KETIK, SORONG – Seorang pedagang bakso keliling di Kota Sorong, Papua Barat Daya, menjadi korban pengeroyokan sekelompok pemuda di Jalan Pendidikan, sekitar Masjid Raodah KM 8, Minggu, 13 September 2026.

Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka serius hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Korban diketahui bernama Tri Ari Denianto (29).

Setelah dianiaya, korban mengalami pendarahan hebat di bagian wajah hingga pingsan dan tidak sadarkan diri.

Warga sekitar kemudian meminta bantuan dan membawa korban ke RSUD Sello Be Sollu untuk mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga:
Wujud Kepedulian TNI AU, Lanud Husein Sastranegara Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di NTT

Setelah menjalani pemeriksaan, termasuk CT Scan, tim medis menyatakan korban mengalami pendarahan di otak dan patah hidung.

Kondisi tersebut membuat korban membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi akibat luka serius yang dialaminya.

Namun, persoalan biaya menjadi kendala dalam proses pengobatan.

Meskipun korban memiliki BPJS Kesehatan, biaya penanganan akibat luka yang dialami disebut tidak ditanggung sehingga pihak rumah sakit memasukkan korban sebagai pasien umum.

Baca Juga:
Peringatan Maulid Nabi, Warga IKK Kota Sorong Gelar Berbagai Tradisi

Biaya pengobatan yang harus ditanggung korban disebut mencapai sekitar Rp50 juta.

Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian dari Yayasan At-Taubah Peduli Sorong (YAPS), Papua Barat Daya.

Yayasan tersebut berupaya membantu korban dengan menggalang donasi dan berkomunikasi dengan sejumlah donatur.

"Setelah kami mendapatkan informasi terkait kondisi korban, kami menggalang donasi dan melakukan komunikasi dengan beberapa donatur yang ada untuk membantu korban," ungkap Edi, Senin, 14 September 2026.

Edi mengatakan Tri merupakan kepala rumah tangga yang merantau seorang diri ke Sorong untuk mencari nafkah. Sementara keluarganya berada di Subang, Jawa Barat.

Menurutnya, pihak yayasan juga berkoordinasi dengan keluarga korban terkait kondisi dan kebutuhan pengobatan Tri.

"Pada saat kami sedang mengurus pasien dan melakukan koordinasi dengan pihak keluarganya, karena terkendala biaya pengobatan akhirnya korban diminta untuk pulang ke Jawa," kata Edi.

Ia menambahkan, kondisi korban yang membutuhkan operasi menjadi persoalan karena keluarga tidak memiliki kemampuan untuk menanggung biaya tindakan medis tersebut.

"Keluarga terkendala dengan biaya operasi korban karena dari latar belakang yang kurang mampu, keluarga meminta korban untuk pulang saja," pungkas Edi.

Hingga saat ini, penanganan korban masih menjadi perhatian pihak keluarga dan Yayasan At-Taubah Peduli Sorong.

Bantuan dari para donatur diupayakan untuk meringankan beban biaya serta mendukung proses pemulihan korban.(*)