KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu (Pemkot Batu) memetakan kebutuhan dan kendala pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program Cak Nur Sapa UMKM.

Kegiatan yang dipimpin langsung Wali Kota Batu Nurochman tersebut menjadi upaya mendorong peningkatan skala usaha sekaligus mengidentifikasi dukungan yang dibutuhkan pelaku UMKM di Kota Batu.

Dalam kegiatan itu, Nurochman bersama jajaran mengunjungi sejumlah pelaku usaha, mulai dari produsen cuka buah, pengolah oleh-oleh berbahan apel manalagi, seniman kaligrafi, packing houseCooSae, hingga Arjuna Triple Nine yang memproduksi keripik buah dan sayur untuk pasar ekspor.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu, Dian Fachroni, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas UMKM kini menjadi salah satu indikator kinerja pemerintah daerah.

Selain menambah jumlah pelaku usaha, Pemkot Batu menargetkan peningkatan kelas bisnis dari usaha ultra mikro menjadi mikro, mikro menjadi kecil, serta kecil menjadi menengah.

Baca Juga:
Usia 25 Tahun, Pariwisata Kota Batu Dituntut Segera Naik Kelas Pikat Kunjungan Turis Asing

“Yang berawal dari usaha ultra mikro ke mikro, dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah. Nah, target yang dinaikkan skalanya, awalnya menjadi target dinas, sekarang menjadi target pemerintah kota,” jelasnya, Selasa, 13 Oktober 2026.

Menurutnya, keterlibatan langsung Wali Kota dalam kegiatan tersebut bertujuan memastikan upaya peningkatan skala usaha menjadi perhatian pemerintah daerah pada tahun ini.

Pemetaan kondisi nyata UMKM juga diperlukan untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai, baik melalui pemenuhan sarana dan prasarana maupun program pendukung lainnya.

“Dan harapannya salah satu program strategis daerah mewujudkan mall UMKM itu dengan cara pemetaan kondisi realitas UMKM di Kota Batu,” papar dia.

Baca Juga:
Hapus Like and Dislike, 40 Pejabat Pemkot Batu Jalani Seleksi Kepala Dinas Jalur Merit

Dian menambahkan, hasil kunjungan lapangan turut mengungkap sejumlah hambatan yang dihadapi pelaku usaha. Untuk produk tertentu, seperti tanaman hias dan komoditas yang memerlukan penanganan khusus, persoalan karantina menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian.

Ia menyebut Nurochman telah membuka komunikasi informal dengan Badan Karantina Indonesia untuk membahas kemungkinan fasilitasi layanan karantina bagi produk-produk asal Kota Batu yang membutuhkannya.

“Dan kemarin Pak Wali membuka komunikasi secara informal dengan Badan Karantina Indonesia untuk bisa difasilitasi nantinya Pemerintah Kota Batu sebagai karantor untuk produk-produk yang memang butuh karantina,” ungkap Dian.

Selain karantina, kendala yang banyak ditemui pelaku usaha berada pada aspek ekspedisi atau pengiriman produk.

Sementara itu, dukungan permodalan disebut telah banyak difasilitasi melalui Bank Indonesia dan pihak lainnya. Adapun perizinan usaha dinilai sudah cukup tertata melalui upaya yang berkaitan dengan target investasi daerah.

Menurut Dian, pendampingan UMKM memiliki keterkaitan dengan sejumlah agenda pembangunan daerah, mulai dari pengendalian inflasi, peningkatan investasi, hingga penguatan perputaran ekonomi masyarakat.

“Jadi, kegiatan-kegiatan untuk turun ke UMKM itu banyak hal yang dapat kita intervensi, baik itu pengendalian inflasi, nilai investasi, penanaman modal, terutama juga perputaran ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap upaya tersebut dapat mendorong perkembangan usaha lokal sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Batu yang terus ditargetkan meningkat.(*)