KETIK, SLEMAN – Di sudut ruang kerjanya yang tenang, Sri Adi Marsanto, ST, MA, kerap menatap selembar denah lama. Bukan sekadar garis garis teknis arsitektur. Bagi pria yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman ini, setiap coretan dan goresan garis menyimpan memori tentang bagaimana sebuah kawasan lahir, tumbuh, beradaptasi, dan menemukan karakternya.

Jejak langkah Adi Marsanto, sapaan akrabnya, bukanlah kisah birokrat konvensional yang menghabiskan hari harinya hanya di balik meja dingin. Selama lebih dari dua dekade, perjalanan kariernya diwarnai oleh ketekunan menerjemahkan visi besar para pemimpin daerah menjadi ruang-ruang publik nyata yang hari ini menghidupkan denyut keseharian masyarakat Sleman.

Fondasi Akademis dan Jejak Sang Dosen Panutan.

Ketertarikan Adi Marsanto pada dunia rancang bangun bermula jauh sebelum ia memasuki dunia birokrasi, yakni dari bangku kuliah. Pada masa-masa pencariannya sebagai mahasiswa S1 Arsitektur Universitas Gadjah Mada, ia berkesempatan menimba ilmu langsung dari seorang maestro: almarhum Ir R Wondoamiseno.

Sosok yang dikenal sebagai arsitek dan dosen Arsitektur UGM tersebut memiliki andil besar dalam melahirkan karya-karya monumental di Yogyakarta yang banyak tersebar di berbagai sudut kota. Karya karya penting beliau meliputi Toko Buku Gramedia Jl Jenderal Sudirman (desain awal), Malioboro Mall (desain awal), Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, UIN Sunan Kalijaga, hingga Sportorium UMY. Bimbingan, disiplin, dan filosofi merancang dari salah satu pelopor arsitektur pascakotemporer/postmodern di Indonesia ini menanamkan standar estetika dan fungsionalitas yang kuat dalam diri Adi Marsanto muda. Serta membentuk cara pandangnya bahwa setiap bangunan atau ruang harus memiliki jiwa dan kebermanfaatan sosial.

"Arsitektur itu bukan sekadar mendirikan tembok atau menata beton, tetapi tentang bagaimana kita merawat ruang hidup dan memberi makna pada setiap jengkal tempat manusia berinteraksi," kenang Adi Marsanto,  merefleksikan nilai-nilai yang ia serap di masa kuliahnya, Jumat 21 Agustus 2026.

Setelah merampungkan studi S1 Arsitektur di UGM, hasrat Adi Marsanto pada penataan ruang membawanya melintasi batas negara untuk memperdalam ilmu perencanaan kota dan daerah (Urban Management) di Universitas Erasmus, Rotterdam, Belanda, hingga berhasil meraih gelar S2 pada tahun 2001. Selain itu, setelah meraih S2 nya, juga sering mengikuti event-event di Nederlands Architecture Institute, Rotterdam, Belanda.

Perjalanan intelektualnya tidak berhenti di ruang kelas universitas saja; ia juga mendapat kesempatan berharga untuk memperluas wawasan arsitektural dan penataan kotanya melalui perjalanan studi serta observasi langsung ke berbagai kota besar di dunia.

Pengalaman berharga tersebut terekam dalam perjalanan lintas benua, mulai dari mengamati penataan kota di Amsterdam, Belanda, meresapi estetika ruang terbuka di Paris, Prancis, menelaah tata kelola urban di Berlin, Jerman, hingga mendalami sistem transportasi dan kawasan publik di Goteborg, Swedia. Seluruh pengalaman internasional ini memperkaya perspektif globalnya tentang bagaimana sebuah ruang hidup dirancang secara manusiawi, berkelanjutan, dan berpihak pada kenyamanan warga.

Mengawal Perencanaan Kawasan dan Penataan Selokan Mataram

Sekembalinya ke tanah air, potensi besar Adi Marsanto ditarik ke dalam lingkaran strategis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman. Di bawah kepemimpinan Kepala Bappeda kala itu, Tri Harjun, serta berkat arahan visioner Bupati Sleman periode 2000 hingga 2010, Ibnu Subiyanto, kala itu Adi Marsanto dipercaya menempati ruang tersendiri untuk menggodok berbagai gagasan pemetaan dan perencanaan kawasan.

Jejak rekam pengabdian birokrasinya dibangun dari bawah melalui berbagai posisi penataan ruang dan perencanaan pembangunan. Berdasarkan data riwayat jabatan, rekam jejak kariernya mencakup rentetan penugasan penting mulai dari Staf Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda, Staf Seksi Tata Ruang dan Tata Bangunan Dinas Kimpraswilhub, Staf Bagian Program Pembangunan hingga Kepala Seksi Tata Bangunan dan Lingkungan Dinas Kimpraswilhub (sekarang Dinas DPUPKP).

Pengalaman panjang di bidang teknis tata ruang dan tata bangunan ini kemudian mengantarkannya memegang mandat manajerial yang lebih luas sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan, sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah puncak sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman.

Peran Adi Marsanto sangat penting dalam menerjemahkan ide-ide besar kepala daerah menjadi kebijakan teknis di lapangan. Salah satu babak paling menantang dan monumental dalam era tersebut adalah penataan Kawasan Selokan Mataram. Pemerintah Kabupaten Sleman di bawah koordinasi teknis yang kuat melakukan penataan menyeluruh, khususnya di kawasan padat penduduk seperti di Wilayah Caturtunggal, untuk mengatasi kompleksitas masalah lingkungan, limbah, dan tata ruang.

Dalam proses penataan kawasan strategis tersebut, sejumlah langkah terobosan dijalankan secara sistematis. Kebijakan ini mencakup penataan lingkungan untuk memperbaiki fungsi saluran air secara komprehensif serta menangani persoalan sampah dan pencemaran limbah di sekitar pemukiman padat penduduk Caturtunggal. Pemkab Sleman juga menata jalan inspeksi di sepanjang aliran air Selokan Mataram agar berfungsi optimal sebagai akses mobilitas warga sekaligus jalur pemeliharaan.

Selain itu, pengawasan ketat dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum untuk menata lanskap dan ruang hijau di sepanjang sempadan agar tidak dialihfungsikan secara tidak sah. Di samping itu, penanganan cepat terhadap tanggul serta talud yang mengalami kerusakan atau ambrol terus diupayakan demi memastikan aliran irigasi pertanian bagi para petani tetap aman tanpa hambatan.

Berkat penataan yang konsisten tersebut, wajah kawasan Selokan Mataram mengalami transformasi drastis. Jika dulunya sisi kanan dan kiri saluran air ini dipadati oleh pedagang liar serta terkesan kumuh, utamanya di kawasan sekitar UGM, kini kawasan tersebut telah berubah menjadi ruang publik yang tertib, bersih, dan dapat dinikmati kenyamanannya oleh masyarakat luas.

"Saat itu tantangannya adalah bagaimana mengembalikan fungsi ekologis tanpa meminggirkan aktivitas warga yang sudah telanjur padat. Semuanya harus dirancang dengan pendekatan humanis," ungkap Adi Marsanto mengenai kerumitan di balik proyek penataan kawasan tersebut.

Tak berhenti pada Selokan Mataram, sentuhan tangan dingin Adi Marsanto juga membekas pada berbagai proyek ikonik Sleman di era tahun 2004 s.d. 2009. Mulai dari merancang Kawasan Camping Ground Kaliadem pasca erupsi Merapi tahun 2006, merancang kawasan publik Lapangan Denggung tahun 2007, merancang bangunan Gedung Bank Sleman tahun 2008, termasuk mendesain dan merumuskan filosofi Logo Bank Sleman, merancang Gedung RSUD Sleman, hingga merencanakan Kawasan Embung Tambakboyo dan pengembangan Kawasan Stadion Maguwoharjo.

 

Potret masa muda Sri Adi Marsanto di depan Musée du Louvre, Paris, Prancis, pada tahun 2004. Perjalanan lintas benua mulai dari Amsterdam, Berlin, Paris, hingga Goteborg menjadi kawah candradimuka yang memperkaya perspektif globalnya tentang bagaimana sebuah ruang hidup dirancang secara manusiawi dan berkelanjutan. (Foto: Dok Adi for Ketik.com)



Kiprahnya berlanjut dalam proyek-proyek kerakyatan seperti penataan Permukiman Dome di Sengir, penataan Kawasan Kali Tengah, perencanaan Kawasan Wisata Gunung Bangkel, perencanaan Kawasan Wisata Lomba Perahu Naga, perencanaan Asrama Mahasiswa, revitalisasi Kampung Code Utara, hingga pendirian Taman Kuliner Condongcatur.

Mengabdi di Dunia Birokrasi: Merancang Fondasi Manusia

Setelah malang melintang menata ruang fisik dan arsitektur kota, takdir birokrasi membawa Adi Marsanto melangkah ke koridor yang berbeda di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Di instansi yang mengemban amanah mencerdaskan kehidupan bangsa inilah ia telah mendedikasikan diri selama kurang lebih 11 tahun, mendampingi dinamika kepemimpinan dari empat era Kepala Dinas Pendidikan yang berbeda.

Bagi banyak orang, berpindah dari dunia tata kota ke dunia pendidikan mungkin tampak seperti sebuah lompatan besar. Namun, bagi seorang perencana berjiwa arsitek seperti Adi Marsanto, benang merahnya tetap sama: membangun fondasi yang kokoh. Jika dulu ia merancang tata letak fisik agar kota nyaman dihuni, di jajaran kesekretariatan dinas pendidikan ia bersama pimpinan merumuskan arah kebijakan strategis agar anak-anak Sleman tumbuh di lingkungan belajar yang inklusif, memadai, dan berkarakter.

"Pekerjaan kami di Dinas Pendidikan ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan merancang struktur bangunan. Bedanya, yang kami tata dan bangun fondasinya di sini adalah masa depan anak-anak kita," tutur Adi Marsanto menegaskan esensi pengabdiannya di dunia pendidikan.

Bagi Sri Adi Marsanto, pengabdian panjang ini adalah sebuah proses penyegaran jiwa, sebuah perjalanan intelektual yang menyatukan kecintaannya pada perencanaan dengan ketulusan melayani masyarakat.

Di balik pembawaannya yang tenang dan bersahaja, ia tetaplah seorang pemikir sunyi yang memandang Sleman bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah karya besar yang harus di rawat dengan ketekunan, visi, dan cinta. (*)

Baca Juga:
Penuh Makna, Pemkab Sleman Gelar Resepsi HUT RI ke-81 Sekaligus Beri Apresiasi Paskibra
Baca Juga:
Sleman Tekan Stunting dan Fokus Tangani Kematian Ibu-Anak