KETIK, LAMONGAN – Stigma bahwa madrasah hanya menjadi lokasi mengaji kini perlahan mulai berubah. Hal ini ditegaskan dengan adanya Expo dan Rapat Kerja Nasional (EXTRANAS) VIII yang berlangsung pada Jumat, 11 September 2026, di Sport Center Lamongan.
EXTRANAS yang diikuti 1.254 peserta dari 19 provinsi di Indonesia ini dibuka oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno. Acara ini berlangsung pada 10–13 September 2026.
Berbagai agenda digelar dalam rangkaian kegiatan, mulai dari expo dan kompetisi keterampilan hingga forum rapat kerja serta penguatan jejaring antarmadrasah.
Dalam sambutan pembukaannya, Amien Suyitno mengajak seluruh insan madrasah untuk terus melakukan perubahan dan menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Kita semua harus berubah. Madrasah harus mampu melahirkan generasi bangsa yang mendunia,” ujarnya.
Baca Juga:
Bantuan 27 Ton Dikirim dari Jatim ke NTT, BAZNAS Sumbang 5 Ton BerasMenurut Amien, madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter, dan fondasi religiusitas.
Ia mengingatkan agar berbagai tantangan tidak menjadi alasan bagi madrasah untuk berhenti bergerak. Sebaliknya, setiap tantangan perlu dipelajari, dikembangkan, dan dijawab bersama melalui inovasi.
“Kalau ada tantangan, jangan pernah takut untuk menghadapinya. Mari kita pelajari, kita kembangkan, dan kita jawab bersama,” katanya.
Lebih lanjut, Amien mengangkat pesan-pesan kearifan lokal yang dinisbatkan pada ajaran Catur Piwulang Sunan Drajat sebagai refleksi bagi pengembangan pendidikan madrasah.
Baca Juga:
Expo Madrasah 2026, Kakanwil Kemenag Jatim Ingin Hapus Stigma KampunganPesan pertama, “wenehono tongkat marang wong wuto”, atau memberikan tongkat kepada orang yang buta. Menurutnya, makna tersebut tidak sebatas pada kebutaan secara fisik, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan keterampilan, pekerjaan, maupun life skill.
Karena itu, madrasah keterampilan diharapkan mampu memberikan “tongkat” kepada peserta didik dalam bentuk keterampilan dan soft skill sebagai bekal menjalani kehidupan.
Pesan kedua, “wenehono payung marang wong kang udan”, atau memberikan payung kepada orang yang kehujanan. Pesan ini mengajarkan pentingnya memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Sementara itu, pesan ketiga, “wenehono pangan marang wong kang keluwen”, mengajarkan kepedulian sosial dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Adapun pesan keempat, “wenehono sandhang marang wong kang wuda”, menegaskan pentingnya kepedulian terhadap kebutuhan dasar manusia.
“Jauh sebelum konsep-konsep ekonomi modern berkembang, para wali telah mengajarkan kepada kita nilai-nilai kepedulian sosial tersebut. Betapa konsep religiositas yang diajarkan para wali sangat kontekstual dengan kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Amien mengajak para guru dan pengelola madrasah untuk tidak berhenti melakukan inovasi. Menurutnya, berbagai capaian madrasah saat ini sudah berada di atas rata-rata. Namun, capaian tersebut justru harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas.
“Pekerjaan kita tidak ringan, karena kita harus terus memacu diri untuk menjadi lebih baik. Kemajuan madrasah harus terus kita dorong agar semakin mampu menjawab tantangan zaman, memiliki daya saing, dan membawa nama madrasah semakin luas, bahkan hingga ke tingkat dunia,” pungkasnya.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Jawa Timur, khususnya Kabupaten Lamongan, sebagai tuan rumah EXTRANAS VIII Tahun 2026.
“Kami menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur untuk menjadi tuan rumah EXTRANAS VIII. Mudah-mudahan kepercayaan ini menjadi harapan kita bersama dan senantiasa mendapatkan rida serta pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya. (*)