KETIK, PACITAN – Praktisi pengobatan alternatif di Kabupaten Pacitan, Heru Suranto atau yang akrab disapa Heru Bakso, kerap didatangi warga yang ingin sembuh dari berbagai keluhan penyakit.

Di rumahnya yang berada di RT 2 RW 1 Lingkungan Gantung Kulon, Kelurahan Pacitan, Kecamatan Pacitan, pria berusia 59 tahun itu telah membuka praktik pengobatan alternatif selama enam tahun terakhir.

Berbekal pengalaman belajar akupuntur selama satu setengah tahun di Yogyakarta, Heru melayani berbagai keluhan kesehatan masyarakat dengan memadukan terapi pijat saraf, herbal hingga metode tradisional menggunakan alat sederhana.

Heru mengatakan kemampuan tersebut dipelajarinya secara langsung dari seorang ahli akupuntur saat berada di Yogyakarta.

Selama belajar, ia mengikuti sekaligus membantu praktik pengobatan yang dijalankan gurunya.

Baca Juga:
Alun-alun Pacitan Padat Selama Porseni, Pedagang Akui Omzet Melonjak

“Saya belajar di Jogja sekitar satu setengah tahun ikut seorang ahli akupuntur di sana,” ujarnya kepada Ketik.com di rumah praktiknya, Rabu, 20 Mei 2026.

Salah satu metode terapi yang menarik perhatian adalah penggunaan tanduk kerbau sebagai alat pijat saraf pasien.

Menurut Heru, tanduk kerbau dipilih karena dianggap lebih aman digunakan dibandingkan bahan lain seperti bambu maupun kayu.

“Ini hanya alat pijat ya bukan jimat, kenapa saya pakai tanduk, ya karena lebih aman ketimbang bambu atau kayu,” ucapnya.

Baca Juga:
Pascalongsor, Akses Ponorogo–Pacitan via Jembatan Plapar Kembali Dibuka Terbatas

Dalam praktik sehari-hari, titik pijatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis keluhan pasien.

Proses terapi pijat saraf oleh Heru menggunakan tanduk kerbau kepada pasien, Rojihan di rumah praktiknya di Lingkungan Gantung Kulon, Pacitan, Rabu, 20 Mei 2026.

Saat menangani pasien sakit gigi misalnya, Heru memulai terapi dengan memijat bagian jempol kaki menggunakan tanduk kerbau.

Bagian tersebut dipercaya berkaitan dengan saraf tertentu yang terhubung dengan keluhan sakit gigi.

“Kalau sakit gigi, yang dipijat jempol kaki dan leher,” katanya saat menangani pasien.

Setelah pemijatan di area kaki selesai, terapi dilanjutkan pada bagian leher untuk membantu meredakan rasa nyeri dan memperlancar saraf.

Usai menjalani pemijatan, pasien kemudian diminta berkumur dan meminum air elektrik yang telah disiapkan sebagai bagian dari terapi.

Tahap akhir pengobatan dilakukan dengan menaruh kapas yang telah diberi obat tetes sakit gigi cap burung kakak tua pada bagian gigi yang terasa sakit.

Heru menyebut sebagian besar penyakit dapat ditanganinya, namun pasien dengan keluhan sakit gigi dan sakit perut menjadi yang paling sering datang ke tempat praktiknya.

“Insyaallah semua penyakit bisa saya obati, hanya soal waktu saja yang membedakan,” katanya.

Meski telah membuka praktik selama bertahun-tahun, Heru mengaku tidak pernah memasang tarif khusus bagi masyarakat yang datang berobat.

“Seikhlasnya saja,” ujarnya.

Salah satu pasien yang datang berobat adalah Rojihan, warga Kecamatan Tulakan.

Ia mengaku mengalami sakit gigi yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Usai menjalani terapi, Rojihan mengaku rasa sakit pada giginya mulai berkurang.

“Setelah dipijat terasa lebih ringan dan sakitnya mulai reda,” ungkapnya.

Praktik pengobatan tradisional yang dijalankan Heru hingga kini masih menjadi alternatif bagi sebagian warga Pacitan yang ingin mencoba metode terapi nonmedis untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan sehari-hari.(*)