KETIK, JAKARTA – Meningkatnya jumlah hewan kurban pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah dinilai menjadi salah satu indikator membaiknya kondisi perekonomian nasional.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyebut tingginya partisipasi masyarakat dalam berkurban mencerminkan daya beli dan kondisi ekonomi yang semakin menguat.

Perayaan Hari Raya Iduladha yang berlangsung Rabu, 27 Mei 2026, turut diwarnai peningkatan jumlah pemotongan hewan kurban di berbagai daerah, termasuk di lingkungan Kementerian Pertanian.

Wakil Menteri Pertanian yang juga Ketua Umum DPN HKTI, Sudaryono, mengatakan tren peningkatan jumlah ternak kurban menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Inshaa Allah negara kita dalam keadaan baik-baik, pertumbuhan juga baik. Kita bisa lihat partisipasi kurban yang besar,” ujar Sudaryono saat pelaksanaan kurban di Masjid Nurul Iman Kementerian Pertanian.

Baca Juga:
Pengamat Hukum Kurnia Saleh Nilai Narasi Kritik terhadap Satgas PKH Berpotensi Bangun Distrust Publik

Di lingkungan Kementerian Pertanian sendiri, jumlah hewan kurban tahun ini meningkat tajam menjadi 49 ekor, terdiri dari 41 sapi dan 8 kambing.

Angka tersebut melonjak dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada 2024 tercatat hanya 2 sapi dan 15 kambing, sementara pada 2025 meningkat menjadi 9 sapi dan 10 kambing.

Secara nasional, data iSIKHNAS menunjukkan jumlah pemotongan hewan kurban pada 2025 mencapai 2.268.764 ekor atau naik 11,5 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebanyak 2.033.995 ekor.

HKTI menilai peningkatan tersebut bukan hanya mencerminkan tingginya semangat ibadah masyarakat, tetapi juga menunjukkan kondisi ekonomi rumah tangga yang mulai membaik pascapandemi dan tekanan global.

Baca Juga:
Pedagang di Surabaya Ungkap Nasib Kambing dan Sapi Kurban yang Tak Laku Terjual saat Iduladha

Selain itu, sektor peternakan juga dinilai ikut mendapatkan dampak positif dari meningkatnya kebutuhan hewan kurban setiap tahun.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, ketersediaan hewan kurban nasional tahun ini mencapai sekitar 3,2 juta ekor, sementara kebutuhan diproyeksikan sekitar 2,4 juta ekor. Dengan demikian, masih terdapat surplus sekitar 800 ribu ekor.

Sudaryono mengatakan kondisi tersebut menunjukkan sektor peternakan nasional mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan.

“Ini artinya Allah SWT telah memberikan rezeki dan rahmat-Nya. Ketika di dunia ada konflik, tapi negara kita dalam keadaan aman-aman saja,” katanya.

HKTI juga menyoroti meningkatnya kebutuhan kambing untuk Dam Haji yang dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi peternak lokal.

Tahun 2026 menjadi tahun kedua pelaksanaan Dam Haji di Indonesia dengan kebutuhan diperkirakan mencapai 32.691 ekor kambing, meningkat dibanding tahun sebelumnya sekitar 10 ribu ekor.

Menurut HKTI, tren peningkatan kebutuhan hewan kurban dan Dam Haji akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi peternak di berbagai daerah.

Sementara itu, pemerintah memastikan pelaksanaan kurban tetap memperhatikan aspek kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan, dan kehalalan.

Sebanyak 8.633 personel tim pemantau diterjunkan untuk melakukan pengawasan di berbagai daerah.

Ketua DKM Masjid Nurul Iman Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan peningkatan jumlah hewan kurban tahun ini juga didukung kontribusi dari berbagai pihak, termasuk HKTI.

“Total kurban dari HKTI sebanyak 15 ekor sapi, sedangkan yang lain dari beberapa pejabat dan pegawai Kementerian Pertanian,” ujarnya.(*)