KETIK, SAMPANG – Aroma ketidakberesan kian pekat membayangi program Ketahanan Pangan (Ketapang) di Desa Baruh, Kecamatan Sampang.

Alih-alih mendongkrak kesejahteraan warga, ambisi besar pemerintah desa justru menghasilkan hasil yang ironi. Proyek kandang ayam petelur yang menelan anggaran Dana Desa (DD) 2025 kini manngkrak, tak berwujud, dan jauh dari kata produktif.

Hingga akhir Oktober 2026, hampir setahun setelah kucuran dana segar disedot penuh sejak Desember 2025 tidak ada satupun kepak sayap ayam petelur yang tampak di lokasi.

Bangunan kandang yang digadang-gadang menjadi motor ekonomi desa justru berpindah-pindah tempat, menyisakan bangunan kosong tanpa kejelasan operasional.

Teguran Camat yang Diabaikan

Baca Juga:
Makan Dana Desa Ratusan Juta, BUMDes Ayam Petelur Desa Baruh Sampang Mangkrak

Camat Sampang, Aminullah, tak kuasa menjelaskan mengecewakannya atas kemajuan lambannya di Desa Baruh. Ia mengeklaim telah melayangkan teguran berulang kali kepada aparatur desa, menyusul berpindah-pindah lokasi kandang tersebut tanpa dasar yang jelas.

“Saya sudah sering memberi peringatan, kandangnya sudah yang kedua untuk sementara dipindah,” ujarnya. 

Aminullah mendesak Pemdes Baruh agar segera menuntaskan persoalan ini sebelum berakhir di ranah hukum. Berbagai dalih yang disampaikan pemerintah desa kini telah dicatat sebagai bahan evaluasi serius.

“Saya sudah menekan Pemdes untuk segera menuntaskan BUMDes tersebut jika tidak ingin punya masalah. Intinya di sana banyak alasan, dan hal ini sudah saya jadikan bahan evaluasi,” ungkapnya, Senin, 26 Oktober 2026.

Baca Juga:
Tour ke Abdya, Jamaluddin Idham Bawa Oleh-Oleh dari Senayan untuk Petani dan Peternak

Ia juga mengonfirmasi bahwa pihaknya bersama Inspektorat telah turun langsung meninjau mandeknya proyek tersebut. "Infonya ke saya sedang dirapatkan, dan saya sudah tegaskan jangan dibuat enteng," tandasnya.

Pengakuan Pj Kades dan Jejak "Mentor" H. Ansori.

Di tengah sorotan tajam publik, Pejabat (Pj) Kepala Desa Baruh, Sukri, blak-blakan mengakui bahwa anggaran BUMDes telah lama cair dan mendarat di rekening desa.

"Uang BUMDes sudah dicairkan dan sudah ditransfer ke rekening BUMDes. Yang membentuk BUMDes-nya saya, dan waktu mencairkan ya masa saya juga," kata Sukri tanpa rasa bersalah.

Namun, di balik karut-marut pengelolaan dana publik ini, Sukri justru menyeret sebuah nama yang diduga memegang kendali yakni H. Ansori. Menurut Sukri, H. Ansori telah mendampingi dan bertindak sebagai mentor Pemdes Baruh sejak tahun 2025.

“H. Ansori jadi mentor Pemdes Baruh sejak tahun 2025,” ujar Sukri.

Saat dicecar mengenai sejauh mana tanggung jawab moral dan keterlibatan H. Ansori dalam mangkraknya proyek yang menyedot uang negara ini, Sukri justru bereaksi defensif dan terkesan berusaha melindungi sang mentor.

“Masak, mau tanya seperti ini,” cetusnya.

Meski kenyataan di lapangan menunjukkan kandang manngkrak tanpa ayam, Sukri berdalih melakukan pendampingan oleh mentor adalah hal lumrah di Sampang. Ia yakin program tersebut tidak fiktif, meski mengakui adanya keterlambatan yang fatal dalam pengadaannya.

“Semua mentor di Sampang pasti seperti itu semua, yang penting intinya terealisasi, tidak fiktif. Ini hanya lambat pengisian ayamnya,” tutupnya berkelit.

Hingga berita ini dipublikasikan, H. Ansori yang diduga sebagai mentor belum merespons upaya wawancara Ketik.com. (*)