KETIK, LABUHAN BATU – Pembayaran sewa menyewa meja beton di Pasar Tradisional Sioldengan, Kecamatan Rantau Selatan, Labuhanbatu setahun sudah pasca berlalunya bulan Agustus tahun 2026.

Terdapat ratusan warga telah melunasi sewa meja beton ukuran 1X1 meter sebesar Rp1.095.000 kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Pemkab Labuhanbatu.

Namun mirisnya, masyarakat sebagai penyewa rata-rata berlatar belakang ekonomi kelas menengah ke bawah itu, tidak kunjung menikmati hasil jual beli dagangan dari sewa lapak tersebut.

Selain pusat perdagangan kategori tradisional itu tidak juga diresmikan Bupati Labuhanbatu sebagai tanda dimulai pergerakan perdagangan, Kepala Dinas Perindag, Chairuddin Nasution beberapa hari lalu, malah dicopot dari jabatannya.

Pengakuan DS (38) seorang warga Rantauprapat, Senin, 14 September 2026 mengatakan telah melunasi uang sewa meja beton pada bulan Agustus tahun 2025 selama setahun penuh dengan perkalian Rp. 3000 perharinya.

Baca Juga:
Gegara Kipas Angin Seharga Rp800 Ribu, Warga Bilah Hilir Diringkus Unit Reskrim

Tetapi, sudah setahun lebih pasca membayar kewajiban, pasar tradisional itupun tidak juga diresmikan. Dampaknya, mereka mengalami kerugian jutaan rupiah akibat kebijakan tidak tepat pada dinas terkait.

Awalnya, pedagang beramai-ramai masih mempertahankan kondisi jualan tanpa pembeli. Takut kerugian terus-menerus, secara berangsur mereka terpaksa mengosongkan meja beton di pasar itu.

"Awalnya dibilang mau diresmikan bupati, semangatlah kami. Tapi hampir sebulan kami jualan, tidak jadi juga. Sementara, modal terus tertanam, pembeli tak ada. Terakhir, kami tutuplah," terang DS.

Beruntung bagi yang memiliki modal simpanan. Menurut DS, sejumlah pedagang bahkan melakukan pinjaman ke bank guna menambah modal. Kini, mau tidak mau, terpaksa membayar kredit tanpa pemasukan.

Baca Juga:
Sebelum Ikuti HUT ke-48 di Jakarta, FKPPI Sumut Ziarahi Makam Tokoh di Kalibata

Tidak sampai di sana, bahkan sebagian pedagang yang sudah melunasi sewa meja beton selama setahun itu, terdapat pedagang yang sebelumnya berjualan di emperan Pasar Gelugur Rantauprapat. Naas, belakangan tidak lagi bisa kembali berjualan.

"Ada yang minjam uang bank atau uang koperasi, sekarang tinggal membayari sajalah. Ada juga sebelumnya jualan di Pasar Gelugur, karena dekat rumahnya pindah dia ke Pasar Sioldengan. Pala sekarang lokasinya sudah ditempati orang," tambah DS lagi.

Untuk itu, DS maupun lainnya berharap kepada Bupati Labuhanbatu, Hj Maya Hasmita dapat melihat keterpurukan warga akibat telah membayar sewa meja di Pasar Tradisional Sioldengan, tetapi tidak diberdayakan.

Amatan Ketik.com, Selasa, 15 September 2026, situasi di komplek Pasar Tradisional Sioldengan terlihat sepi. Di sana, hanya 1 dari 25 kios terlihat masih berjualan, itupun kios di bawah binaan Dinas Perindag Labuhanbatu.

Sementara, 126 meja beton di bagian dalam komplek, sama sekali tidak da pedagang beraktifitas. Kondisi lokasi yang seyogyanya perdagangan sayuran, ikan dan daging, masih terlihat bersih dan kering.

Menurut Eko mengaku sebagai security di Pasar Tradisional Sioldengan yang merupakan pegawai Dinas Perindag Labuhanbatu, dia sendiri tidak mengetahui pasti penyebab tidak adanya pedagang di sana.

Awalnya, meja beton maupun kios yang disediakan, masih ditempati warga dengan jajakan berbagai jenis dagangan. Bahkan, ada yang bertahan hingga 4 bulan lamanya, belakangan akhirnya tutup juga.

Sayangnya, Chairuddin Nasution selaku Kepala Dinas Perindag Labuhanbatu yang beberapa hari lalu telah diganti dari jabatannya, hingga kini tidak dapat ditemui. Nomor handphone yang diperoleh, pun tidak kunjung aktif.(*)