KETIK, MALANG – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) terus memperkuat kesiapan calon guru menghadapi era digital.
Melalui pelatihan bertajuk "Membangun Kompetensi Guru Masa Depan Melalui Pembelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI)", mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dibekali kemampuan teknologi sekaligus pemahaman etika dalam memanfaatkan kecerdasan buatan.
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan IBLU Academy tersebut dibuka langsung oleh Kaprodi PPG Unikama Dr. Dyah Tri Wahyuningtyas, S.Si., M.Pd., bersama Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Unikama mencetak guru masa depan yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mengintegrasikannya secara tepat dalam proses pembelajaran.
Dalam sambutannya, Kaprodi PPG menegaskan bahwa penguasaan coding dan Artificial Intelligence kini telah menjadi kompetensi penting bagi pendidik di tengah pesatnya transformasi digital.
Baca Juga:
Mau Kuliah di Malang? Ini Daftar 10 Universitas Terbaik Versi EduRank 2026"Kegiatan coding dan kecerdasan artifisial ini bukan sekadar keterampilan teknis saja, melainkan sarana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir komputasional, pemecahan masalah, inovasi, serta etika dalam memanfaatkan teknologi," ujar Kaprodi PPG Unikama, Dr. Dyah Tri Wahyuningtyas.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya membangun karakter dan tanggung jawab dalam penggunaan AI. Sebab, kecerdasan buatan dinilai mampu membantu proses belajar mengajar, namun tetap harus digunakan sesuai koridor etika.
Perwakilan IBLU Academy, Hadis, mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi mengenalkan AI kepada peserta didik, melainkan memastikan penggunaannya dilakukan secara bertanggung jawab.
"Sayangnya sekarang praktik yang menerobos etik dalam penggunaan AI itu sudah menjadi hal yang biasa. Tanggung jawab kita bukan sekadar membuat siswa bisa memakai AI, tapi bagaimana agar tools ini bisa dipakai dengan bijak dan dipahami koridor-koridor etiknya," terangnya.
Baca Juga:
Yusril: Pemerintah Tak Tempuh Jalur Pidana, Cegah Penyebaran LGBTQ sebagai Ancaman NonmiliterMelalui materi coding, mahasiswa PPG dilatih berpikir logis, sistematis, dan mampu menyelesaikan persoalan secara terstruktur. Sementara pembelajaran AI diarahkan agar calon guru dapat memanfaatkan teknologi untuk mendukung kreativitas, menyusun pembelajaran yang lebih personal, hingga meningkatkan kualitas proses belajar di kelas.
Dekan FIP Unikama, Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd., mengibaratkan proses membentuk guru profesional layaknya meracik sebuah hidangan yang membutuhkan bahan terbaik dan proses yang matang.
"Membangun kompetensi guru masa depan itu tidak gampang. Ibarat membuat kue, ramuannya harus lengkap dan bahannya juga harus jelas. Kesiapan anda di dalam berproses belajar itu sangat kami butuhkan," terangnya.
Menurutnya, kecanggihan teknologi tidak boleh membuat calon guru mengabaikan proses belajar. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada kebiasaan menggunakan AI secara instan, seperti menyalin tugas tanpa memahami substansi maupun data lapangan yang sebenarnya.
Melalui kolaborasi bersama IBLU Academy yang dipimpin oleh Hadis beserta tim, Unikama berharap pelatihan coding dan Artificial Intelligence ini mampu melahirkan generasi pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki kompetensi digital yang kuat, sekaligus menjunjung tinggi etika dalam setiap proses pembelajaran. (*)