KETIK, SURABAYA – Puluhan emak-emak dari tiga RW di Kelurahan Wonokusumo, Surabaya, kompak membersihkan Sungai Mrutu sekaligus mengedukasi warga agar tidak membuang sampah ke sungai.

Kegiatan tersebut juga menjadi upaya melawan sejumlah mitos yang masih berkembang di masyarakat, termasuk anggapan membuang popok sekali pakai ke sungai dapat mencegah kulit anak mengalami ruam.

Selain popok sekali pakai, terdapat pula mitos membuang kasur ke sungai setelah pemiliknya meninggal dunia.

Kebiasaan tersebut dinilai tidak relevan karena benda-benda yang dibuang ke sungai justru dapat menambah timbunan sampah, mencemari lingkungan hingga memicu persoalan kesehatan.

Kegiatan bersih-bersih Sungai Mrutu digelar sekaligus menyambut perayaan Hari Sungai Dunia.

Baca Juga:
KPK Sita Perhiasan Diduga Emas Puluhan Juta usai Geledah Kanwil BPN Jatim

Para warga tidak hanya mengangkut sampah dari sungai, tetapi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Direktur Yayasan Lohjinawi sekaligus penggagas kegiatan, Yasmin, mengatakan kebiasaan membuang sampah ke sungai masih ditemukan, terutama pada sungai yang beririsan langsung dengan kawasan permukiman.

"Dulu sungai anggapannya tempat sampah paling gampang. Tinggal lempar, beres. Tapi kalau banjir dan bau, kita sendiri yang kena dampaknya," ungkap Yasmin, Sabtu, 26 September 2026.

Menurut Yasmin, salah satu upaya untuk mengurangi sampah yang masuk ke aliran sungai dilakukan Yayasan Lohjinawi dengan memasang trash boom di Kali Mrutu, Surabaya.

Baca Juga:
Asap Putih di PTC Surabaya Bikin Heboh Pengunjung Mal

"Alasan kami memasang trash boom di sini karena menurut kami beban Kali Mrutu paling berat. Apalagi aliran air di sungai ini langsung mengarah ke laut, jadi kami buat trash boom di sini," ungkapnya.

Selain pemasangan trash boom, Yayasan Lohjinawi juga telah membentuk sekitar 500 bank sampah dengan kapasitas serapan sekitar 20 ton sampah per bulan.

Yasmin menegaskan, kegiatan bersih-bersih sungai tidak sekadar memindahkan sampah dari air ke daratan. Sampah yang masih dapat didaur ulang langsung dibawa ke tempat pengolahan.

"Seperti membuat pot bunga dari botol bekas," imbuhnya.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah warga yang juga menjadi kader lingkungan turut menanam tumbuhan di bibir Kali Mrutu.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung kebersihan kawasan sungai.

Sementara itu, program Sungai Lestari yang digelar di Kali Mutiara merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab yang dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup.

Program tersebut diimplementasikan UNDP Indonesia bersama Clean Rivers melalui Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sungai, termasuk meninggalkan anggapan bahwa sungai merupakan tempat untuk membuang berbagai benda yang sudah tidak digunakan.(*)