KETIK, BANDUNG – Penguatan literasi keuangan sejak dini menjadi semakin penting di tengah maraknya penipuan digital dan meningkatnya penggunaan layanan keuangan nontunai. Melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perluasan edukasi agar masyarakat semakin cakap mengelola keuangan dan memahami risiko transaksi.

Upaya tersebut turut dilakukan Permata Bank melalui program Permata CERITA 2026 di SMP Ganesha Bandung, Jumat (16/10/2026). Program bertema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA” itu dilaksanakan di 24 kota di Indonesia dengan melibatkan lebih dari 500 karyawan sebagai relawan edukasi.

Urgensi edukasi tersebut tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun sebesar 56,04 persen. Sementara itu, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 702.342 laporan penipuan pada periode 22 November 2024 hingga 30 September 2026, dengan kerugian yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, literasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu mengambil keputusan finansial secara bijak di tengah perkembangan teknologi digital.

“Di tengah pesatnya transformasi digital, kami percaya bahwa literasi keuangan merupakan bekal penting yang perlu ditanamkan sejak dini, agar generasi muda tidak hanya cakap menggunakan layanan keuangan, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan,” kata Meliza.

Baca Juga:
Bank Banten KCK Rangkasbitung Edukasi Pelajar SMAN 1 Kalanganyar soal Literasi Keuangan

Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan materi smart spending melalui MODul finansiAL (MODAL). Mereka diajak membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas belanja, menunda keinginan, menyisihkan uang untuk ditabung, serta memahami penggunaan QRIS dan transfer daring secara aman.

Siswa juga diperkenalkan pada metode 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko transaksi digital. Materi mencakup pentingnya menjaga informasi pribadi, termasuk PIN dan kode OTP, serta meminta bantuan orang tua atau guru jika menemukan aktivitas digital yang mencurigakan.

Kepala Tim Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Indra Gunawan mengapresiasi edukasi keuangan bagi siswa tersebut. Ia menegaskan, pemahaman mengenai uang tunai tetap diperlukan meskipun transaksi digital terus berkembang.

“Di tengah perkembangan pembayaran digital, pemahaman mengenai uang tunai tetap penting karena Rupiah masih digunakan dalam berbagai transaksi sehari-hari. Kami juga mendorong generasi muda untuk memanfaatkan pembayaran digital secara bijak serta memahami cara bertransaksi yang aman, baik secara tunai maupun nontunai,” ujar Indra.

Baca Juga:
OJK Dorong Kolaborasi Perbankan dan BUMD Wujudkan Ekosistem Padi Terintegrasi di Lebak

Permata CERITA merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial Permata Hati. Pada periode 2016–2025, program tersebut telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat di berbagai kota tempat Permata Bank beroperasi.(*)