KETIK, SIMEULUE – Kelompok Tani (Poktan) Mareen Safakat, Desa Linggi, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Aceh, melaksanakan pengolahan tanah untuk program cetak sawah baru di Blang Sereta, Rabu, 7 Oktober 2026. Lahan yang diolah mencapai 11 hektare.
Peninjauan dan pengolahan tanah perdana tersebut dihadiri Kepala Desa Linggi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Ketua Brigade Pangan Simeulue Timur, Kejerun Blang, kepala dusun, serta para petani setempat.
Para pengurus kelompok tani bersama perangkat desa menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia atas perhatian dan program cetak sawah baru yang digulirkan di Kabupaten Simeulue, khususnya Desa Linggi.
Kepala Desa Linggi, Salmulyadi, juga menyampaikan apresiasi atas dimulainya pengolahan tanah untuk program cetak sawah baru tersebut. Ia berharap program itu menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa.
"Atas nama Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat Desa Linggi, kami menyambut baik dan mengucapkan rasa syukur yang mendalam atas dimulainya program cetak sawah baru ini. Ini adalah peluang emas sekaligus amanah besar bagi kita semua untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan taraf hidup para petani," ujar Salmulyadi.
Baca Juga:
Mentan RI Amran Sulaiman Tegaskan Stok Pangan Aman, Siap Hadapi Musim Kemarau 2026"Mari kita kawal bersama program ini dari tahap pengolahan tanah hingga masa panen nanti. Semoga kerja keras kita hari ini membawa berkah dan hasil yang melimpah bagi kemajuan Desa Linggi yang kita cintai."
Di sela peninjauan, para petani juga menyampaikan sejumlah kendala dan kebutuhan agar program cetak sawah baru dapat berjalan optimal.
Ada tiga aspirasi utama yang disampaikan petani.
Pertama, infrastruktur jalan usaha tani. Belum tersedianya akses menuju lokasi cetak sawah baru menyulitkan mobilitas petani, termasuk pengangkutan alat dan hasil pertanian.
Baca Juga:
Dua Kades Terpilih Wakili Simeulue sebagai Peserta Program Kepala Desa Masuk Kampus di UIKedua, pengamanan lahan. Petani membutuhkan pagar untuk melindungi tanaman padi dari gangguan hewan liar atau ternak. Mereka mengusulkan bantuan 100 gulung kawat harmonika.
Ketiga, bantuan benih padi. Kelompok tani menyebut belum tersedia stok benih siap tanam di tingkat petani. Mereka berharap mendapat bantuan 800 kilogram benih padi untuk segera ditanam pada musim tanam tahun ini.
Kelompok Tani Mareen Safakat bersama masyarakat Desa Linggi berharap aspirasi tersebut mendapat respons dan tindak lanjut dari Kementerian Pertanian RI demi mendukung swasembada pangan di Kabupaten Simeulue, Aceh.