KETIK, PEMALANG – Keterbatasan pendidikan tidak menghalangi Cari (52), warga Desa Losari, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, untuk bekerja keras demi keluarganya.

Sejak masih anak-anak, ia telah menekuni pekerjaan sebagai perajin bata merah.

Meski tidak menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah dasar, Cari mampu bertahan menjalani pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan ketekunan tersebut selama bertahun-tahun.

Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan ketiga anaknya.

Dari tiga anak yang dimiliki, dua di antaranya berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Baca Juga:
Dari Ibu Kota hingga Pagergunung, Kisah Endang Penjual Jamu di Pemalang yang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli

Sementara anak ketiganya saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Cari mengatakan, anak pertamanya kini bekerja di pemerintahan sebagai ahli gizi.

Sedangkan anak keduanya bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Kabupaten Pekalongan.

Menurut Cari, keberhasilan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi menjadi kebanggaan tersendiri.

Baca Juga:
Puluhan Warga Purana Pemalang Demo, Desak Galian di Tanah Bengkok Dihentikan

Ia menyebut pencapaian tersebut tidak lepas dari kegigihannya bekerja sebagai perajin bata merah.

Dalam menjalankan usaha tersebut, Cari membeli bahan baku berupa tanah dari wilayah Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang.

Tanah itu dibeli dengan harga sekitar Rp800 ribu untuk satu dump truck.

“Tanahnya beli. Satu dump truck Rp800 ribu,” kata Cari, Rabu, 7 Oktober 2026.

Dari satu dump truck tanah, Cari memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 3.300 bata.

Bata yang masih mentah dijual sekitar Rp600 per buah, sedangkan bata yang telah melalui proses pembakaran atau matang dijual sekitar Rp1.000 per buah.

“Harga bata mentah saya jual Rp600. Jika matang atau bata merah sekitar Rp1.000,” ujarnya.

Namun, proses mengolah tanah hingga menjadi bata membutuhkan waktu cukup lama.

Menurut Cari, satu dump truck tanah dapat dikerjakan hingga menjadi bata dalam waktu sekitar dua bulan.

Jika seluruh bata mentah dari satu dump truck terjual, dengan jumlah sekitar 3.300 buah dan harga Rp600 per bata, pendapatan kotor yang diperoleh mencapai sekitar Rp1,98 juta.

Pendapatan tersebut masih harus dikurangi biaya pembelian tanah serta biaya produksi dan kebutuhan lainnya.

“Kalau dihitung per bulan berarti dapat Rp500 ribu. Kan dipotong biaya buat beli tanah yang Rp800 ribu,” kata Cari.

Penghasilan sebagai perajin bata merah yang tidak selalu besar membuat Cari harus menjalani pekerjaan tersebut dengan penuh ketekunan.

Ia juga terkadang menerima pekerjaan tambahan sebagai tukang pijat untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Bagi Cari, pekerjaan apa pun yang halal akan dijalani selama masih mampu dilakukan.

Kebutuhan keluarga dan pendidikan anak menjadi tanggung jawab yang terus diupayakannya.

Perjuangan Cari menjadi gambaran ketekunan warga yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai perajin bata merah.

Di tengah keterbatasan pendidikan yang pernah dialaminya, ia justru berusaha memberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi bagi anak-anaknya.

Dengan kerja keras selama bertahun-tahun, Cari berhasil mengantarkan dua anaknya hingga perguruan tinggi, sementara anak ketiganya masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas.(*)