TMMD 128 Gresik! Penantian Empat Dekade, Hidupnya Nadi Ekonomi Rakyat hingga Gotong Royong yang Bangkit dari Desa Slempit

26 Mei 2026 12:29 26 Mei 2026 12:29

Fiqih Arfani

Wakil Pemimpin Redaksi
Thumbnail TMMD 128 Gresik! Penantian Empat Dekade, Hidupnya Nadi Ekonomi Rakyat hingga Gotong Royong yang Bangkit dari Desa Slempit

Warga dan prajurit TNI berjalan kaki dipematang sawah setelah seharian bekerja di lokasi TMMD ke-128 Gresik (Foto: ITH for Ketik.com)

KETIK, GRESIK – Pagi di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, tak lagi sama. Di antara suara kokok ayam dan deru sepeda motor petani yang hendak ke sawah, kini menyelinap denting sekop yang bercampur ritmis dengan putaran mesin molen. Inilah sebuah kisah nyata bagaimana Tentara Nasional Indonesia (TNI) membangun negeri mulai dari desa.

Embun masih menggantung tebal di pucuk daun ketika sejumlah prajurit TNI berseragam loreng memanggul sak-sak semen. Di samping mereka, para warga desa dengan sukarela mengulurkan tangan, memindahkan material demi material. Kesibukan ini bukan proyek konstruksi biasa, melainkan denyut nadi dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0817/Gresik.

Bagi desa seluas 724 hektare dengan populasi sekitar 7.661 jiwa ini, kehadiran TNI bak melepas dahaga panjang akan pembangunan. Inilah penantian selama empat dekade bahwa sejarah mencatat, kemanunggalan TNI di Desa Slempit bukanlah barang baru. 

Sekitar tahun 1980-an silam, TNI pernah menginjakkan kaki di sini melalui program Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ABRI Masuk Desa (AMD). Setelah lebih dari empat dekade berlalu, tepatnya Kamis, 22 April 2026, sejarah indah itu berulang kembali.

Sapari Wibowo (64), salah seorang tokoh masyarakat setempat, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ingatan masa mudanya berputar kembali saat melihat prajurit TNI kembali tinggal dan bekerja berdampingan dengan warga.

“Sudah empat puluhan tahun baru ada lagi seperti ini. Sampai dorek (alat) giling padi saja dibantu TNI, padahal tidak ada yang menyuruh mereka. Artinya, gotong royong yang mulai hilang, dengan sendirinya aktif kembali,” kata Sapari sambil tersenyum.

Foto Warga dan prajurit TNI bergotong royong membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) di TMMD ke-128 Gresik. (Foto: ITH for Ketik.com)Warga dan prajurit TNI bergotong royong membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) di TMMD ke-128 Gresik. (Foto: ITH for Ketik.com)

Mayoritas warga Desa Slempit menggantungkan hidup sebagai petani, pekerja pabrik di kawasan Gresik dan Mojokerto, serta pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kuliner olahan seperti tahu, kerupuk, dan kerajinan rumahan. Infrastruktur yang memadai adalah kunci utama urat nadi ekonomi mereka. Melalui TMMD ke-128, wajah desa ini dirombak secara signifikan melalui sejumlah sasaran fisik.

Jalan poros desa sepanjang 85 meter dan lebar 6 meter dengan tebal 10 centimeter, kini telah mulus dilapisi aspal baru. Jalur ini tak lagi licin dan berlubang, terlebih menjadi akses utama untuk hasil panen, anak sekolah hingga akses kesehatan .

Jalan Usaha Tani (JUT) di Dusun Lingsir, alat berat dan cangkul petani bersahutan mengecor jalan sepanjang 170 meter yang membelah pematang sawah. Ada juga pembangunan JUT sepanjang 143 meter, yang mana pembangunan JUT tersebut sukses melampaui target awal 139 meter dengan lebar 3,6 meter.

Sementara pengerasan jalan tani di Dusun Slempit sepanjang 95 meter lebar 4 meter, dapat menjawab rintangan yang selama ini petani hadapi setiap kali mendrop hasil bumi mereka dari belasan hektare sawah. Di tempat sama, juga dengan dibangun Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanjang 95 meter dengan tinggi 1,2 meter berdiri kokoh untuk meredam kecemasan warga setiap kali musim hujan tiba.

Aliran sungai sepanjang 111 meter berhasil dinormalisasi demi memastikan 15 hektare sawah warga tak kekeringan. Pencapaian ini bahkan sukses melampaui target awal perencanaan 110 meter. Tak sampai di situ, pekerjaan juga dilakukan dengan memasang plafon dan instalasi listrik Mushalla Hidayatulloh yang membuat syiar ibadah anak-anak mengaji menjadi lebih hidup.

Dampak nyata TMMD paling bergetar saat memasuki pekarangan rumah warga prasejahtera. Ada air mata Sumani, janda tua di Dusun Slempit, berkali-kali tertunduk lesuh dengan kulit keriput. Rumah rapuh berukuran enam meter yang dulu bocor di setiap sudutnya, kini telah berdiri tegak dan layak huni berkat sentuhan Satgas TMMD.

Perasaan serupa dirasakan Ibu Eka Irawati, Ibu Sri Cendani, Ibu Warni serta Pak Sumaun dan Pak Lulus. Enam Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) berhasil dirombak total. Di dinding-dinding batako yang baru ditegakkan itu, ada martabat hidup manusia ikut ditinggikan.

Tak hanya tempat tinggal, urusan ketahanan pangan dan sanitasi pun dituntaskan. Sumur bor sedalam 80 meter dibangun di Dusun Slempit lengkap dengan bak penampungan berkapasitas 5.000 liter dapat mengairi belasan hektare sawah dan menjadi satu-satunya air cadangan, apabila warga kekurangan air bersih. 

Kepala Desa Slempit, Suyitno, mengakui kedatangan TMMD melecut kembali roh gotong royong warga pabrik yang biasanya sibuk. "Warga saya banyak pekerja pabrik, tapi mereka tetap gotong royong bersama TNI. Saya lihat sendiri warga berdatangan membantu. Kedekatan TNI dan masyarakat itu terasa sekali. Gotong royong benar-benar kembali hidup," ungkap Suyitno terharu.

TMMD ke-128 di Desa Slempit meninggalkan jejak humanis mendalam. Selama program berlangsung, para prajurit TNI melebur dan tinggal di rumah-rumah warga. Mereka makan bersama, berkeluh kesah bersama hingga tak canggung memanggil pemilik rumah dengan sebutan Ibu.

Ikatan batin yang telanjur erat ini menyisakan keharuan luar biasa saat hari perpisahan tiba. Ani Suswati (53), seorang warga yang rumahnya menjadi tempat tinggal prajurit, tak kuasa menahan air mata saat melepas kepulangan "anak-anak asuhnya".

“Awalnya saya pikir TNI itu keras dan galak. Ternyata mereka baik sekali. Mereka selalu melarang saya bekerja terlalu berat. Mereka bilang, 'Ibu istirahat saja, biar kami yang kerjakan.' Saya sampai menganggap mereka seperti anak sendiri,” ucap Bu Ani lirih sembari menyeka pipinya.

Foto Rumah Ibu Sumani kinintelah layak huni usai direnovasi dalam program Rutilahu di TMMD ke-128 Gresik. (Foto: ITH for Ketik.com)Rumah Ibu Sumani kinintelah layak huni usai direnovasi dalam program Rutilahu di TMMD ke-128 Gresik. (Foto: ITH for Ketik.com)

Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Kohir, menegaskan bahwa ada tiga gol utama yang disasar dalam pelaksanaan TMMD ke-128 di Desa Slempit ini. "Pertama, percepatan pembangunan. Desa Slempit ini merupakan desa yang sudah lama belum tersentuh pembangunan dari pemerintah daerah. Gol kedua adalah memberikan dampak perekonomian. Taraf hidup ekonomi masyarakat ditingkatkan tak hanya lewat fisik, tapi juga kegiatan nonfisik seperti penyuluhan dan peningkatan kemampuan UMKM bersama dinas terkait," urai jenderal bintang satu tersebut.

Sebuah kalimat penutup Danrem Brigjen TNI Kohir di suasana isak tangis di Desa Slempit, gol ketiganya, yakni kebersamaan prajurit TNI dan masyarakat di TMMD ke-128. Mereka saling tukar cerita, makan bersama hingga kerja bersama. Itu semua adalah bibit rasa kekeluargaan.

“Anggota tidur di sana, kerja sama-sama, akhirnya terbangunlah kemanunggalan TNI dan itu semua sudah terwujud,” tutur Brigjen TNI Kohir.

Komandan Kodim (Dandim) 0817/Gresik, Letkol Inf Fadly Subur Karamaha turut bersuara, bahwa TMMD ke-128 Gresik telah meninggalkan warisan yang abadi, mulai dari jalan yang tak lagi becek, rumah tak lagi bocor, sawah kembali teraliri.

“Ini suatu pembuktian, gotong royong bukanlah slogan usang di atas kertas, tetapi sebagai denyut nadi nyata dalam TMMD ke-128 Gresik, membangun negeri dari desa,” kata Dandim Letkol Inf Fadly.

Sementara itu, Tim Wasev Brigjen TNI M. Herry Subagyo saat terjun langsung ke lokasi pembangunan fisik TMMD ke-128 Gresik di Desa Slempit, mengatakan secara umum ia menilai semuanya telah berjalan dengan maksimal. Ia berharap dengan adanya TMMD ini dapat mempercepat pembangunan ekonomi di Desa Slempit. 

"Sebagian warga pekerja pabrik, namun ada inovasi yang dilakukan sehingga gotong royong tetap berjalan. Saya kira ini menggambar kemanunggalan TNI dan rakyat di Desa Slempit, " kata Brigjen TNI M. Herry Subagyo.

TMMD ke-128 di Desa Slempit telah usai secara seremonial, ditutup Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Brigjen TNI Kohir telah meninggalkan jejak pembangunan hasil gotong royong prajurit TNI dan Masyarakat. Ini sebagai bukti nyata bahwa kemanunggalan TNI dan Rakyat tak tergoyahkan, karena TNI dari rakyat dan untuk rakyat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Tmmd 128 Gresik Gotong royong Desa Slempit Danrem 084 Bj Kabupaten Gresik info Gresik berita Gresik