KETIK, JAKARTA – Kekeringan pernah melanda Madinah pada masa Rasulullah SAW.

Di tengah kondisi tersebut, seorang Arab Badui datang ketika Nabi Muhammad SAW sedang menyampaikan khutbah Jumat.

Ia meminta Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.

Doa Rasulullah SAW kemudian dikabulkan. Hujan turun dengan deras hingga berlangsung selama beberapa hari dan membuat aliran air memenuhi parit-parit di Kota Madinah.

Namun, ketika hujan berlangsung terus-menerus hingga Jumat berikutnya, masyarakat kembali meminta Rasulullah SAW berdoa agar hujan dihentikan.

Baca Juga:
Antusias Pemuda dan Warga Pante Rakyat, Rajin Latihan Zikir Jelang Maulid Nabi

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Anas dan terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Dalam riwayat itu disebutkan seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang berkhutbah di Madinah.

Laki-laki tersebut menyampaikan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

"Hujan tidak turun, mohonlah kepada Tuhanmu agar hujan diturunkan."

Baca Juga:
Ribuan ASN dan Warga Pinrang Gelar Shalat Istisqa, Berdoa Memohon Turunnya Hujan

Rasulullah SAW kemudian memandang ke arah langit. Saat itu, menurut riwayat tersebut, tidak terlihat adanya awan.

Nabi Muhammad SAW lalu berdoa kepada Allah SWT agar hujan diturunkan.

Setelah doa tersebut dipanjatkan, awan mulai berkumpul. Hujan kemudian turun hingga air mengalir di parit-parit Kota Madinah.

Hujan tidak hanya turun sesaat. Dalam riwayat tersebut disebutkan hujan terus berlangsung hingga Jumat berikutnya.

Pada Jumat berikutnya, ketika Rasulullah SAW kembali menyampaikan khutbah, seorang laki-laki berdiri dan menyampaikan kondisi yang terjadi akibat hujan yang terus turun.

"Kami telah tenggelam, mohonlah kepada Tuhanmu agar menahan hujan itu dari kami."

Rasulullah SAW kemudian tertawa.

Setelah itu beliau kembali berdoa kepada Allah SWT, tetapi kali ini meminta agar hujan tidak lagi mengguyur Kota Madinah.

"Ya Allah, di sekitar kami, jangan di atas kami."

Doa tersebut diucapkan Rasulullah SAW dua atau tiga kali. Setelah itu, awan terkuak dari Kota Madinah menuju ke kanan dan kiri.

Hujan kemudian turun di wilayah sekitar Madinah, sementara Kota Madinah tidak lagi diguyur hujan. Dalam riwayat tersebut disebutkan hujan bahkan tidak turun di dalam kota meskipun hanya sedikit.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kisah yang menggambarkan terkabulnya doa Rasulullah SAW atas izin Allah SWT.

Kisah itu sekaligus menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memohon pertolongan Allah SWT ketika masyarakat menghadapi kekeringan dan kemudian kembali memohon agar hujan dialihkan ketika curah hujan telah berlebihan.

Kisah tentang Rasulullah SAW meminta hujan tersebut dikutip dari buku Sa'atan Sa'atan karya Syekh Mahmud Al-Mishri.

Doa Rasulullah SAW Saat Memohon Hujan

Selain kisah tersebut, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang dapat dipanjatkan ketika umat Islam memohon turunnya hujan.

Doa itu berkaitan dengan shalat istisqa, yakni shalat sunnah yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa ketika meminta turunnya hujan, Rasulullah SAW biasa berdoa:

"Allahummasqi 'ibaadaka wa bahaa-imaka wansyur rohmataka wa ahyi baladakal mayyita."

Artinya:

"Ya Allah, siramlah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu, dan tebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah kembali bumi-Mu yang mati."

Doa tersebut mengandung permohonan agar hujan tidak hanya memberikan manfaat bagi manusia, tetapi juga bagi hewan dan bumi yang mengalami kekeringan.

Dalam doa itu, umat Islam juga memohon agar Allah SWT menebarkan rahmat-Nya serta menghidupkan kembali bumi yang telah mati akibat kekeringan.

Riwayat mengenai doa tersebut juga disebut terdapat dalam Shahih Abu Dawud dengan lafaz yang sedikit berbeda.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa ketika Rasulullah SAW meminta turunnya hujan, beliau mengucapkan doa tersebut.

Shalat Istisqa Saat Kekeringan

Kekeringan dan minimnya curah hujan dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat.

Persediaan air berkurang, kebutuhan rumah tangga dapat terganggu, sementara tanaman dan hewan juga membutuhkan air untuk bertahan hidup.

Dalam kondisi seperti itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT.

Salah satu bentuk ibadah yang dikenal dalam Islam adalah shalat istisqa atau shalat meminta hujan.

Shalat istisqa menjadi bagian dari tuntunan yang berkaitan dengan permohonan hujan.

Dalam praktiknya, umat Islam memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang memberikan manfaat dan tidak menjadi bencana.(*)