KETIK, ACEH SINGKIL – Pencapaian produktivitas tanaman padi di Desa Pawoh, kecamatan Susoh, Abdya kini mulai mencuri perhatian. Pasalnya petani disana mampu menghasilkan gabah 10,2 ton dalam satu hektare.

Capaian tersebut dinilai menjadi salah satu indikator penguatan sektor pertanian mulai memperlihatkan hasil. Abdya dinilai mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"Produktivitas menjadi salah satu ukuran penting yang perlu dipertahankan secara berkelanjutan, " kata Rifqi Maulana, Koordinator Presidium Persatuan Pemuda Mahasiswa Aceh Serantau, Selasa, 22 September 2026.

Menurut Rifqi, kepemimpinan Bupati Abdya, Safaruddin perlu dilihat dari bagaimana pemerintah daerah mampu menghubungkan kebijakan daerah dengan dukungan pemerintah pusat serta kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Yang menarik bukan hanya angka produksinya. Ada proses yang harus kita lihat, mulai dari akses benih, dukungan pemerintah, komunikasi dengan pemerintah pusat sampai bagaimana hasil akhirnya dapat dirasakan petani,” kata Rifqi. 

Baca Juga:
Jumpai Rektor, Kakan Kemenag Aceh Singkil Usulkan Kuota Jurusan Kedokteran Bagi Lulusan Madrasah

Ia menilai keberhasilan memperoleh dukungan dari pemerintah pusat menjadi salah satu faktor yang penting bagi daerah. Terlebih, Abdya sebelumnya juga memperoleh dukungan benih padi dalam jumlah besar.

Tahun pertama kepemimpinan Safaruddin, sebut Rifqi, berhasil membawa pulang 25 ton benih padi dari pemerintah pusat untuk mendukung kebutuhan petani di Abdya.

Bagi Rifqi, dukungan tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan pemerintah daerah membuka komunikasi dan membangun koordinasi lintas pemerintahan.

“Daerah tidak bisa berjalan sendiri. Kemampuan membangun komunikasi dengan pemerintah pusat menjadi penting agar program nasional bisa ditarik dan manfaatnya langsung oleh masyarakat daerah,” jelasnya.

Baca Juga:
KTU MAN Aceh Singkil Ikuti Pengisian Eviden Pilot Project Pembangunan ZI WBK dan WBBM di Banda Aceh

Tidak hanya sektor pertanian, lanjutnya, langkah pemerintah Abdya juga terlihat dari sektor perumahan masyarakat. Abdya mendapatkan alokasi program bedah rumah yang bersumber dari APBN.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan hunian yang lebih layak.

Rifqi melihat dua sektor tersebut memiliki keterkaitan dalam agenda pembangunan daerah.

“Pertanian menyangkut ekonomi dan ketahanan pangan, sementara rumah layak menyangkut kualitas hidup. Kalau keduanya bergerak bersama, pembangunan akan lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya lagi, capaian tersebut juga memberi ruang bagi Safaruddin untuk memperkuat konsistensi kebijakan. Produktivitas padi yang tinggi, harus diikuti dengan kebijakan pascapanen, kepastian pasar, penguatan kelompok tani dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian.

Dengan begitu, petani tidak hanya mampu menghasilkan produksi tinggi, tetapi juga memperoleh pendapatan yang lebih baik.

Rifqi melanjutkan bahwa capaian produksi 10,2 ton per hektare seharusnya menjadi momentum bagi Abdya untuk memperkuat identitasnya sebagai salah satu daerah pertanian strategis di Aceh.

Ia pun mengingatkan bahwa tantangan pemerintah daerah berikutnya adalah menjaga agar capaian tersebut tidak berhenti sebagai angka produksi dalam satu musim.

“Kalau ingin menjadikan Abdya sebagai daerah pertanian yang kuat, produktivitas harus konsisten. Setelah produksi tinggi, pemerintah perlu memastikan petani mendapatkan harga yang baik, akses pasar, teknologi dan pendampingan,” jelas Rifqi. 

Harapannya, agar capaian hari ini dapat menjadi fondasi untuk langkah yang lebih besar. Bagaimana petani semakin produktif, masyarakat semakin sejahtera, dan Abdya semakin kuat secara ekonomi,” ungkapnya. (*)