KETIK, JEMBER – Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) turut memeriahkan hari kedua rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026. Program yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Asosiasi Karnaval Indonesia itu menghadirkan parade busana yang mengangkat kekayaan budaya dan wastra dari berbagai daerah di Tanah Air.
Direktur Program dan Pengembangan JFC, David K. Susilo, mengatakan kehadiran WACI menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Indonesia melalui karya busana tradisional yang dikemas secara kreatif di panggung karnaval.
"Kita menekankan kebudayaan asli daerah khususnya pada fashion-fashion daerah. Mulai dari ulos, tenun, aksesori-aksesori yang memang berkembang dari yang ada di Nusantara," katanya saat ditemui, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurut David, fokus utama WACI pada JFC 2026 adalah memperkenalkan Wastra Nusantara, mulai dari kain tradisional, tenun, hingga berbagai atribut budaya yang menjadi ciri khas setiap daerah di Indonesia.
"Dari Aceh sampai Papua. Itu adalah bagian tidak terpisahkan dalam membangun kaitannya promosi budaya Indonesia," tuturnya.
Baca Juga:
JFC 2026 Hadirkan Red Carpet Perdana, Talent Diposisikan Layaknya Bintang di Atas Karpet Merah
Ia menjelaskan, jumlah kontingen yang berpartisipasi dalam WACI tahun ini menjadi yang terbanyak dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Berbagai daerah mengirimkan wakil terbaik untuk menampilkan busana khas dan identitas budayanya di panggung JFC.
Baca Juga:
JFC 2026 Diyakini Dongkrak Ekonomi Jember, Gus Fawait Targetkan Angka Kemiskinan Terus Turun"Kalimantan Timur ya, diwakili Balikpapan. Kalimantan Tengah diwakili Kotawaringin Barat. Jawa Tengah diwakili Semarang. Jawa Timur aja sembilan kota, tapi dibagi menjadi dua bagian. Ada Agropolitan, ada Jatim Empire. Bali, Mataram ada dari Mandalika, terus dibagi satunya ada dari masyarakat adat NTB," ujarnya.
David menambahkan, setiap kontingen tidak hanya menampilkan kostum, tetapi juga membawa misi memperkenalkan warisan budaya daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
"Yang sekarang ini mau tidak mau harus kita lestarikan, harus kita wariskan kepada anak-anak muda kita, seperti itu," ucapnya.
Menurutnya, pelestarian budaya melalui karnaval menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga eksistensi wastra Nusantara di tengah perkembangan industri fesyen modern. Melalui WACI, masyarakat dapat melihat kekayaan budaya Indonesia yang dikemas secara lebih atraktif dan relevan dengan perkembangan zaman.
David juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan JFC tahun depan direncanakan akan memberi porsi yang lebih besar bagi busana adat dari berbagai daerah di Indonesia.
"Sehingga itu akan mengenalkan bagaimana fashion di Waci itu. Mengutamakan terkait dengan wastra atau pakaian adat-adat yang ada di Nusantara. Kira-kira seperti itu tahun depan," tegasnya.
Dengan semakin banyaknya daerah yang terlibat, WACI diharapkan terus menjadi etalase promosi budaya Indonesia sekaligus memperkuat posisi JFC sebagai ajang karnaval bertaraf internasional yang tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga mengangkat keberagaman budaya Nusantara. (*)