KETIK, ACEH SINGKIL – Sejumlah petani sawit di Desa Mandumpang, Kecamatan Suro Makmur, Aceh Singkil, meminta pemerintah daerah setempat menjamin kepastian harga dan ketersediaan pupuk bersubsidi jenis urea serta phonska.
“Di tengah tekanan ekonomi masyarakat yang semakin sulit, satu-satunya usaha pertanian sebagai penopang ekonomi keluarga ialah perkebunan kelapa sawit,” kata Parna Tumangger, warga setempat, Kamis, 9 Juli 2026.
"Keluhan kami saat ini sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi di tingkat petani,” imbuhnya.
Selain langka, harga beli di kios juga senantiasa berfluktuasi di kisaran Rp220 ribu per 50 kilogram.
Parna menjelaskan, sepengetahuan petani, pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi turun sekitar 20 persen. Untuk kemasan 50 kilogram, harga eceran di kios resmi dipatok sebesar Rp90 ribu untuk urea dan Rp92 ribu untuk NPK Phonska.
Baca Juga:
365 Petani Sawit di Aceh Singkil Ikuti Pelatihan SDMPKS"Kelangkaan pupuk, dan mahalnya harga beli pupuk bersubsidi berimbas kepada perawatan rutin. Efeknya tanaman sawit masyarakat menjadi kurang maksimal menghasilkan TBS," ungkapnya.
Ia berharap Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, segera menyikapi keluhan para petani sawit atas kelangkaan dan mahalnya harga tebus tersebut, sekaligus menjamin ketersediaan pupuk di lapangan. (*)