KETIK, BATU – Wali Kota Batu Nurochman mempelajari penerapan pertanian modern berbasis teknologi di Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya menyiapkan program Smart Integrated Farming di Kota Batu.

Studi praktik tersebut menyoroti pentingnya membangun ekosistem pertanian yang menghubungkan produksi, teknologi, pendampingan petani hingga akses pasar.

Nurochman bersama rombongan mengunjungi greenhouse sayuran hidroponik dan melon premium milik Diah di Kota Salatiga serta Kebun Keraton di Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Kedua lokasi tersebut merupakan mitra CV Tirta Fertindo Pratama, perusahaan agribisnis yang bergerak dalam budidaya pertanian modern berbasis hidroponik.

Di lokasi, rombongan melihat penerapan budidaya tomat ceri, melon premium dan berbagai jenis sayuran hidroponik yang dikelola dengan sistem terukur. Model tersebut juga menerapkan pola kemitraan yang menghubungkan petani dengan penyedia benih, pendampingan teknis, sarana produksi hingga pasar modern.

“Yang kami pelajari hari ini bukan hanya bagaimana menanam dengan teknologi modern, tetapi bagaimana membangun sebuah ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mulai dari penyediaan bibit, budidaya, pendampingan, hingga pemasaran hasil panen,” ujarnya, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Baca Juga:
Kado HUT Ke-25 Kota Batu, Pemkot Targetkan Kekosongan Jabatan Eselon II Mulai Terisi

Menurut Politisi PKB ini, penerapan teknologi memungkinkan lahan dengan luasan terbatas tetap menghasilkan produk hortikultura berkualitas. Ia menilai pendekatan tersebut juga dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian.

“Pertanian modern harus mampu menarik minat generasi muda. Dengan teknologi yang tepat, pemanfaatan ruang yang efisien, dan kepastian pasar, sektor pertanian dapat menjadi usaha yang menjanjikan sekaligus berkelanjutan,” tambah Cak Nur, sapaanya.

Konsep yang dipelajari tersebut akan menjadi gambaran bagi pengembangan Smart Integrated Farming di Kota Batu. Program ini disiapkan di kawasan sekitar 2,59 hektare di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, dengan konsep ekosistem pertanian terpadu.

Kawasan tersebut akan mengintegrasikan greenhouse hortikultura, pertanian lahan terbuka, perikanan, peternakan dan pengolahan limbah dalam satu sistem.

Baca Juga:
Anggaran Proyek Simpang Empat Patih Kota Batu Rp10 Miliar Dipecah, Ini Penjelasan DPUPR

Komoditas greenhouse yang direncanakan meliputi tomat beef, selada merah, paprika dan stroberi, sedangkan lahan terbuka akan dikembangkan untuk cabai rawit, wortel dan bunga kol.

Sistem tersebut juga akan terhubung dengan budidaya ikan nila dan peternakan ayam petelur melalui konsep pertanian berkelanjutan dan minim limbah atau zero waste.

Pengembangan kawasan dirancang bertahap pada 2026 hingga 2030. Tahun 2026 diarahkan untuk finalisasi konsep, riset dan penyusunan grand design.

Tahap berikutnya pada 2027 mencakup pembangunan infrastruktur, penyiapan kelembagaan, SOP serta penguatan sumber daya manusia. Uji coba produksi ditargetkan dimulai pada 2028, kemudian dilanjutkan operasional penuh, hilirisasi produk dan perluasan jejaring bisnis pada 2029-2030.

“Ketika Smart Integrated Farming berjalan, kita sudah memiliki gambaran bagaimana mengelola kawasan pertanian yang terintegrasi dan memberi nilai tambah bagi petani,” tutur dia.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendorong regenerasi petani dengan melibatkan generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z.

Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) serta penguatan kelembagaan melalui CooSAE diharapkan memperkuat akses petani terhadap teknologi, pembiayaan dan pasar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak.(*)