KETIK, LEBAK – Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Lebak, Banten, merespons cepat laporan mengenai seorang guru swasta yang bertahan hidup bersama keluarganya di rumah bambu berukuran 3x5 meter dengan penghasilan Rp 250.000 per bulan.
Kepala Dinas Perkim Kabupaten Lebak, Iwan Sutikno, mengatakan pihaknya langsung melakukan verifikasi di lapangan begitu informasi tersebut diterima.
Gerak cepat itu, kata Iwan, merupakan bagian dari semangat RUHAY yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lebak, yakni Rukun, Unggul, Hebat, dan Sejahtera. Semangat itu diwujudkan dalam pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan warga.
"Hari ini saya masih verifikasi dulu data seorang guru swasta tersebut. Kita cek tinggalnya di mana, sumber datanya dari mana," ujar Iwan saat dikonfirmasi, Kamis 8 Oktober 2026.
Iwan menjelaskan, untuk program Bantuan Stimulan Rumah Swadaya (BSRS) pada tahun anggaran 2026, kuota di Kabupaten Lebak sudah habis teralokasikan.
Baca Juga:
Dinas Perkim Lebak Salurkan BSRS 2026 bagi 262 Penerima, Progres Hampir 100 PersenNamun, pihaknya tidak berhenti. Perkim Lebak akan mengajukan tambahan bantuan ke Pemerintah Provinsi Banten dengan harapan dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
"Untuk BSRS 2026 ini sudah habis. Kita akan mengajukan ke Provinsi Banten, mudah-mudahan tahun ini bisa direalisasi," kata Iwan.
Kisah yang mendapat perhatian Perkim itu dialami Abdullah, warga Kampung Ci Cenang, Desa Pasirkupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.
Di lahan milik mertuanya, Abdullah membangun rumah berukuran sekitar 3 x 5 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang telah menua. Sebagian material bangunan bahkan berasal dari bahan bekas. Kayu-kayu penyangga atap pun mulai lapuk dimakan usia.
Baca Juga:
Gaji 250 Ribu, Guru Swasta di Lebak Bertahan Hidup di Rumah Bambu 3x5 MeterDi rumah itulah Abdullah tinggal bersama istri dan dua anaknya. Setiap kali hujan deras disertai angin kencang, rasa waswas selalu menyelimuti.
"Kadang saya khawatir kalau hujan lebat dan angin kencang," kata Abdullah.
Sejak 2024, Abdullah mengabdikan diri sebagai guru swasta di salah satu sekolah di Kecamatan Kalanganyar. Namun, penghasilannya jauh dari kata layak.
"Mulai mengajar dari tahun 2024 sampai sekarang. Setiap bulan saya menerima Rp 225.000, ditambah Rp 25.000. Jadi setiap bulan sekitar Rp 250.000," ujar Abdullah.
Keterbatasan ekonomi membuatnya harus memutar otak. Di sela mengajar, ia berjualan makanan ringan untuk para siswanya demi menambah penghasilan.
Di tengah keterbatasan itu, ia masih harus menghadapi persoalan jaminan kesehatan keluarga. BPJS Kesehatan miliknya masih aktif, sementara milik istri dan dua anaknya sudah tidak aktif.
Harapannya kini sederhana, yakni memiliki hunian yang lebih kokoh dan layak, agar ia bisa tetap mengajar dengan tenang tanpa dihantui rasa cemas saat hujan dan angin datang. (*)