KETIK, PROBOLINGGO – Rektor Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Paiton, Probolinggo, Dr. K.H. Najiburrahman Wahid, menegaskan bahwa gedung megah, akreditasi unggul, dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah belum bermakna jika tidak memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Pesan itu disampaikan dalam Wisuda dan Dies Maulidiyah ke-9 UNUJA, Ahad, 25 Oktober 2026.

Di tengah sorotan terhadap kualitas lulusan perguruan tinggi, Kiai Najib mengajak sivitas akademika menjadikan tema “Berdampak, Menebar Manfaat untuk Umat” sebagai komitmen, bukan sekadar slogan perayaan. Acara dihadiri unsur sipil dan militer, keluarga besar pendiri pesantren, pimpinan universitas, serta para wisudawan dan wisudawati.

Kiai Najib memaparkan jumlah program studi berpredikat unggul di UNUJA naik dari 5 pada 2025 menjadi 8 pada 2026. UNUJA juga meraih predikat berkinerja unggul di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam Anugerah Kampus Unggulan.

Pada 2026, UNUJA mengirim 17 mahasiswa untuk pengabdian ke sejumlah daerah, antara lain Lampung, Manado, Ternate, dan Bali, serta ke luar negeri, yakni Malaysia dan Thailand.

Kampus ini juga menambah program studi sesuai kebutuhan masyarakat. Setelah S2 dan S3 Studi Islam serta S1 Teknologi Pertanian pada 2025, UNUJA membuka S3 Manajemen Pendidikan Islam, S1 Kebidanan, dan Pendidikan Profesi Bidan pada 2026.

Baca Juga:
Kiai Hamid Wahid: Inovasi dan Kemandirian Ekonomi, Dua Kunci Perjuangan di Tengah Tantangan Zaman

Sebagai langkah konkret, pada tahun akademik ini UNUJA akan meluncurkan lembaga pembinaan keagamaan, mencakup pembinaan Al-Qur’an dan kajian kitab. Kampus juga menyiapkan lembaga layanan masyarakat, termasuk layanan hukum dan kesehatan, serta lembaga yang membantu alumni mencari pekerjaan.

Saat ini UNUJA telah memiliki pusat konsultasi hukum, sentra hak kekayaan intelektual dan merek dagang, serta layanan konseling dan psikologi yang terbuka bagi masyarakat umum. Kantornya berada di sisi utara jalan Pantura, sebelah timur SPBU Tanjung. Gedung di lokasi itu yang belum terpakai akan direvitalisasi untuk lembaga layanan masyarakat.

Kiai Najib menyebut hari itu merayakan perjalanan institusi sekaligus perjalanan hidup manusia, lalu mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa semua ini dilakukan? Menurutnya, pertanyaan itu justru penting diajukan saat merayakan keberhasilan agar orang tidak lupa diri.

Beliau mempertanyakan apakah makin banyak sarjana otomatis makin banyak persoalan masyarakat terselesaikan, dan apakah kemajuan ilmu selalu sejalan dengan kemajuan akhlak dan budaya.

Baca Juga:
Klinik Az-Zainiyah Layani Cek Kesehatan Gratis untuk 200 Warga Karanganyar

“Kita tahu jawabannya tidak selalu demikian,” ujarnya. Sejarah, kata dia, mencatat banyak ironi: ada yang pandai tetapi suka menipu, ada yang kaya gelar tetapi miskin rasa malu, dan ada yang meraih kekuasaan tetapi kehilangan kepedulian.

Pertanyaan itu ia arahkan pula ke dalam kampus: apakah mahasiswa ber-IPK sempurna juga menghormati orang tua dan berguna bagi lingkungannya, apakah dosen tersertifikasi makin berperan di masyarakat, dan apakah prodi unggul melahirkan pribadi-pribadi unggul. Pertanyaan itu, katanya, berlaku pula bagi seluruh pimpinan, termasuk dirinya sendiri.

Kiai Najib mengaitkan hal itu dengan Panca Kesadaran Santri Nurul Jadid, terutama kesadaran bermasyarakat serta berbangsa dan bernegara. Kepedulian sosial dan kebangsaan, menurutnya, bukan pilihan, melainkan keharusan hidup. Orang yang hanya memikirkan ekonomi dan pendidikannya sendiri, tegasnya, telah lalai dari tanggung jawab perjuangan untuk rakyat banyak.

Kiai Najib mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Ilmu, gelar, dan kemajuan institusi, lanjutnya, harus bermuara pada manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri, imbuhnya, tidak cukup menjadi identitas di dokumen kelembagaan atau hiasan kalender tahunan. “Keduanya adalah energi yang seharusnya menggerakkan cara hidup kita,” tegasnya.

Menutup sambutan, Kiai Najib mengajak keluarga besar UNUJA terus bergerak bersama, bukan hanya agar universitas ini lebih besar, tetapi juga lebih bermakna, berdampak, unggul, dan sejahtera. (*)