KETIK, JEMBER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember meluncurkan layanan Mobil Cinta untuk membantu warga kurang mampu yang telah selesai menjalani perawatan di rumah sakit dan membutuhkan kendaraan untuk kembali ke rumah.
Pemkab Jember meluncurkan layanan tersebut di Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung, Kamis, 8 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan dua tahun program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Jember.
Peluncuran Mobil Cinta juga menjadi bagian dari upaya memperluas informasi mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan Pemkab Jember terus memperkuat pelayanan dasar bagi masyarakat, termasuk memastikan akses kesehatan bagi warga.
"Kita sudah hampir 2 tahun memastikan seluruh warga Jember bisa berobat gratis di seluruh rumah sakit, di seluruh klinik, di seluruh kecamatan yang bekerja sama dengan BPJS. Termasuk kami bekerja sama dengan BPJS Kesehatan," kata dia.
Baca Juga:
1.828 Warga Jember Jadi Pekerja Migran, Lulusan SMK Didorong Masuk Pasar Kerja InternasionalMenurut Gus Fawait, jaminan pelayanan kesehatan gratis belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga kurang mampu. Setelah menjalani perawatan, sebagian pasien masih kesulitan membiayai perjalanan pulang, bahkan harus menyewa kendaraan jika tidak memiliki mobil.
Karena itu, Pemkab Jember menggandeng BPJS Kesehatan menghadirkan Mobil Cinta sebagai layanan transportasi bagi pasien kurang mampu yang sudah selesai mendapatkan perawatan.
"Kami meluncurkan bersama Direktur BPJS. Mobil Cinta akan memastikan seluruh warga yang tidak mampu, mendapatkan pelayanan antar ke rumah," tuturnya.
Sebanyak 38 unit Mobil Cinta telah diluncurkan. Untuk tahap awal, layanan tersebut tersedia bagi pasien yang telah mendapatkan pelayanan di tiga rumah sakit daerah, yakni RSD Kalisat, RSD dr. Soebandi Patrang, Jember, dan RSD Balung.
Baca Juga:
Pemkab Jember Luncurkan Mobil Cinta untuk Antar Pasien Tidak Mampu Pulang GratisGus Fawait mengatakan Pemkab Jember masih membatasi layanan Mobil Cinta pada tiga rumah sakit tersebut. Pemerintah daerah akan mengevaluasi pelaksanaannya sebelum memperluas layanan ke fasilitas kesehatan lainnya, termasuk puskesmas.
Ia menyadari Mobil Cinta merupakan kebijakan baru sehingga masih mungkin terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Karena itu, ia membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan masukan.
"Maka justru saya perlu masukan dari masyarakat lewat 'Wadul Gus E' atau secara langsung disampaikan kalau memang perlu perbaikan-perbaikan," ucapnya.
Berbeda dengan Ambulans
Gus Fawait menegaskan Mobil Cinta memiliki fungsi berbeda dengan ambulans. Jika ambulans digunakan untuk membawa atau menjemput pasien yang membutuhkan pertolongan medis, Mobil Cinta mengantarkan pasien yang telah selesai menjalani perawatan ke rumah.
"Ambulans itu menjemput yang sakit. Ini mengantar yang sudah sehat, yang sudah dirawat di rumah sakit," ucapnya.
Menurut Gus Fawait, sebagian warga yang sudah sembuh merasa kurang nyaman jika pulang menggunakan ambulans. Kehadiran ambulans di depan rumah juga dapat membuat tetangga khawatir karena mengira ada anggota keluarga yang sedang sakit.
"Mereka enggak mau. Kenapa? Takut kaget tetangganya, keluarganya. Dan memang ambulans tidak mengantar warga yang sehat," tegasnya.
Ia menilai kehadiran Mobil Cinta menjadi bagian dari upaya Pemkab Jember menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih berkeadilan, terutama bagi masyarakat kurang mampu.
"Membuat wong cilik tersenyum dan itu bisa diwujudkan, salah satunya ketika pelayanan dasar di sektor kesehatan bisa terpenuhi," ujarnya.
BPJS Kesehatan Apresiasi Inovasi Jember
Direktur Kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) RI Akmal Budi Yulianto mengapresiasi peluncuran Mobil Cinta yang merupakan hasil kolaborasi Pemkab Jember dengan BPJS Kesehatan.
Ia menilai inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi pemerintah daerah lain dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang berpihak kepada masyarakat.
"Kita lihat ini menjadi contoh, mungkin kepada bupati daerah lain seluruh wilayah Indonesia. Ini adalah inovasi wujud kolaborasi antara BPJS Kesehatan, dengan pemerintah kabupaten. Ini memang sesungguhnya terpotret dari sini (Pemkab Jember)," tuturnya.
Akmal mengatakan kemampuan setiap daerah untuk menerapkan program serupa tentu berbeda, terutama karena kondisi fiskal masing-masing pemerintah daerah tidak sama.
Menurutnya, inovasi Jember menunjukkan bahwa keterbatasan fiskal tidak selalu menjadi penghalang untuk menghadirkan program pelayanan publik yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
"Mungkin kalau kabupaten yang katakan fiskalnya kuat Ini mungkin wajar saja, tapi dengan kreativitas Pak Bupati ini ternyata bisa diwujudkan program-program yang memang pro rakyat," ujarnya.
Ia juga menyebut Jember telah menjalankan program UHC prioritas. Melalui program tersebut, masyarakat yang terdaftar sebagai peserta aktif JKN dapat mengakses layanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku. (*)