KETIK, JAKARTA – Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan bangsa. Setelah merdeka, Indonesia masih harus menghadapi ancaman penjajahan yang berusaha kembali menguasai Tanah Air.
Di tengah situasi genting itu, para ulama dan santri tampil mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dari pesantren, semangat perlawanan tumbuh. Para santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga dipersiapkan untuk menghadapi peperangan. Salah satu langkah penting dalam sejarah tersebut adalah pembentukan Laskar Hizbullah pada November 1943, yang menjadi bagian dari kekuatan perjuangan rakyat Indonesia.
Perjalanan panjang itu kemudian menemukan salah satu tonggak penting melalui Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945. Seruan yang digelorakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari tersebut mengobarkan semangat umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajah.
Kini, tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan sekadar penghormatan terhadap kalangan pesantren, melainkan juga pengingat atas peran besar ulama dan santri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga:
BAZNAS Kabupaten Bandung Siapkan Santri Jadi Pemimpin BerintegritasLaskar Hizbullah, Strategi Santri Menghadapi Perang
Jauh sebelum Resolusi Jihad dicetuskan, para ulama pesantren telah membaca kemungkinan terjadinya perang setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II.
Saat menduduki Indonesia, Jepang berusaha memperkuat pertahanannya dengan melatih pemuda Indonesia secara militer. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh KH Hasyim Asy'ari untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi kemungkinan datangnya kembali kekuatan kolonial.
Melalui komunikasi dengan pemerintah pendudukan Jepang, gagasan pembentukan laskar yang beranggotakan para pemuda Muslim mulai diwujudkan. Kiai Hasyim menyetujui pelatihan militer tersebut dengan syarat para pemuda memiliki barisan sendiri dan tidak menjadi bagian dari kesatuan militer Jepang.
Baca Juga:
Peringati Hari Santri, ITS Tingkatkan Kompetensi Penyelia Halal dan Perkuat Ekosistem JPHDari langkah itu, lahirlah Laskar Hizbullah pada November 1943, beberapa minggu setelah pembentukan tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Meski berdiri sebagai badan kelaskaran tersendiri, latihan militer Hizbullah secara teknis berada di bawah pengawasan perwira intelijen Jepang, Kapten Yanagawa.
Bagi sebagian orang, keputusan Kiai Hasyim mungkin terlihat seperti bentuk kerja sama dengan Jepang. Namun, di balik keputusan tersebut, terdapat pertimbangan strategis untuk mempersiapkan kekuatan pemuda Indonesia menghadapi ancaman yang lebih besar.
Perhitungan itu terbukti relevan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu. Indonesia yang baru merdeka justru menghadapi ancaman baru berupa upaya Belanda untuk kembali berkuasa.
Para pemuda yang telah mendapatkan latihan militer menjadi salah satu kekuatan yang dapat diandalkan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Dari Cibarusa, Santri Ditempa Menjadi Pejuang
KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (2013) mencatat, latihan angkatan pertama Hizbullah diselenggarakan di Cibarusa, dekat Cibinong, Bogor, pada awal 1944.
Sebanyak 150 pemuda mengikuti latihan tersebut. Mereka merupakan utusan dari berbagai karesidenan di Jawa dan Madura, yang masing-masing mengirimkan lima orang pemuda.
Pusat latihan itu dikelola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin Zainul Arifin. Para pemuda mendapatkan bekal kemiliteran untuk menghadapi kemungkinan pecahnya peperangan.
Namun, pelaksanaan latihan tersebut berlangsung dengan keterbatasan. Waktu yang tersedia tidak banyak, sementara Jepang sendiri mulai mencurigai tujuan keberadaan Hizbullah.
Kondisi itu menjadi perhatian KH Abdul Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy'ari yang turut bertanggung jawab dalam urusan politik Hizbullah.
Kegelisahan itu menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan membutuhkan persiapan matang. Kekuatan militer saja tidak cukup. Perjuangan juga memerlukan kekuatan politik yang mampu mengarahkan langkah bangsa menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.
Bagi para ulama, kemerdekaan bukan hanya persoalan mengibarkan bendera. Kemerdekaan harus dipertahankan agar rakyat terbebas dari penindasan dan dapat menentukan masa depannya sendiri.
Resolusi Jihad Mengobarkan Perlawanan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ancaman terhadap Indonesia belum berakhir. Kedatangan tentara Sekutu yang diboncengi NICA atau pemerintahan sipil Belanda memunculkan kekhawatiran bahwa Belanda akan kembali menjajah Indonesia.
Di Surabaya, ketegangan semakin meningkat. Pada 19 September 1945, rakyat melakukan perlawanan dalam peristiwa perobekan bagian biru bendera Belanda di Hotel Yamato.
Situasi semakin memanas menjelang kedatangan Brigade 49 Divisi India dari tentara Inggris yang dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Kalangan santri dan rakyat menyadari bahwa kedatangan pasukan asing berpotensi memicu peperangan.
Di tengah keadaan tersebut, para ulama NU berkumpul di Surabaya pada 21–22 Oktober 1945. Martin van Bruinessen dalam buku NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994) mencatat bahwa perwakilan cabang NU dari berbagai wilayah Jawa dan Madura menyatakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai jihad.
Pertemuan itu melahirkan Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 yang digelorakan KH Hasyim Asy'ari.
Resolusi tersebut menegaskan bahwa mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia merupakan kewajiban bagi umat Islam. Seruan itu sekaligus menjadi dorongan moral dan keagamaan bagi para santri serta masyarakat untuk melawan upaya penjajahan.
Resolusi tersebut juga mendesak pemerintah agar mengambil tindakan nyata menghadapi berbagai upaya yang dapat membahayakan kemerdekaan, agama, dan negara, terutama ancaman dari Belanda beserta kaki tangannya.
Bagi kalangan pesantren, seruan itu bukan sekadar pernyataan politik. Resolusi Jihad menjadi penegasan bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan sekaligus kebangsaan.
Semangat Jihad Menggema hingga Pertempuran Surabaya
Semangat yang lahir dari Resolusi Jihad kemudian menyebar ke berbagai daerah. Para santri, laskar perjuangan, dan masyarakat bersiap menghadapi pasukan Sekutu yang berusaha memperkuat kedudukannya di Indonesia.
Puncak perlawanan di Surabaya terjadi pada 10 November 1945. Pertempuran besar tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa dan menjadi dasar peringatan Hari Pahlawan Nasional.
Namun, perlawanan tidak hanya berlangsung di Surabaya. Ketika pertempuran dahsyat terjadi di Surabaya, rakyat Semarang juga melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu.
Pertempuran kemudian meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa. Kabar pertempuran tersebut turut menggerakkan para pejuang dari daerah Kedu.
Di Parakan, Temanggung, Laskar Hizbullah dan Sabilillah bergabung dengan pasukan dari berbagai daerah untuk membantu perjuangan di medan pertempuran.
Sebelum berangkat, sebagian pejuang terlebih dahulu mendatangi Kawedanan Parakan untuk menemui KH Subchi, ulama yang dikenal luas di daerah tersebut.
Kiai Subchi memberikan doa dan dukungan spiritual kepada para pejuang. Bambu runcing yang mereka bawa juga didoakan sebagai bekal menghadapi pertempuran.
Bambu runcing kemudian menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah. Di balik senjata sederhana itu, terdapat keberanian, keyakinan, dan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan.
Hari Santri, Pengingat Perjuangan Sepanjang Zaman
Penetapan Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 pada 15 Oktober 2015 menjadi bentuk pengakuan negara terhadap peran santri dan ulama pesantren dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengenang Resolusi Jihad NU yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang menghubungkan perjuangan ulama, gerakan santri, dan perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Hari Santri bukan hanya peringatan tentang masa lalu. Lebih dari itu, momentum ini mengingatkan bahwa kemerdekaan diperoleh melalui pengorbanan banyak pihak, termasuk para santri yang meninggalkan pesantren untuk berjuang di medan perang.
Dari latihan militer di Cibarusa, seruan Resolusi Jihad di Surabaya, hingga perjuangan para laskar di berbagai daerah, sejarah menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa.
Kini, tantangan yang dihadapi santri tidak lagi selalu berupa peperangan bersenjata. Semangat perjuangan dapat diteruskan melalui pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, penguatan persatuan, serta upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejarah Hari Santri mengajarkan satu hal penting, kemerdekaan bukan hanya untuk diraih, tetapi juga harus dijaga. Dan dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia, ulama serta santri telah menunjukkan bahwa kecintaan kepada agama dan Tanah Air dapat berjalan beriringan dalam satu perjuangan. (*)