KETIK, SURABAYA – Kasus dugaan bully hingga hilangnya nyawa yang menimpa Z (10) di daerah Medokan Ayu, Surabaya menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. 

Sebagai langkah pencegahan tindakan bully, Pemkot Surabaya memperkuat upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah melalui pendidikan karakter, optimalisasi kegiatan positif serta peningkatan layanan konseling murid.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati mengatakan, perlindungan anak perlu dibangun melalui upaya pencegahan yang berkelanjutan, bukan penanganan ketika masalah muncul.

“Pencegahan harus dimulai dari keseharian anak di sekolah. Kami ingin membangun lingkungan yang membuat murid merasa aman, dihargai, dan nyaman untuk bercerita. Penguatan karakter, komunikasi terbuka, serta pendampingan dari guru dan orang tua menjadi bagian penting untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Febri.

Lanjutnya, pembentukan karakter menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Dispendik mendorong satuan pendidikan SD dan SMP, negeri maupun swasta untuk mengoptimalkan kegiatan positif terhadap perkembangan murid.

Baca Juga:
Cegah Perundungan di Sekolah, Dispendik Surabaya Perkuat Konseling dan Pendidikan Karakter

Febri juga memperkuat layanan bimbingan dan konseling, serta mendorong penyediaan Bilik Curhat sebagai ruang komunikasi yang aman bagi murid.

Fasilitas ini dapat digunakan untuk menyampaikan persoalan pertemanan, keluarga, pembelajaran maupun kondisi emosional tanpa rasa takut dihakimi.

"Anak yang datang untuk bercerita harus mendapatkan respons yang tepat, bukan dihakimi atau dibuat takut. Informasi yang disampaikan perlu dijaga kerahasiaannya dengan tetap mengutamakan keselamatan anak," kata Febri.

Apabila dikemudian hari, jelas Febri ditemukan indikasi kekerasan, sekolah harus memberikan pendampingan awal dan berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai kebutuhan.

Baca Juga:
Pemkot Surabaya Gelar Pasar Murah, Harga MinyaKita hingga Beras Premium di Bawah Harga Pasar

Dalam memperluas upaya pencegahan, Dispendik juga berkolaborasi dengan perangkat daerah (PD) terkait, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya. 

Salah satu bentuk edukasi lintas perangkat daerah tersebut adalah program Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH) untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai pergaulan sehat, pencegahan kekerasan, pengendalian emosi, serta keberanian mencari pertolongan.

Di tahun 2026, program DASH menyasar 1.213 titik sekolah SD dan SMP sederajat. Pelaksanaannya turut melibatkan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk memperkuat pendekatan psikologis, edukasi perlindungan anak, dan pemahaman mengenai mekanisme pelaporan.

“Keterlibatan orang tua juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembinaan. Orang tua didorong membangun komunikasi terbuka dengan anak, mendampingi aktivitas dan penggunaan gawai, serta menjalin kerja sama dengan guru. Dukungan masyarakat melalui RT/RW, kelurahan, dan lingkungan sekitar turut diperlukan untuk memastikan anak memiliki ruang pergaulan yang aman,” terangnya.

Komitmen membangun lingkungan pendidikan ramah anak juga tercermin dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak tahun ajaran 2026/2027.

Berdasarkan evaluasi Dispendik, pelaksanaan MPLS berlangsung kondusif dan hingga akhir kegiatan tidak terdapat laporan keluhan maupun pelanggaran prinsip MPLS Ramah Anak.

Ke depan, Dispendik Surabaya akan memperkuat akses layanan konseling dan ruang curhat, meningkatkan kapasitas guru serta tenaga kependidikan dalam mendeteksi dini perundungan dan kekerasan, serta memperluas keterlibatan orang tua dalam pembinaan karakter.

Pemantauan dan evaluasi juga diarahkan pada tindak lanjut laporan, jangkauan layanan pendampingan, dan efektivitas upaya pencegahan.

“Tujuan akhirnya adalah memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan memiliki keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Karena itu, penguatan karakter harus berjalan beriringan dengan pendampingan yang tepat dan kerja sama semua pihak agar kepentingan terbaik anak selalu menjadi prioritas,” pungkasnya. (*)