KETIK, MALANG – Upaya mencegah bullying di lingkungan sekolah dasar terus diperkuat SD Negeri Gunungsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Tak hanya memberikan pemahaman kepada siswa, sekolah juga melibatkan guru, orang tua, mahasiswa KKN, hingga kepolisian untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sosialisasi anti-bullying yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).
Kegiatan ini membahas berbagai bentuk perundungan, dampaknya terhadap kesehatan mental, serta pentingnya saling menghargai. Berdasarkan keterangan guru, bullying yang ditemukan di lingkungan sekolah umumnya berupa kekerasan fisik, saling mengejek, hingga ejekan yang membawa nama orang tua.
"Anak-anak gampang terpancing emosi ketika merasa tersinggung, bersenggolan, atau terjadi kesalahpahaman kecil. Dari situ masalah kadang memuncak menjadi perkelahian atau tindakan bullying," ungkap Ninis, salah satu guru SD Negeri Gunungsari.
Menurutnya, sebagian konflik bermula dari candaan atau ejekan yang dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani, hal tersebut dapat berkembang menjadi perundungan.
Baca Juga:
DPKPCK Kabupaten Malang Terus Tancap Gas, 7 Perumahan Segera Masuk Proses Penyerahan PSUKarena itu, guru dan wali kelas menjadi garda terdepan dalam pencegahan bullying. Edukasi tentang saling menghargai juga disisipkan dalam kegiatan belajar sehari-hari. Sekolah turut menggandeng Bhabinkamtibmas atau pihak kepolisian untuk memberikan sosialisasi secara berkala, terutama pada awal semester.
"Pembelajaran tentang saling menghargai bisa disisipkan secara rutin, bahkan sehari-hari, lewat kegiatan belajar mengajar dan pembinaan siswa," tambah Ninis yang juga sebagai wali kelas 5B.
Dalam menangani kasus bullying, sekolah memilih pendekatan bertahap. Siswa yang melakukan pelanggaran terlebih dahulu diberikan pembinaan. Jika masalah tergolong serius, orang tua akan dilibatkan untuk mencari solusi bersama.
"Sebelum menentukan tindakan, kami selalu berusaha mengungkap akar permasalahan dengan meminta keterangan dari siswa yang terlibat. Pendekatan ini kami lakukan agar penanganan lebih menyeluruh dan tidak tergesa-gesa memberi sanksi," jelasnya.
Baca Juga:
Mulai dari DLH, Bupati Sanusi Targetkan Seluruh Kantor Pemkab Malang Berubah Jadi Eco-OfficeSosialisasi yang melibatkan mahasiswa KKN Unikama tersebut juga dinilai memberikan perubahan positif. Siswa disebut semakin memahami perbedaan antara candaan dan bullying serta lebih berani melapor ketika mengalami atau melihat perundungan.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Mereka jadi lebih paham mana yang termasuk bullying dan mana yang sekadar candaan. Saya melihat perubahan sikap siswa setelah mengikuti sosialisasi, mereka lebih berani melapor jika melihat atau mengalami perundungan," ujarnya.
Bagi SD Negeri Gunungsari, pencegahan bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah. Peran orang tua juga dinilai penting untuk mengawasi pergaulan sekaligus membentuk karakter anak di rumah.
"Kami selalu mengingatkan orang tua agar turut memperhatikan pergaulan anak dan memberikan pemahaman tentang pentingnya menghormati teman," tambahnya.
Melalui kolaborasi tersebut, SD Negeri Gunungsari berharap budaya saling menghargai semakin kuat sehingga siswa dapat belajar tanpa rasa takut dan tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama.
"Kami ingin siswa tumbuh menjadi pribadi yang berani membela kebenaran dan peduli terhadap teman. Gerakan anti-bullying ini adalah bentuk nyata komitmen kami mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua siswa," pungkas Ninis.(*)