Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda. Pada 1928, anak-anak muda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk membangun Indonesia. Mereka belum menikmati teknologi seperti sekarang, tetapi memiliki kesadaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Hampir satu abad kemudian, anak muda Indonesia hidup dalam dunia yang jauh berbeda. Media sosial, internet, dan kecerdasan buatan membuka peluang untuk belajar, berkarya, serta menyuarakan gagasan.

Ada pertanyaan penting: ketika semakin mudah terhubung, apakah kita juga semakin mampu memahami satu sama lain?

Kita bisa memiliki ribuan pengikut, akan tetapi belum tentu mampu membangun percakapan yang sehat. Kita mudah menyampaikan pendapat, tetapi sering lupa mendengarkan.

Maka di sinilah, Sumpah Pemuda perlu dimaknai kembali, lebih jeli serta tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai pekerjaan yang belum selesai.

Baca Juga:
Kwarda Jatim Peringati Hari Sumpah Pemuda di Pamekasan, Kenang Peran Mohammad Tabrani

Menurut perspektif Social Identity Theory yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner, identitas kelompok memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan orang lain. Identitas dapat menumbuhkan solidaritas, tetapi juga berpotensi menciptakan batas antara “kita” dan “mereka”.

Fenomena ini relevan dengan kehidupan digital. Perbedaan pilihan, latar belakang, maupun pandangan dapat dengan mudah berkembang menjadi pertentangan ketika seseorang lebih sibuk membela kelompoknya daripada memahami persoalan secara utuh.

Padahal, semangat Sumpah Pemuda justru mengajarkan bahwa identitas yang beragam dapat bertemu dalam identitas kebangsaan yang lebih luas.

Menjadi bagian dari kelompok tertentu tidak harus membuat seseorang memusuhi kelompok lain. Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan berarti tetap mampu bekerja bersama meskipun memiliki pandangan berbeda.

Baca Juga:
Kejaksaan dan ASLINMAS Tebar Bibit Cabai di Brebes Wujud Nyata Sumpah Pemuda untuk Ketahanan Pangan

Kita juga perlu mengubah ukuran keberhasilan anak muda. Popularitas dan jumlah pengikut bukan satu-satunya indikator kontribusi. Anak muda yang membangun usaha, mendampingi masyarakat, menjaga lingkungan, atau mengembangkan pengetahuan mungkin tidak selalu viral, tetapi dapat menghadirkan dampak nyata.

Jürgen Habermas, melalui pemikiran konsep ruang publik, menekankan pentingnya ruang komunikasi tempat masyarakat bertukar gagasan dan memperdebatkan persoalan bersama secara kritis.

Dalam kehidupan demokratis, komunikasi idealnya membantu masyarakat memahami masalah, bukan sekadar memenangkan pertengkaran.

Sayangnya, ruang digital tidak selalu memenuhi harapan tersebut. Perdebatan dapat berubah menjadi saling serang, kritik dianggap permusuhan, dan informasi yang belum terverifikasi terlanjur menyebar luas.

Kondisi inilah yang menjadi tantangan bagi generasi muda sekaligus institusi yang mendidik mereka. Kita sering meminta anak muda kritis, tetapi belum tentu siap mendengarkan kritik mereka.

Kita mendorong kreativitas, tetapi terkadang terlalu cepat menghakimi ketika mereka mencoba sesuatu yang berbeda.

Anak muda bukan sekadar objek pembinaan. Mereka harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, menguji gagasan, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Sebaliknya, kebebasan berpendapat juga harus disertai tanggung jawab, penghormatan terhadap martabat orang lain, dan kesediaan memeriksa kebenaran informasi. Hal ini kualitas komunikasi menjadi ukuran penting kedewasaan masyarakat. Bukan seberapa keras seseorang berbicara, tetapi juga seberapa kuat argumennya dan seberapa besar kesediaannya mendengarkan.

Manuel Castells, dengan gagasan network society, menjelaskan jaringan komunikasi dan teknologi informasi membentuk kehidupan sosial serta distribusi kekuasaan.

Di era digital yang serba ini, gagasan dapat menyebar dengan cepat dan individu memiliki peluang lebih besar untuk membangun jaringan serta memengaruhi percakapan publik.

Bagi anak muda Indonesia, peluang tersebut sangat besar. Mereka dapat mempromosikan usaha lokal, mengembangkan gerakan sosial, menyebarkan pengetahuan, dan mengangkat persoalan masyarakat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Maka dari itu, konektivitas tidak otomatis menghasilkan perubahan. Jangkauan yang luas tidak selalu berarti pemahaman yang mendalam. Konten yang ramai diperbincangkan juga belum tentu menyelesaikan persoalan.

Karena itu, kecakapan digital perlu berjalan bersama integritas dan empati. Anak muda perlu berani memeriksa fakta, memahami konteks, dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan manfaat.

Kecerdasan buatan dapat membantu manusia mengembangkan gagasan, tetapi keputusan tentang kebenaran, etika, dan dampak sosial tetap membutuhkan tanggung jawab manusia. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemanusiaan tidak boleh tertinggal.

Kita tidak bisa membebankan seluruh persoalan bangsa kepada generasi muda. Mereka juga membutuhkan pendidikan berkualitas, kesempatan kerja yang layak, serta ruang yang adil untuk berkembang namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengambil peran.

Mahasiswa dapat membangun budaya akademik yang jujur. Pelaku usaha muda dapat menciptakan bisnis yang memperhatikan masyarakat dan lingkungan. Kreator konten dapat menggunakan pengaruhnya untuk menyebarkan pengetahuan, bukan sekadar mengejar perhatian.

Perubahan memang tidak mudah. Terkadang, perubahan berawal dari keputusan sederhana: tidak ikut menyebarkan kebencian, berani membela mereka yang diperlakukan tidak adil, atau tetap jujur ketika mengambil jalan pintas yang terasa lebih mudah.

Pada saat yang sama, orang tua, pendidik, pemerintah, dan dunia usaha harus berhenti sekadar menuntut anak muda menjadi harapan bangsa. Mereka perlu menyediakan kesempatan nyata agar harapan tersebut dapat tumbuh menjadi kemampuan dan tindakan.

Sumpah Pemuda seharusnya hidup dalam ruang kelas yang menghargai perbedaan, organisasi yang menjunjung integritas, ruang digital yang sehat, dan kebijakan yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkontribusi.

Indonesia tidak membutuhkan anak muda yang hanya pandai mengucapkan kebanggaan terhadap bangsanya. Indonesia membutuhkan generasi yang bersedia merawat kebanggaan itu melalui tindakan nyata.

Sumpah Pemuda bukan hanya tentang apa yang diikrarkan anak muda pada 1928, tetapi juga tentang apa yang berani kita kerjakan hari ini.

Jangan hanya menjadi generasi yang mewarisi Indonesia. Jadilah generasi yang ikut memperbaikinya. Sebab, masa depan bangsa selain sesuatu yang kita tunggu, juga sesuatu yang kita bangun bersama melalui pilihan dan tindakan hari ini. (*)

*) Herru Prasetya Widodo, S.AP., M.Si, merupakan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Tribhuwana Tunggadewi.

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co
  •  Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat pada redaksi