KETIK, MALANG – Puluhan warga Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang mengikuti pelatihan perancangan motif batik berbasis relief Candi Kidal yang diselenggarakan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun industri kreatif berbasis kearifan lokal.

Melalui pelatihan ini, warga diajak mengembangkan motif batik yang terinspirasi dari relief Candi Kidal sebagai identitas budaya desa. Motif tersebut diharapkan menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat branding Desa Kidal.

Ahmad Taufik, Kepala Desa Kidal, menilai desa tersebut memiliki potensi budaya yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk ekonomi kreatif.

"Potensi yang dimiliki desa ini perlu kita olah agar dapat menjadi komoditas yang bernilai dan memberikan manfaat pada masa mendatang," ujarnya.

Andreas Syah Pahlevi, S.Sn., M.Sn., dosen Departemen Seni dan Desain UM, menjelaskan teknik mengolah relief Garuda Candi Kidal menjadi motif batik tanpa menghilangkan makna filosofis dan unsur budaya lokal.

Baca Juga:
Dorong Pemberdayaan Masyarakat, Dosen UM Bekali Warga Singosari Keterampilan Olah Talas dan Singkong

Relief Garudeya menjadi salah satu inspirasi motif batik unik khas Desa Kidal, Kabupaten Malang.(Foto: Dendy/Ketik.com)

Salah satu peserta, Laily, berhasil memadukan sayap Garudeya, relief Tirta Amerta, dan kuda lumping menjadi motif batik yang unik. Ia berharap ada pelatihan lanjutan berbasis teknologi agar proses produksi batik menjadi lebih efisien.

Tim PPKO DMF Sastra UM akan melanjutkan pendampingan hingga proses legalisasi motif batik sebagai batik khas Desa Kidal. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas budaya desa sekaligus meningkatkan daya saing produk batik di pasar yang lebih luas.

Program ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.

Baca Juga:
Mau Kuliah di Malang? Ini Daftar 10 Universitas Terbaik Versi EduRank 2026