KETIK, GUNUNG KIDUL – Padukuhan Giring di Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diyakini menjadi salah satu titik penting lahirnya Kerajaan Mataram Islam. Kawasan yang identik dengan kisah Ki Ageng Giring dan legenda kelapa bertuah itu kini mulai didorong menjadi museum sejarah berbasis masyarakat.

Kepala Dukuh Giring, Yanto, yang juga merupakan keturunan Ki Ageng Giring, mengatakan berbagai peninggalan sejarah di wilayah tersebut hingga kini masih terawat, mulai dari petilasan rumah, lokasi bertirakat, hingga pohon kelapa yang dipercaya berkaitan dengan kisah lahirnya Mataram Islam.

Menurut cerita turun-temurun, Ki Ageng Giring memperoleh buah kelapa yang diyakini mengandung "Wahyu Kedaton" setelah menjalani tirakat. Namun air kelapa tersebut justru diminum oleh Ki Ageng Pamanahan yang sedang bertamu. Peristiwa itu dipercaya menjadi awal berpindahnya wahyu kepemimpinan kepada keturunan Ki Ageng Pamanahan yang kemudian melahirkan raja-raja Mataram Islam.

Yanto juga mengungkapkan, Padukuhan Giring memiliki keunikan yang hingga kini masih dipercaya masyarakat. Jumlah rumah warga asli disebut tidak pernah berubah, yakni tetap sekitar 40 rumah. Jika ada warga baru yang menetap, biasanya ada warga lama yang pindah dari dusun tersebut.

Di depan rumahnya juga masih berdiri pohon kelapa yang selama puluhan tahun dikeramatkan warga. Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, buah kelapa dari pohon tersebut beberapa kali digunakan untuk kepentingan upacara adat Keraton Yogyakarta.

Baca Juga:
Aperti BUMN Anugerahkan Beasiswa Tahun 2026 Bagi 312 Mahasiswa Bertalenta Unggul di Auditorium UISI Gresik

Potensi sejarah Padukuhan Giring kini mulai mendapat perhatian kalangan akademisi. Universitas Widya Mataram dan Universitas Gunungkidul bersama masyarakat tengah menginisiasi pendirian Museum Giring sebagai pusat penyelamatan benda-benda bersejarah milik warga.

Dosen Universitas Gunungkidul, Septiono, mengatakan mahasiswa diterjunkan untuk melakukan inventarisasi berbagai artefak sejarah yang masih tersimpan di rumah-rumah penduduk agar terdokumentasi dengan baik.

Sementara itu, dosen Universitas Widya Mataram, Satrio, menilai Padukuhan Giring memiliki nilai sejarah yang besar sebagai akar lahirnya Mataram Islam sekaligus memiliki potensi menjadi pusat edukasi dan penelitian sejarah di Yogyakarta.

Dukungan serupa juga datang dari Tim Dosen Telkom University yang dipimpin Sony Sadono. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memberikan perhatian lebih agar upaya pelestarian sejarah tersebut dapat berkembang menjadi destinasi edukasi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.(*)

Baca Juga:
Telkom University Buka Rekrutmen 9 Posisi Project Based di Jakarta