KETIK, SURABAYA – Orasis Art Space menggelar pembukaan pameran tunggal bertajuk “Moelyono: Resisten” pada Rabu, 28 Oktober 2026. Pameran ini menghadirkan karya-karya seniman Moelyono yang mengangkat praktik kesenian sebagai ruang penyadaran, pemberdayaan masyarakat, dan perlawanan terhadap berbagai persoalan sosial.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Managing Director Orasis Art Space, Deby P. Dewi. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan kurator Wicaksono Adi yang menjelaskan gagasan di balik pameran serta perjalanan praktik artistik Moelyono selama lebih dari empat dekade.

Dalam sambutannya, Wicaksono Adi menjelaskan bahwa praktik kesenian Moelyono tidak hanya dapat dilihat melalui karya yang dipamerkan di galeri. Proses panjang yang dijalani bersama masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan artistiknya.

 

Pengunjung mengamati karya seni dalam gallery tour pada pembukaan pameran “Moelyono: Resisten” di Orasis Art Space, Surabaya, pada Rabu, 28 Oktober 2026. (Foto: Putri Nabilla Setiyanti/Ketik.com)

Baca Juga:
Ini 3 Lagu Perunggu Wajib Masuk Playlist, Temani Gen Z Kejar Mimpi

 

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Moelyono yang membagikan pengalamannya berkesenian bersama masyarakat di berbagai daerah. Melalui praktik tersebut, ia memandang seni tidak hanya sebagai bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan sosial di lingkungan mereka.

Pembukaan pameran kemudian dilakukan oleh Obed Bima Wicandra, yang dikenal sebagai Pak Obed. Ia merupakan dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra Surabaya sekaligus salah satu perintis gerakan mural dan seni jalanan di Surabaya.

Setelah rangkaian sambutan dan pembukaan resmi, para tamu mengikuti gallery tour untuk melihat secara langsung karya-karya yang ditampilkan dalam pameran “Moelyono: Resisten”. Berbagai karya tersebut merepresentasikan perjalanan artistik Moelyono, mulai dari seni instalasi, lukisan, hingga drawing yang mengangkat persoalan sosial, konflik agraria, dan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan ruang hidupnya.

Baca Juga:
Falcon Pictures Umumkan Deretan Pemain Film "Gasigogi", Vino G. Bastian Jadi Pemeran Utama

Salah satu karya yang ditampilkan adalah instalasi “Geger Pabrik Gula” yang mengangkat persoalan sosial melalui elemen kesenian ludruk. Selain itu, terdapat karya yang mengangkat simbol perlawanan masyarakat Papua melalui noken dan Salib Merah.

Meski pembukaan pameran telah dilaksanakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, pameran “Moelyono: Resisten” baru dibuka untuk umum mulai Kamis, 29 Oktober 2026 hingga 25 November 2026. Pameran berlangsung di Orasis Art Space, Jalan Bukit Golf No. B2-25, Sambikerep, Surabaya, dan dapat dikunjungi setiap Selasa hingga Minggu pukul 11.00–18.00 WIB.(*)