KETIK, LEBAK – PT Lebak Niaga Perseroda Kabupaten Lebak, Banten, mencatat telah menyerap sebanyak 2.168 ton gabah selama tujuh bulan masa operasional efektif, yakni April hingga Oktober 2026.
Ke depan, perusahaan daerah tersebut menargetkan peningkatan serapan gabah dari petani lokal Lebak hingga 50-60 persen, terutama saat musim panen raya 2027.
Direktur Utama PT Lebak Niaga Perseroda, Ilham Akbar, mengatakan, kegiatan produksi sebenarnya telah dimulai sejak Januari 2026. Namun, pada periode tersebut, perusahaan masih melakukan sejumlah uji coba sebelum akhirnya memasuki tahap operasional secara efektif pada April.
"Kalau produksi sebenarnya sudah mulai sejak Januari. Hanya saja, saat itu masih dalam tahap uji coba. Produksi yang efektif dan mulai berjalan normal baru kami lakukan pada April. Jadi, selama tujuh bulan, mulai April sampai Oktober 2026, total gabah yang berhasil kami serap mencapai 2.168.301 kilogram atau sekitar 2.168 ton," kata Ilham saat diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Kamis 5 November 2026.
Dari total gabah yang diserap tersebut, Lebak Niaga berhasil menghasilkan beras dengan tiga klasifikasi kualitas, yakni medium, medium super, dan premium.
Baca Juga:
KI Banten Umumkan 8 Penerima Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2026, Ini DaftarnyaBerdasarkan data produksi perusahaan hingga Oktober 2026, beras kualitas medium mencapai 562.912 kilogram atau sekitar 562 ton. Sementara itu, produksi beras medium super tercatat sebanyak 706.860 kilogram atau sekitar 706 ton, sedangkan beras premium mencapai 92.849 kilogram atau sekitar 92 ton.
Dengan demikian, total produksi beras Lebak Niaga selama periode April-Oktober 2026 mencapai 1.362.621 kilogram atau sekitar 1.362 ton. Adapun rata-rata rendemen atau persentase hasil pengolahan gabah menjadi beras berada pada kisaran 60-62 persen.
Ilham menjelaskan, salah satu fokus perusahaan ke depan bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, melainkan juga memperkuat penyerapan gabah hasil panen petani Kabupaten Lebak.
Baca Juga:
Buka Nusantara Livestock Expo 2026, Andra Soni Dorong Investasi dan Alih Teknologi PeternakanPasalnya, dari total gabah yang selama ini diserap perusahaan, kontribusi gabah lokal Lebak baru mencapai sekitar 30 persen. Adapun sekitar 70 persen sisanya masih dipasok dari daerah lain, terutama Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan wilayah sekitarnya.
"Kalau dilihat dari 2.168 ton gabah yang sudah kami serap, persentase gabah lokal atau gabah dari Kabupaten Lebak baru sekitar 30 persen. Sementara itu, sekitar 70 persen lainnya masih kami beli dari daerah sekitar, seperti Pandeglang, Serang, dan sekitarnya," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian perusahaan dalam menyusun strategi pengadaan bahan baku untuk tahun mendatang. Lebak Niaga berupaya mengoptimalkan potensi produksi gabah di wilayah Kabupaten Lebak agar kebutuhan bahan baku perusahaan dapat lebih banyak dipenuhi oleh petani setempat.
Pada momentum panen raya 2027, perusahaan menargetkan proporsi serapan gabah lokal dapat meningkat menjadi 50-60 persen. Sementara itu, pemenuhan pasokan dari luar daerah akan dilakukan apabila ketersediaan gabah di Kabupaten Lebak belum mampu mencukupi kebutuhan produksi.
"Ke depan, yang akan kami fokuskan adalah momentum panen raya 2027. Kami berusaha mengoptimalkan serapan gabah lokal, khususnya gabah dari Kabupaten Lebak. Target kami, serapan gabah lokal bisa mencapai 50-60 persen. Sisanya baru kami penuhi dari luar daerah apabila memang ketersediaan gabah lokal belum mencukupi," kata Ilham.
Meski demikian, Ilham mengungkapkan, harapan jangka panjang perusahaan adalah seluruh kebutuhan gabah untuk produksi beras Lebak Niaga dapat dipenuhi dari hasil panen petani Kabupaten Lebak.
Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat dilakukan perusahaan secara sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dan sinergi berbagai pihak, terutama instansi pemerintah yang memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Dalam hal ini, Lebak Niaga bersama Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak tengah mendorong penguatan ekosistem pertanian di sektor hulu. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan pasokan gabah lokal secara berkelanjutan, baik dari sisi jumlah maupun kontinuitas hasil panen.
"Kami berharap ke depan 100 persen gabah yang diserap Lebak Niaga merupakan gabah lokal Lebak. Ini juga sejalan dengan apa yang sedang dirancang oleh Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, dan Lebak Niaga untuk memperkuat ekosistem di sektor hulu, sehingga pasokan gabah dari petani lokal bisa lebih optimal," tuturnya.
Sebagai langkah konkret, Lebak Niaga juga telah melakukan pertemuan dengan Dinas Pertanian dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Lebak pada bulan sebelumnya. Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat koordinasi dengan kelompok tani agar hasil panen petani dapat terserap oleh perusahaan daerah.
Ilham mengatakan, KTNA Lebak telah menyatakan komitmennya untuk mengoordinasikan para anggota agar dapat memasarkan hasil panennya melalui Lebak Niaga.
Selain itu, KTNA Kabupaten Lebak juga dijadwalkan menggelar rembuk KTNA pada November 2026. Dalam agenda tersebut, Lebak Niaga bersama Dinas Pertanian diharapkan dapat terlibat dalam pembahasan lebih lanjut mengenai pola kerja sama antara organisasi petani dan perusahaan daerah tersebut.
"Untuk rencana optimalisasi serapan gabah lokal, bulan kemarin kami sudah duduk bersama dengan Dinas Pertanian dan KTNA Lebak. KTNA berkomitmen mengoordinasikan anggotanya agar hasil panen mereka dapat dijual ke Lebak Niaga," ungkap Ilham.
Ia berharap, melalui rembuk KTNA tersebut, dapat dirumuskan bentuk kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan antara petani dan Lebak Niaga. Dengan demikian, hasil panen petani lokal memiliki kepastian pasar, sementara perusahaan daerah memperoleh pasokan bahan baku yang lebih terjamin.
"Mudah-mudahan dalam rembuk KTNA nanti, Lebak Niaga dan Dinas Pertanian bisa hadir untuk merancang seperti apa pola kerja samanya. Kami berharap langkah ini dapat mendongkrak serapan gabah lokal Lebak oleh Lebak Niaga, terutama pada musim panen raya 2027," kata Ilham.
Optimalisasi penyerapan gabah lokal tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat keberlanjutan produksi beras Lebak Niaga, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani serta mendorong perputaran ekonomi di sektor pertanian Kabupaten Lebak. (*)