KETIK, ACEH BARAT DAYA – Langit di atas Markas Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (17/7/2026), seolah ikut menjadi saksi sebuah akhir perjalanan yang tak mudah dilupakan. Di balik prosesi resmi pisah sambut Kapolres, tersimpan kisah tentang pengabdian, persaudaraan, dan perpisahan yang membuat banyak mata tak kuasa menahan air mata.
Karpet merah yang terbentang menuju gerbang keluar Mapolres bukan sekadar jalur kehormatan. Di sanalah setiap langkah AKBP Agus Sulistianto, SH, SIK terasa begitu berat.
Lebih dari dua tahun markas itu menjadi rumah pengabdian. Di tempat itu ia memimpin, menegakkan hukum, menghadapi berbagai persoalan keamanan, berbagi suka dan duka bersama ratusan personel, sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat Abdya.
Prosesi pedang pora yang mengiringi langkahnya menuju pintu keluar menjadi simbol berakhirnya satu babak perjalanan. Di kanan dan kiri, para perwira berdiri tegak memberikan penghormatan. Tepuk tangan mengiringi setiap langkah, tetapi tak mampu menyembunyikan kesedihan yang tergambar jelas di wajah para personel.
Baca Juga:
Mengenal AKBP Ade Gita Rachmadi, Sosok Kapolres Abdya yang Miliki Pengalaman di PPATKSesekali terdengar isak lirih. Beberapa anggota menundukkan kepala, sebagian lainnya mematung sambil mengusap air mata. Senyum yang mereka paksakan tak mampu menutupi rasa kehilangan terhadap sosok pemimpin yang selama ini mereka hormati.
Puncak haru itu pecah ketika AKBP Agus Sulistianto sendiri tak lagi mampu membendung air mata. Tangisnya mengalir di pelataran jalan keluar Mapolres, seolah menjadi bahasa yang tak lagi membutuhkan kata-kata.
Air mata itu bukan tentang jabatan yang ditinggalkan. Bukan pula tentang perpindahan tugas menuju amanah baru sebagai Kapolres Aceh Barat. Air mata itu adalah ungkapan hati seorang pemimpin yang harus berpisah dengan keluarga besarnya di Polres Abdya.
Suasana hening seketika menyelimuti halaman Mapolres. Tamu undangan, masyarakat, hingga para jurnalis yang selama ini mengikuti perjalanan kepemimpinannya ikut larut dalam suasana. Banyak yang mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen itu, namun lebih banyak lagi yang memilih menyimpannya dalam ingatan sebagai kenangan yang tak akan mudah pudar.
Baca Juga:
Patroli Malam URC Satreskrim Polres Abdya Perkuat Pencegahan Kejahatan 3CBagi sebagian orang, itu mungkin hanya prosesi pergantian pimpinan. Namun bagi mereka yang pernah bekerja, berjuang, dan tumbuh bersama AKBP Agus, hari itu adalah perpisahan dengan seorang pemimpin yang telah meninggalkan jejak di hati banyak orang.
Salah seorang wartawan, Azimi, mengaku momen tersebut menjadi salah satu perpisahan paling mengharukan yang pernah ia liput sepanjang menjadi jurnalis.
"Saya sudah beberapa kali meliput pisah sambut pejabat, tetapi kali ini terasa sangat berbeda. Saat melihat Pak Agus menangis, saya juga tidak mampu membendung air mata. Itu bukan tangisan karena jabatan, melainkan karena ikatan batin yang begitu kuat dengan anggota dan masyarakat," tutur Fitria.
Menurutnya, selama bertugas di Abdya, AKBP Agus dikenal sebagai sosok yang terbuka kepada insan pers, mudah diajak berkomunikasi, dan menghargai kerja-kerja jurnalistik.
"Kami sebagai wartawan merasakan beliau sangat terbuka, mudah berkomunikasi, dan menghargai kerja-kerja jurnalistik. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kesuksesan di tempat tugas yang baru," ucapnya.
Kesan serupa juga disampaikan Syahrial, seorang pengusaha sekaligus tokoh masyarakat Abdya. Baginya, kehadiran AKBP Agus bukan sekadar menjalankan tugas sebagai Kapolres, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kedekatan dengan masyarakat.
"Beliau bukan hanya pemimpin kepolisian, tetapi sahabat masyarakat. Beliau mudah ditemui, mau mendengar keluhan warga, dan selalu mengedepankan pendekatan yang humanis. Wajar jika hari ini banyak orang merasa kehilangan. Kami mendoakan semoga Pak Agus semakin sukses di tempat tugas yang baru," kata Syahrial.
Di tengah suasana haru, Maman Abdurrahman, personel Satlantas Polres Abdya, mengaku perpisahan itu menjadi salah satu momen paling emosional selama dirinya berdinas.
"Beliau bukan hanya atasan bagi kami, tetapi juga sosok bapak yang selalu memberikan motivasi. Setiap arahan beliau membuat kami semangat bekerja. Ketika melihat beliau menangis, kami sadar bahwa hubungan yang terbangun selama ini bukan sekadar hubungan pimpinan dan bawahan, tetapi sudah seperti keluarga. Kami akan selalu merindukan beliau," ungkap Maman dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Bupati Abdya, Dr. Safaruddin, menyampaikan apresiasi atas dedikasi AKBP Agus selama memimpin Polres Abdya. Menurutnya, sinergi yang terbangun antara pemerintah daerah, kepolisian, dan masyarakat telah memberikan kontribusi besar bagi terciptanya keamanan dan ketertiban di daerah.
"Selamat bertugas di tempat yang baru untuk Pak Agus. Semoga Pak Agus beserta keluarga selalu mengingat kebersamaan dan kehangatan masyarakat Abdya. Terima kasih atas pengabdian dan kerja sama yang luar biasa selama memimpin Polres Abdya," ujar Safaruddin.
Sebelum menaiki kendaraan yang akan membawanya meninggalkan Polres Abdya, AKBP Agus Sulistianto melakukan sujud syukur di pelataran markas. Dalam diam, sujud itu seolah menjadi ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas amanah yang telah ia jalankan, sekaligus salam perpisahan kepada tempat yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Bagi institusi Polri, pergantian pimpinan adalah hal yang lumrah. Regenerasi merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun tidak semua perpisahan meninggalkan kesan yang sama.
Di gerbang Polres Abdya sore itu, tak banyak kata yang terucap. Air mata telah menggantikan semuanya. Ia menjadi saksi bahwa pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan akan selalu meninggalkan jejak di hati orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Ketika kendaraan perlahan meninggalkan halaman Mapolres, lambaian tangan para personel menjadi salam terakhir. Sementara di belakangnya, gerbang Polres Abdya tetap berdiri kokoh, menyimpan satu kisah tentang AKBP Agus Sulistianto—seorang pemimpin yang datang untuk mengabdi, lalu pergi meninggalkan kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan banyak orang.
Sebab, jabatan memang memiliki batas waktu. Namun ketulusan, kepedulian, dan jejak pengabdian akan selalu menemukan tempatnya di hati mereka yang pernah merasakannya. (*)