KETIK, PALEMBANG – Tragedi terjadi di kawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pasar Ikan Modern, Jalan MP Mangkunegara, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Rabu 19 Agustus 2026.

Dua balita masing-masing berinisial QFA (3) dan F (5) tercebur ke dalam kolam penampungan IPAL. Dalam kejadian tersebut, QFA meninggal dunia, sementara F masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Kolam tempat kedua bocah tersebut tercebur memiliki kedalaman sekitar tiga meter dan terisi air setinggi kurang lebih 1,5 meter.

QFA telah dimakamkan pihak keluarga di TPU Sematang Borang. Sehari setelah kejadian, suasana rumah duka di Jalan Seduduk Putih, Kampung Tuna Netra, Palembang, terlihat ramai didatangi kerabat dan tetangga.

Ayah korban, Iwan Susanto (47), menceritakan kejadian yang diketahuinya bermula ketika anaknya bermain tidak jauh dari lokasi tempat ia bekerja di panti pijat tradisional tuna netra. Saat itu QFA bermain bersama sepupunya, F.

Baca Juga:
11 Jam Usai Beraksi, Pelaku Begal di Palembang Ditembak Polisi

Sebelum kejadian, QFA sempat meminta uang kepada Iwan untuk membeli jajanan. Namun sebelum memberikan uang tersebut, Iwan meminta anaknya menyanyikan lagu "Balonku".

"Dia minta uang untuk jajan. Sebelum dikasih saya suruh nyanyi Balonku. Setelah nyanyi saya kasih uang. Tidak lama berselang, sekitar 15 menit, saya dikabari anak saya tenggelam," ujar Iwan saat ditemui di rumah duka, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ayah salah satu korban tenggelam di IPAL Pasar Ikan modern, Iwan Susanto saat menunjukkan foto anaknya, Kamis 20 Agustus 2026. (Foto: Yola/Ketik.com)

Warga mengetahui adanya kejadian tersebut setelah mendengar teriakan F dari sekitar kolam. Warga kemudian bergegas mendatangi lokasi dan melihat F dalam kondisi nyaris tenggelam.

Baca Juga:
Gudang Solar Subsidi di Balik Bengkel Las Kota Pelembang Digerebek, 5.350 Liter BBM Disita

F berhasil diselamatkan dan segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Sementara QFA berada di dasar kolam sehingga nyaris tidak terlihat oleh warga yang melakukan pertolongan. Korban baru diketahui setelah warga melihat bagian rambutnya.

"Ada dua orang yang menyelamatkan korban. Cerita yang menyelamatkan, anak saya ada di bawah, tenggelam dan nyaris tidak kelihatan. Baru sadar karena terlihat ada rambutnya," kata Iwan.

QFA kemudian diangkat dari dalam kolam dan langsung dibawa ke klinik 24 jam terdekat. Namun, nyawa bocah perempuan tersebut tidak berhasil diselamatkan.

Iwan mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana kedua anak tersebut bisa sampai masuk ke dalam kolam IPAL. Namun, berdasarkan informasi dari F yang masih menjalani perawatan, F disebut tercebur terlebih dahulu.

"Informasi terbaru dari F yang masih dirawat, katanya dia nyebur duluan. Tidak tahu bagaimana anak saya juga ikut," jelasnya.

Menurut Iwan, QFA sebelumnya tidak pernah bermain di sekitar kolam tersebut. Ia juga menyebut kondisi pagar yang mengelilingi kolam sudah tidak terawat sehingga kawasan tersebut mudah dimasuki anak-anak.

Kolam tersebut diketahui digunakan untuk pengelolaan IPAL.

Pasca kejadian, Dinas Perikanan bersama pihak terkait telah mendatangi rumah duka. Kepada keluarga, pihak terkait menyampaikan rencana pemasangan pagar seng untuk mengamankan area kolam agar tidak mudah dimasuki maupun dipanjat oleh anak-anak.

"Siang ini mau dipasang pagar seng oleh Dinas Perikanan," tandas Iwan.(*)