KETIK, JAKARTA – Suara azan Subuh yang menggema dari Masjidil Haram, Mekkah, pada Senin, 21 September 2026 dini hari menjadi lantunan terakhir Syekh Ibrahim Al Madani sebagai muazin di tempat suci tersebut.
Beberapa jam setelah mengumandangkan azan, Al Madani mengembuskan napas terakhir pada usia 50 tahun. Kepergiannya meninggalkan kisah panjang tentang pengabdian seorang muazin yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari suasana ibadah di sekitar Ka'bah.
Kabar wafatnya Syekh Ibrahim Al Madani dilaporkan Inside the Haramain. Rekaman yang dibagikan media tersebut memperlihatkan suasana Masjidil Haram dan Ka'bah ketika suara azan Al Madani terdengar melalui pengeras suara masjid pada panggilan pertama salat Subuh.
Tidak ada yang menyangka, lantunan tersebut menjadi azan terakhirnya. Saalat jenazah Al Madani dijadwalkan berlangsung setelah salat Asar pada Senin di Masjidil Haram. Setelah itu, jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, Mekkah.
Syekh Ibrahim Al Madani sendiri lahir di Madinah pada 1976. Ia tumbuh dalam keluarga religius yang turut membentuk kecintaannya terhadap Al-Qur'an dan dunia masjid.
Baca Juga:
Masjidil Haram Makkah Diguyur Hujan LebatSang kakek merupakan seorang penghafal Al-Qur'an. Sosok tersebut memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidup Al Madani hingga akhirnya memilih jalan pengabdian melalui suara azan. Ketertarikannya menjadi muazin bahkan tumbuh sejak usia belia.
Ketika berusia 15 tahun, Al Madani mulai mengumandangkan azan di sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Tugas tersebut dijalankannya secara bergiliran bersama tiga tetangganya.
Kebiasaan itu terus dilakukan hingga ia menyelesaikan kuliah. Namun, perjalanan Al Madani sebagai muazin sempat terhenti. Ia harus meninggalkan Madinah untuk menjalankan pekerjaan sebagai pengajar.
Beberapa tahun kemudian, panggilan untuk kembali mengumandangkan azan datang. Pada 1428 Hijriah atau sekitar 2007-2008, Al Madani kembali menjadi muazin di Masjid Al Maddah. Dari masjid itulah perjalanan pengabdiannya perlahan membawanya menuju Masjidil Haram.
Baca Juga:
Arab Saudi Blokir Rp66,2 Miliar Dana Haji 2027, DPR dan Pemerintah RI Ajukan KeberatanTahun 1439 Hijriah atau 2017-2018 menjadi titik penting dalam kehidupan Al Madani. Ia resmi diangkat sebagai salah satu muazin Masjidil Haram. Sejak saat itu, suaranya menjadi bagian dari lantunan azan yang menggema di masjid paling suci bagi umat Islam.
Al Madani merupakan satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Setiap hari, enam muazin mendapat giliran mengumandangkan azan untuk lima salat wajib serta azan pertama untuk salat Subuh.
Di antara tugas tersebut, Al Madani dikenal terutama melalui azan Subuh dan takbiratnya. Tugasnya tidak berhenti pada azan. Ia juga menjalankan tabligh, yakni menyampaikan takbir dan gerakan imam kepada jamaah melalui sistem pengeras suara Masjidil Haram.
Dengan tugas tersebut, suara Al Madani bukan hanya menjadi penanda masuknya waktu salat, tetapi juga membantu jamaah mengikuti rangkaian ibadah di tengah padatnya suasana Masjidil Haram.
Kini, suara itu telah menjadi kenangan. Pada Senin 21 September 2026 dini hari, Al Madani meninggal dunia beberapa jam kemudian setelah mengumandangkan adzan. (*)