KETIK, SURABAYA – Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Jawa Timur memasuki babak baru kepengurusan dengan kembali mempercayakan tongkat kepemimpinan kepada KH Ahmad Faiz AHZ, M.Phil.

Ia ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua DPW HEBITREN Jawa Timur periode 2026–2031 dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) di Hotel Bidakara Surabaya, Kamis, 24 September 2026.

Keputusan tersebut diambil melalui musyawarah mufakat setelah seluruh rangkaian agenda Muswil yang diikuti pengurus DPD HEBITREN dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Bagi HEBITREN Jatim, Muswil bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Agenda lima tahunan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi periode 2021–2026 dan merumuskan agenda penguatan ekonomi pesantren untuk lima tahun berikutnya.

Seluruh rangkaian sidang pleno dipimpin Agus Jui Purmawan sebagai pimpinan sidang, didampingi Robert Edy Sudarwan sebagai sekretaris sidang. Forum diawali dengan pengesahan tata tertib dan agenda persidangan, kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi, pengesahan hasil komisi, pembahasan laporan pertanggungjawaban, hingga proses demisioner dan pemilihan ketua.

Baca Juga:
Gubernur Khofifah Ajukan Dua Raperda Strategis, Perkuat Pemuda-Olahraga dan Siapkan Dana Cadangan Pilgub Jatim

Dalam Sidang Pleno III, laporan pertanggungjawaban kepengurusan DPW HEBITREN Jawa Timur periode 2021–2026 diterima peserta Muswil. Kepengurusan tersebut kemudian dinyatakan demisioner sebelum forum memasuki agenda pemilihan ketua untuk periode 2026–2031.

Pada Sidang Pleno IV, nama KH Ahmad Faiz kembali mengemuka. Melalui musyawarah mufakat, ia ditetapkan sebagai Ketua Terpilih sekaligus Formatur Tunggal.

Formatur mendapat mandat menyusun struktur kepengurusan DPW HEBITREN Jawa Timur periode 2026–2031 dengan mempertimbangkan keterwakilan wilayah, kompetensi, kebutuhan organisasi, serta arahan Ketua Umum DPP HEBITREN.

Usai menerima amanah untuk kembali memimpin, KH Ahmad Faiz menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta Muswil. Ia menegaskan, terpilihnya kembali dirinya bukanlah kemenangan personal, melainkan amanah bersama untuk memperkuat gerakan ekonomi pesantren.

Baca Juga:
Jatim Raih Dua Penghargaan JDIH Nilai Sempurna! Gubernur Khofifah: Wujud Komitmen Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel dan Transparan

“Terima kasih atas amanah yang kembali diberikan. Ini bukan kemenangan pribadi, tapi kemenangan bersama seluruh santri,” kata Gus Faiz sapaan akrabnya

Ia menyebut potensi pesantren di Jawa Timur sangat besar dan perlu dikelola melalui kerja bersama agar mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas.

Menurut KH. Ahmad Faiz, konsolidasi menjadi salah satu pekerjaan utama kepengurusan baru. Ia menyebut Jawa Timur memiliki sekitar 6.800 pesantren yang dapat menjadi kekuatan besar apabila terhubung dalam ekosistem ekonomi yang terintegrasi.

“Ke depan, tugas kita bukan lagi berjalan sendiri-sendiri. Jatim punya 6.800 pesantren, ini kekuatan besar. Kita akan tuntaskan konsolidasi DPD, kita bangun katalog digital produk pesantren, dan kita wujudkan pesantren berdaulat, santri digital, guru sejahtera,” ujarnya.

Agenda tersebut menunjukkan arah baru HEBITREN Jatim yang tidak hanya bertumpu pada penguatan struktur organisasi, tetapi juga mendorong terbentuknya jaringan usaha antarpesantren.

KH. Ahmad Faiz menekankan pentingnya membangun pola kerja terintegrasi antara pesantren, koperasi, UMKM santri, serta jaringan usaha yang berada dalam ekosistem HEBITREN. Dengan pola tersebut, potensi ekonomi pesantren diharapkan tidak berkembang secara terpisah, tetapi dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi bersama.

Selain menetapkan kepemimpinan baru, Muswil juga merumuskan arah program kerja HEBITREN Jawa Timur untuk periode 2026–2031 melalui sidang-sidang komisi.

Hasil pembahasan komisi kemudian disahkan sebagai pokok arah yang akan menjadi dasar penyusunan program kerja kepengurusan baru.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah tindak lanjut program DPP HEBITREN, khususnya Dana Abadi Pesantren melalui WIZSTREN.

Robert Edy Sudarwan selaku Dewan Eksekutif Pusat WIZSTREN memberikan arahan terkait penguatan program tersebut dalam forum Muswil. Penguatan program ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun keberlanjutan ekonomi pesantren.

Di sisi lain, Kyai Reza Pahlipi Bakhtiar selaku Ketua Bidang Keorganisasian menekankan pentingnya pembenahan tata kelola organisasi. Tertib administrasi, koordinasi antarpengurus, dan konsolidasi menjadi sejumlah aspek yang dinilai penting untuk menopang pelaksanaan program lima tahun mendatang.

Hasil Muswil beserta susunan kepengurusan selanjutnya akan diajukan kepada DPP HEBITREN untuk menjadi dasar penerbitan Surat Keputusan (SK) pengesahan kepengurusan DPW HEBITREN Jawa Timur periode 2026–2031.

Pelantikan kepengurusan direncanakan berlangsung pada Jumat (25/9/2026), setelah SK dari DPP HEBITREN diterbitkan atau sesuai ketentuan organisasi yang berlaku.

Dengan kembali terpilihnya KH Ahmad Faiz, HEBITREN Jawa Timur membawa agenda konsolidasi yang lebih luas: memperkuat jaringan organisasi sekaligus menghubungkan potensi ekonomi pesantren dalam satu ekosistem yang lebih terintegrasi.

Lima tahun ke depan akan menjadi periode bagi HEBITREN Jatim untuk memperkuat kolaborasi antarpesantren, mengembangkan digitalisasi produk, membenahi tata kelola, serta mendorong kemandirian ekonomi pesantren secara profesional dan berkelanjutan.

Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) merupakan wadah penguatan jejaring dan pengembangan ekosistem ekonomi bisnis pesantren. Di Jawa Timur, HEBITREN mengonsolidasikan kekuatan pesantren dan organisasi wilayah untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren secara profesional, kolaboratif, dan berkelanjutan.(*)