KETIK, MALANG – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat meninjau langsung pelaksanaan program RT Berkelas di RW 6 Kelurahan Arjowinangun. Sebanyak empat RT di wilayah perumahan Puri Cempaka Putih tersebut kini berhasil memanen lele dan sayur hidroponik.
Wahyu mengapresiasi kolaborasi warga dalam memutar roda perekonomian lokal. Mereka memanfaatkan lahan perumahan untuk menanam sayur hidroponik hingga budidaya ikan dalam ember maupun kolam terpal.
"Mereka sepakat untuk merealisasikan RT Berkelas. Karena ini di kawasan perumahan, satu RW dengan empat RT ini sepakat akan merealisasikan program yang sebetulnya sudah direncanakan. Dengan RT Berkelas akhirnya warga ini bisa merealisasikan lebih cepat," ujarnya, Kamis, 8 Oktober 2026.
Setelah 28 hari masa tanam, Wahyu turut memanen sayur hidroponik bersama warga. Hasil panen tersebut biasa dijual kepada masyarakat sekitar.
"Hidroponik ini luar biasa juga, tadi saya memanen, itu hanya 28 hari. Ini juga sudah menjadi satu produk yang dipesan oleh orang yang datang ke sini. Ada pakcoy, selada keriting, dan kolam terpal untuk ikan lele dan nila," katanya.
Baca Juga:
Mahasiswi UM Hampir Jadi Korban Pelecehan Seksual, Kampus Ungkap Masih Jalani Pemeriksaan Satgas PPK UMSebelumnya, warga telah mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM. Dari pelatihan tersebut masyarakat mulai memproduksi produk UMKM dari bahan yang ada di lingkungan sekitar.
"Ini juga tadi pemasarannya juga di sekolah-sekolah selalu meminta produk UMKM yang ada di perumahan Puri Cempaka Putih ini," ungkapnya.
Ketua RW 6 Arjowinangun, Agung Hari Prastyono, mengakui program RT Berkelas sangat bermanfaat. Warga kini dapat merealisasikan program pembinaan serta pelatihan budidaya ikan.
"Dengan adanya RT Berkelas ternyata kita bisa memanfaatkan program pembinaan dan pelatihan budidaya ikan. Kita mendapatkan tiga kolam dan juga bibitnya juga. Ini untuk pengembangan SDM kita dan peningkatan ekonomi," katanya.
Baca Juga:
116 Kebakaran Terjadi di Kota Malang, Kerugian Tembus Rp2,16 MiliarSelain dijual ke warga setempat dan pedagang keliling (mlijo), hasil penjualan diputar kembali sebagai modal pembelian bibit serta kas kelompok tani.
"Ini kelompok tani langsung empat RT jadi satu kelompok. Kemarin panen ikan lele hampir 50 kilo setelah tebar 1.000 bibit dari bantuan saat pelatihan. Waktu dijual Rp26.000 per kilogram. Nah sekarang ini kita bibit untuk ikan nila," pungkasnya. (*)