terdiri atas gedung tiga lantai dengan pembagian zona basah dan kering.

Namun, bagi Damir, besarnya anggaran pembangunan dan konsep yang diusung saat awal pembangunan seharusnya diikuti dengan perawatan kawasan secara berkelanjutan.

“Dibilang pasar terbaik, tetapi lihatlah kondisinya begini,” pungkasnya.