KETIK, GRESIK – Ancaman kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Mengantisipasi hal tersebut, pengelola TPA Ngipik, Kabupaten Gresik, memperketat pengawasan dan melakukan berbagai langkah pencegahan kebakaran di kawasan landfill.
Kepala UPT TPA Ngipik Gresik, Purwaningtyas Noor Mariansyah, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pengawasan, khususnya pada malam hingga dini hari.
“Kita ada patroli malam mulai jam 8 malam sampai jam 4 pagi,” ujar Purwaningtyas.
Selain patroli, petugas juga melakukan pengecekan kondisi area pembuangan secara rutin. Suhu dan kandungan gas metana di area landfill diperiksa sedikitnya dua kali dalam sehari untuk mendeteksi potensi terjadinya peningkatan suhu maupun penumpukan gas yang dapat memicu kebakaran.
Langkah pencegahan lainnya dilakukan melalui penyiraman secara rutin di area pembuangan. Penyiraman bertujuan menjaga kelembapan sekaligus menurunkan suhu sampah, terutama saat kondisi cuaca panas dan kering.
Baca Juga:
Keren! Resmikan Landfill Mining di TPA Ngipik, Pemkab Gresik Kini Bisa Olah Sampah Jadi RDFMenurut Purwaningtyas, pengelolaan gas metana juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran di TPA. Gas yang dihasilkan dari proses penguraian sampah tersebut ditangkap dan dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur umum di kawasan TPA Ngipik.
“Gas metana kita tangkap dan kita manfaatkan untuk dapur umum di TPA. Gas metana ini berkontribusi besar terhadap potensi kebakaran,” jelasnya.
Pengelola TPA Ngipik juga memasang sejumlah papan imbauan untuk mencegah aktivitas yang berpotensi memicu api. Salah satunya larangan bagi pemulung memasuki area landfill serta larangan menyalakan api di kawasan tersebut.
Pengawasan juga dilakukan secara langsung oleh petugas lapangan. Mereka secara rutin memantau kondisi TPA dan segera melakukan penanganan apabila ditemukan kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Purwaningtyas menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu kebakaran di kawasan TPA. Dua di antaranya adalah gas metana yang tidak terkelola dengan baik dan sumber api seperti puntung rokok.
“Penyebab kebakaran di TPA sendiri, yang paling berpengaruh adalah gas metana yang tidak terkelola atau puntung rokok. Untuk saat ini karena cuaca ekstrem,” ungkapnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, pengelola TPA Ngipik berupaya memastikan potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Terlebih, kondisi cuaca ekstrem dan tingginya suhu lingkungan dapat meningkatkan risiko kebakaran di kawasan yang menjadi tempat penampungan sampah tersebut.
Upaya pengelolaan gas metana, pemantauan suhu, penyiraman, patroli malam hingga larangan menyalakan api menjadi bagian dari sistem pencegahan yang terus dilakukan untuk menjaga keamanan kawasan TPA Ngipik.(*)