Dua rapor merah kontingen Trenggalek pada pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim jelas menjadi sebuah tamparan sekaligus menjadi alarm akan kemajuan olahraga Trenggalek kedepannya.
Paling tidak, ada pekerjaan besar yang harus dituntaskan oleh kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat. Minimal bisa keluar dari zona merah dalam perolehan medali.
Kepengurusan baru KONI yang dikomandani Doding Rahmadi terus mencari formula terbaik agar bisa mendongkrak nama Trenggalek di tingkat regional.
Paling gres adalah merancang pemusatan latihan jangka panjang para atlet yang yang di Porprov sebelumnya mendapat medali. Tak hanya sekedar mempertahankan capaiannya, namun jika perlu menambah pundi-pundi medali.
Pemusatan latihan jangka panjang tersebut tentu akan menjadi warna baru sekaligus menjadi jawaban keraguan publik akan keseriusan KONI dalam mengemban amanah memajukan olahraga di Trenggalek. Tak terkecuali mencetak atlet-atlet handal yang tidak hanya membela Trenggalek, tapi juga membela Jatim dan Indonesia.
Baca Juga:
Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari IntervensiLangkah berani ini memang perlu diapresiasi, meskipun belum bisa menjadi jaminan mutlak, karena tidak menutup kemungkinan kabupaten lain pun juga akan melakukan hal yang sama.
Tinggal bagaimana nantinya para elit KONI bisa mengimplementasikan dan menterjemahkan program yang dimaksud. Mulai dari konsistensi atlet, pelatih atau jajaran lain yang terlibat dalam program tersebut.
Seberapa besar peluang Trenggalek keluar dari zona merah atau juru kunci?
Jika bicara soal peluang, tentu saja sangat terbuka lebar. Apalagi atlet-atlet yang terjaring dalam pemusatan latihan merupakan tulang panggung Trenggalek pada Porprov 2025.
Baca Juga:
Gravissimum Educationis IndonesiaPendeknya, mereka tetap setia membela daerahnya. Tak bisa dibohongi godaan-godaan menggiurkan tentu saja ada. Ini semakin mempertegas jika rasa ingin membuat perubahan capaian pada Porprov cukup besar.
Dengan bertahannya atlet-atlet andal Trenggalek, akan lebih memberi ruang untuk meningkatkan capaian di event dua tahunan tersebut. Apalagi ada uang tambahan untuk latihan, baik untuk atlet dan pelatih.
Ini bisa menjadi motivasi ganda untuk menunjukan kemampuan yang sebenarnya. Tentu dengan menambah pundi-pundi medali.
Sangat mungkin Cabang Olahraga (Cabor) andalan tidak hanya sekedar mempertahankan perolehan medali tapi diharapkan bisa menambah medali. Sebut saja pencak silat, panahan, catur, dan senam.
Belum lagi Cabor-cabor lain yang juga menargetkan medali emas, seperti judo dan gantole. Atau mungkin Cabor lain membuat kejutan.
Perlu adanya team work dalam memantau pemusatan latihan
Setelah para atlet menyatakan kesiapannya membela Trenggalek, kini tinggal bagaimana para elit KONI memetakan peluang tersebut. Mulai menginventarisir perkembangan atlet selama pemusatan latihan, membentuk tim khusus untuk memantau langsung progres-progres yang dicapai.
Nah, tentu ini diperlukan kesamaan visi yang tertuang dalam team work. Karena, dalam kurun waktu yang cukup lama tersebut tentu harus ada catatan-catatan penting yang menjadi atensi.
Salah satunya bagaimana mempertahankan kebugaran atlet hingga pelaksanaan Porprov. Pun demikian dengan menjaga atlet untuk tidak mengalami cedera.
Ini bukan perkara mudah. Perlu daya jelajah dan proyeksi yang jelas agar program ini tidak hanya sekedar program yang dicanangkan, tapi lebih pada sebuah perubahan. Masyarakat Trenggalek tentu tak ingin terjerembab untuk kali ketiga di dasar klasemen Porprov. Trenggalek gudangnya atlet bung!
Selain itu, tim perancang tidak hanya fokus pada pemusatan latihan saja. Perkembangan dan progres kabupaten pesaing juga harus menjadi atensi. Paling tidak sudah ada kerangka tim bayangan yang bisa mengimbangi. Syukur-syukur bisa melebihi.
Proyeksi Cabor pendulang tambahan medali harus dipetakan
Membaca peluang tidak hanya sekedar diatas kertas, namun perlu adanya aksi nyata dan berani mengambil keputusan. Artinya, harus ada kejelasan Cabor-cabor mana yang dianggap bisa menambah pundi-pundi medali atau melebihi target pada perolehan Porprov sebelumnya. Sehingga perlu strategi khusus untuk merealisasinya.
Sebut saja pencak silat, senam, catur, dan panahan yang menjadi atensi penambahan medali, maka harus ada tim khusus yang benar-benar bisa memahami akan program yang dimasukkan cabor.
Apakah event-event yang akan diikuti, penambahan sarana dan prasarana, ataupun try out. Ini sangat membantu dalam mengoptimalkan capaian, termasuk mendongkrak Trenggalek keluar dari zona merah atau juru kunci, semoga.
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)